bukamata.id – Terowongan di Gedung Sate menjadi salah satu topik paling misterius sekaligus menarik perhatian warga Bandung dan para peneliti sejarah. Gedung ikonik ini tidak hanya menjadi pusat pemerintahan Jawa Barat, tetapi juga dipenuhi kisah-kisah tak kasat mata yang masih diperdebatkan hingga kini.
1. Terowongan di Gedung Sate dan Misteri Lorong Bawah Tanah
Banyak yang mempercayai adanya terowongan rahasia di Gedung Sate yang menghubungkan gedung utama dengan Gedung Pakuan, rumah dinas Gubernur Jawa Barat. Lorong ini diduga digunakan sebagai jalur pelarian pada masa kolonial Belanda.
Menurut Dr. Asep Kurniawan, M.Hum., dosen sejarah Universitas Padjadjaran, catatan Belanda memang menyebut adanya struktur bawah tanah dalam denah awal pembangunan.
“Dalam beberapa arsip Kolonial Hindia Belanda, disebutkan tentang lorong utilitas di bawah Gedung Sate, namun belum ada validasi arkeologis langsung,” jelas Dr. Asep.
Sementara itu, warga sekitar mengaku pernah melihat mulut terowongan yang kini telah ditutup. Hingga kini, misteri terowongan di Gedung Sate tetap menggantung di antara sejarah dan mitos.
2. Pekerja yang Gugur Saat Pembangunan Gedung Sate
Cerita lama menyebutkan bahwa banyak pekerja pribumi meninggal saat proses pembangunan gedung ini. Mereka diyakini sebagai “penunggu” Gedung Sate yang sering muncul dalam bentuk penampakan.
Dr. Dini Lestari, M.A., peneliti sejarah kolonial dari LIPI, menjelaskan bahwa kematian saat proyek pembangunan pada era kolonial adalah hal yang umum karena minimnya standar keselamatan kerja.
“Pekerja lokal sering dipaksa bekerja tanpa perlindungan dan banyak dari mereka yang tewas akibat kecelakaan konstruksi,” ungkap Dini.
Menurut Jurnal Arsitektur Kolonial Indonesia (2022), beberapa proyek Belanda di Nusantara memang menyimpan sejarah kelam terkait perlakuan terhadap pekerja lokal.
3. Sosok Mistis Neng Siti dan Penampakan Angsa
Salah satu cerita rakyat paling terkenal di sekitar Gedung Sate adalah kisah Neng Siti, wanita yang konon bunuh diri karena ditinggal kekasih. Ia sering dikaitkan dengan penampakan seekor angsa putih yang berubah menjadi perempuan di malam hari.
Cerita ini sangat hidup dalam tradisi lisan masyarakat Sunda. Menurut R. Mulyadi, S.Sn., budayawan Jawa Barat, legenda ini merupakan bentuk narasi budaya yang mencoba menjelaskan keberadaan energi tak kasat mata.
“Folklor seperti Neng Siti mencerminkan proses simbolisasi duka masyarakat terhadap masa lalu yang kelam,” ujarnya.
4. Kabut Tebal dan Bau Kemenyan Tak Berasal
Beberapa saksi mata melaporkan sering mencium bau kemenyan di sekitar Gedung Sate, khususnya saat malam hari. Kabut tipis juga kerap muncul dan dianggap sebagai tanda kemunculan makhluk gaib.
Menurut Dr. Ratna Sari, M.Psi., seorang psikolog transpersonal, fenomena ini bisa dijelaskan secara psikologis.
“Sugesti kolektif dapat menciptakan pengalaman sensorik, termasuk penciuman atau penglihatan kabut, terutama di tempat yang dipercaya angker,” jelasnya.
Namun dalam budaya lokal, kemenyan sering digunakan dalam ritual gaib, sehingga hal ini memperkuat kesan mistis Gedung Sate.
5. Pohon Angker di Halaman Belakang Gedung Sate
Di halaman belakang Gedung Sate, terdapat pohon tua yang disebut-sebut sebagai tempat tinggal makhluk halus. Penjaga malam dan petugas kebersihan kerap melaporkan penampakan bayangan atau suara tanpa wujud.
Jurnal Folklor dan Mitos Perkotaan Jawa Barat (2023) mencatat bahwa pohon besar dalam kompleks bangunan kolonial kerap diasosiasikan dengan entitas gaib yang diyakini menjaga wilayah tersebut.
6. Arsitektur dan Simbolisme Tersembunyi Gedung Sate
Gedung Sate dirancang oleh arsitek J. Gerber pada 1920 dengan gaya arsitektur Indo-Eropa. Salah satu ciri khasnya adalah tusuk sate di bagian atap yang menyimbolkan kekayaan hasil bumi Jawa Barat.
Menurut Dr. Ignatius Wibowo, M.Arch., dosen Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, beberapa elemen bangunan mengandung makna simbolik dan spiritual.
“Kolonialisme sering menyelipkan simbol kekuasaan dalam arsitektur, dan tusuk sate bisa dianggap sebagai lambang kekuatan atau perlindungan,” kata Wibowo.
Terowongan di Gedung Sate Antara Fakta dan Kepercayaan
Mitos tentang terowongan di Gedung Sate adalah bagian dari kekayaan budaya dan sejarah lokal Bandung. Meski belum terbukti secara ilmiah, keberadaannya tetap menarik untuk ditelusuri lebih lanjut oleh para arkeolog dan sejarawan.
Gedung Sate bukan hanya bangunan pemerintahan, tetapi juga monumen hidup yang mengandung berbagai cerita rakyat, simbol arsitektur, dan warisan sejarah kolonial yang belum sepenuhnya terungkap.
Terowongan di Gedung Sate, benar atau tidak, tetap menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat yang menghidupkan sisi lain sejarah Bandung.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











