bukamata.id – Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jebo resmi menutup pembekalan calon guru Sekolah Rakyat pada Jumat (12/7/2025), sekaligus meninjau langsung kesiapan pembukaan Sekolah Rakyat yang berlokasi di Poltekesos Bandung, di Jl Ir H Juanda No 367, Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.
Pembekalan calon guru dimulai sejak 10 Juli secara daring melalui Zoom dan dibuka langsung oleh Menteri Sosial. Kegiatan tersebut diikuti oleh 1.569 peserta dari seluruh Indonesia dan berlangsung selama tiga hari.
Bekal Guru: Dari Kurikulum hingga Pendidikan Karakter
Dalam sambutannya, Wamensos Agus Jebo menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap konsep Sekolah Rakyat, yang ditujukan untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
“Materi yang dijadikan pembekalan ada mulai dari kurikulum, orientasi Sekolah Rakyat, pendidikan inklusi-yang ramah anak, ramah HAM, termasuk talent mapping,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya empati guru, mengingat sistem asrama yang memisahkan siswa dari orang tua mereka. “Hal terpenting dari pembekalan ini, karena ini Sekolah Rakyat—yang diperuntukkan bagi saudara-saudara kita yang keluarganya miskin dan miskin extreme, di pembekalan ini kita meminta supaya guru-guru ini punya empati terhadap siswa,” tambahnya.
Selain pendidikan akademis, Sekolah Rakyat juga menanamkan karakter kebangsaan, keagamaan, dan sosial. Sejalan dengan arahan Presiden, siswa juga dibekali keterampilan agar siap bekerja selepas SMA jika tidak langsung melanjutkan ke perguruan tinggi.
Tinjau Kesiapan Sekolah Rakyat di Poltekesos
Usai penutupan pembekalan, Wamensos didampingi Pusdiklat dan Direktur Poltekesos melakukan pengecekan langsung ke lokasi Sekolah Rakyat yang akan mulai beroperasi pada Senin (14/7/2025).
Sekolah Rakyat di Poltekesos akan menampung 100 siswa angkatan pertama—52 laki-laki dan 48 perempuan. Mereka akan menjalani pemeriksaan kesehatan selama dua hari sebelum memulai proses belajar mengajar.
“Kita sudah cek dari mulai kelasnya, asramanya, terus kemudian laboratoriumnya, dapurnya, tempat makannya, tempat tidurnya, semuanya aman,” jelas Agus Jebo.
“Kebutuhan proses belajar mengajar di kelas, kebutuhan untuk di asrama, termasuk kebutuhan-kebutuhan pribadi itu sudah kita siapkan dan besok semua sudah aman supaya nanti senin bisa dimulai,” lanjutnya.
Terkait konsumsi, Kementerian Sosial akan bekerja sama dengan Badan Gizi ke depannya, namun untuk tahap awal penyediaan makanan dilakukan melalui sistem katering.
Sasaran Tepat Berdasarkan Data DTSEN
Seleksi siswa Sekolah Rakyat dilakukan berbasis data dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Anak-anak yang diterima dipastikan berasal dari keluarga miskin atau miskin ekstrem.
Pengecekan dilakukan secara menyeluruh oleh Kemensos, BPS, serta Dinas Sosial tingkat kabupaten/kota. Hasil assessment kemudian ditandatangani kepala daerah setempat dan diserahkan ke Kementerian Sosial.
Kurikulum Fleksibel dan Adaptif
Agus Jebo juga memaparkan sistem kurikulum Sekolah Rakyat yang dirancang oleh Dikdasmen, mengusung pendekatan Multi Entry dan Multi Exit. Sistem ini memungkinkan siswa menyelesaikan pendidikan sesuai kecepatan belajar masing-masing.
“Kalau siswa SD bisa selesaikan kurikulum dalam 4 tahun, mereka bisa lulus tanpa harus menunggu 6 tahun. Begitu juga siswa pindahan bisa masuk di tengah jalan sesuai kapasitas sekolah,” jelasnya.
Sekolah Rakyat juga akan membekali siswa dengan kemampuan Bahasa Inggris dan keterampilan digital. Fasilitas pendukung seperti laboratorium bahasa dan perangkat digital seperti laptop telah disiapkan.
“Termasuk kemudian kita akan membekali mereka untuk bisa Bahasa Inggris, makanya ada lab-nya. Peralatan untuk belajar mengajar itu digital, mulai dari laptop, dan lain-lain,” tandasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










