bukamata.id – Konten kreator sekaligus aktivis sosial, Ferry Irwandi, akhirnya memberikan klarifikasi panjang setelah namanya diseret dalam isu dugaan penyebaran hoaks pelecehan seksual di lokasi bencana banjir di Sumatra.
Melalui unggahan di Instagram pribadinya, Ferry menegaskan bahwa narasi yang menuding dirinya mempolitisasi bencana ataupun menebar ketakutan adalah fitnah yang disebarkan secara serentak dan terkoordinasi.
Ferry Irwandi Bantah Hoaks: “Narasinya Sama Semua, Ini Sudah Keterlaluan”
Dalam pernyataannya, Senin (8/12/2025), Ferry mengungkapkan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar dan sama sekali tidak datang dari konten yang ia produksi secara sengaja.
“Hari ini serentak saya difitnah oleh banyak orang dengan narasi yang sama… Selama ini saya gak peduli, tapi untuk yang ini sudah keterlaluan,” tulisnya.
Ferry juga menyoroti dua poin penting untuk meluruskan pemberitaan yang berkembang:
1. Tidak Menuding Pemerintah
Ferry menegaskan dirinya tidak pernah mengatakan pemerintah tutup mata terhadap bencana Sumatra. Menurutnya, kolaborasi antara relawan, NGO, pemerintah pusat, pemda, TNI, dan Polri berlangsung baik di lapangan.
2. Isu Pelecehan Muncul dari Penelepon Live
Ia menjelaskan bahwa isu sensitif mengenai pelecehan bukan berasal dari dirinya, melainkan dari penelepon dalam sesi live streaming penggalangan dana beberapa hari sebelumnya.
“Sama sekali tidak pernah dinarasikan seperti yang tertulis di media. Teman-teman media yang menulis berita ini, mohon klarifikasi dan verifikasinya,” ujar Ferry.
Pakar Komunikasi Kritik Cara Penyampaian Informasi
Meski Ferry membantah, sejumlah pakar menilai penyebaran isu sensitif tanpa verifikasi tetap menimbulkan konsekuensi.
Pakar Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Syurya Muhammad Nur, mengatakan bahwa penyampaian isu pelecehan seksual tanpa pemeriksaan memadai dapat berdampak negatif bagi korban.
“Isu pelecehan seksual adalah persoalan serius. Jika disampaikan tanpa data resmi yang jelas, narasi itu berisiko melukai korban untuk kedua kalinya,” ujarnya.
Senada, Direktur Eksekutif Veritas Institut Aldi Tahir mengingatkan bahwa informasi tidak terkonfirmasi bisa memunculkan trauma baru atau reviktimisasi.
Warganet Ramai Dukung Ferry: “Ini Fitnah yang Terkoordinasi”
Di tengah polemik yang memanas, warganet justru menunjukkan dukungan besar terhadap Ferry. Di akun Instagram @tante.rempong.official, komentar publik didominasi pembelaan.
Pantauan dari kolom komentar Instagram @tante.rempong.official, Senin (8/12/2025), menunjukkan gelombang pembelaan dari publik. Banyak warganet menilai tuduhan terhadap Ferry tidak masuk akal dan diduga muncul karena kepanikan pihak tertentu.
“Setakut itu pemerintah sama rakyat yang bernama Ferry Irwandi, sampai para bazer turun gunung nyerang Ferry,” tulis akun @tan***.
Komentar lainnya menyinggung keberhasilan penggalangan dana yang dilakukan Ferry untuk korban bencana Sumatra, yang disebut menjadi salah satu pemicu munculnya fitnah.
“Kesel kali gara-gara donasi 7 jam dapat 10M wkwk,” tulis akun @tri***.
Warganet @noe*** juga menilai bahwa serangan terhadap Ferry tidak berdampak karena dukungan publik kepadanya sangat besar.
“Buzzer pikir, mas Ferry di sana gak memantau berita di internet. Padahal banyak netizen yang dukung mas Ferry ini. Takut banget kah?” ujarnya.
Sebagian warganet menilai pola fitnah yang beredar memperlihatkan kepanikan kelompok tertentu.
“Kelakuan siapa kah kalau bukan yang lagi khawatir dan panik,” tulis akun @mam***.
Sementara itu, ada juga warganet yang menyarankan agar Ferry mengambil langkah hukum setelah selesai menjalankan bantuan kemanusiaan.
“Kelar bantu di sana langsung bawa jalur hukum aja biar pada jera bang,” tulis akun @wan***.
Gelombang dukungan ini memperlihatkan bahwa publik terus memantau dinamika kasus yang melibatkan Ferry Irwandi dan menunjukkan solidaritas atas aktivitas kemanusiaan yang ia lakukan.
Donasi Ferry Irwandi Tembus Rp 10 Miliar dalam 24 Jam
Sebelum isu ini mencuat, Ferry Irwandi menjadi sorotan positif setelah berhasil mengumpulkan lebih dari Rp 10,3 miliar untuk korban banjir Sumatra hanya dalam waktu 24 jam.
Penggalangan dana yang digelar di platform Kitabisa itu menarik 87.605 donatur, menjadikan aksi sosial ini salah satu penggalangan dana tercepat dan terbesar pada akhir 2025.
“Selama 24 jam kita berhasil mengumpulkan 10,3 miliar rupiah. Terima kasih kepada semua yang sudah berdonasi,” ujar Ferry.
Bantuan tersebut akan diberikan kepada daerah terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, khususnya wilayah terpencil.
Profil Lengkap Ferry Irwandi
Ferry Irwandi dikenal sebagai konten kreator yang membahas isu sosial, pendidikan, politik, dan filsafat dengan gaya lugas. Gaya komunikasinya yang tegas dan mudah dipahami membuatnya memiliki pengaruh besar di ruang digital.
Ia lahir di Jambi pada 16 Desember 1991, berasal dari keluarga Minangkabau. Ayahnya berprofesi sebagai dosen, sedangkan ibunya adalah seorang pegawai swasta. Nilai pendidikan yang kuat di keluarga menjadi landasan penting dalam cara Ferry menilai dan merespons berbagai persoalan masyarakat.
Ferry menikah dengan Muthia Nadhira pada 2015 dan kini dikaruniai dua orang anak.
Minatnya pada dunia kreatif sudah muncul sejak masa remaja, mulai dari teater, musik, hingga film. Meski berkuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), ia tetap aktif berkarya melalui klub teater dan komunitas film SCENE. Ia juga pernah mengikuti sejumlah festival musik di Jambi.
Setelah lulus, ia bekerja sebagai videografer di Kementerian Keuangan dan bertanggung jawab membuat berbagai materi publikasi untuk kebutuhan komunikasi publik. Setelah satu dekade bekerja sebagai PNS, Ferry memilih mundur pada November 2022 untuk fokus mengembangkan karier kreatif dan memperluas ruang berekspresinya.
Kiprah di Dunia Digital
Ferry memulai kanal YouTube pada 2010 dan perlahan membangun reputasinya sebagai kreator edukasi. Namanya melesat pada 2017 berkat konten mengenai filsafat Stoikisme yang berhasil menarik perhatian anak muda. Ia menyoroti pentingnya pengendalian diri, pengelolaan emosi, dan cara menghadapi tekanan hidup secara bijak.
Selain itu, ia dikenal vokal dalam isu etika digital. Ferry pernah melaporkan influencer yang mempromosikan judi online dan mengkritik praktik tidak etis seperti giveaway palsu serta manipulasi penghasilan untuk menarik pengikut.
Dalam kajian politik, ia kerap mengingatkan soal potensi melemahnya ruang demokrasi ketika militer terlalu banyak terlibat dalam kegiatan sipil.
Malaka Project dan Institut Malaka
Bersama sejumlah aktivis dan kreator, Ferry mendirikan Malaka Project, sebuah gerakan pendidikan alternatif yang mendorong pemikiran kritis, empati, dan literasi pengetahuan. Platform ini aktif menggelar diskusi panel, podcast, kelas publik, serta menghadirkan tokoh lintas disiplin.
Mereka kini sedang mengembangkan Institut Malaka, yang digambarkan sebagai “kampus rakyat” yang terbuka dan terjangkau. Institusi ini dirancang untuk menyediakan pendidikan alternatif dalam bidang teori kritis, seni, pertanian, hingga studi gender.
Penutup: Komitmen pada Aksi Kemanusiaan
Berbagai aktivitas sosial yang ia jalankan memperkuat citranya sebagai sosok yang tidak hanya berpengaruh secara digital, tetapi juga hadir di lapangan. Penggalangan dana besar-besaran untuk korban bencana Sumatra menjadi contoh nyata konsistensinya dalam membantu masyarakat.
Melalui karya, advokasi, dan kiprah sosialnya, Ferry Irwandi menunjukkan bahwa peran seorang kreator dapat melampaui sekadar konten, yakni menjadi penyambung suara dan harapan bagi mereka yang membutuhkan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











