Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Menjelajah Kelezatan Karawang: 10 Wisata Kuliner Legendaris yang Menggoyang Lidah

Kamis, 17 September 2026 02:00 WIB

Rekomendasi Kuliner Legendaris Garut: 4 Tempat Makan Ikonik yang Wajib Dicoba

Kamis, 17 September 2026 01:00 WIB

Bio Farma Transfer Teknologi Vaksin ke Sejumlah Negara, Dorong Diplomasi Kesehatan Indonesia

Rabu, 16 September 2026 22:30 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Menjelajah Kelezatan Karawang: 10 Wisata Kuliner Legendaris yang Menggoyang Lidah
  • Rekomendasi Kuliner Legendaris Garut: 4 Tempat Makan Ikonik yang Wajib Dicoba
  • Bio Farma Transfer Teknologi Vaksin ke Sejumlah Negara, Dorong Diplomasi Kesehatan Indonesia
  • Persib Bungkam FC Seoul 1-0, Maung Bandung Langsung Kuasai Puncak Grup E ACL Two
  • Warga Bandung Jangan Asal Beli! 25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Tak Sesuai Label
  • Kebakaran Ciumbuleuit Bongkar Dugaan Penimbunan Sampah Ilegal, 19 Warga Terdampak
  • 10 Tempat Wisata Bogor Terbaru dan Paling Hits, Cocok untuk Liburan Keluarga
  • Persib Curi Poin Penuh di ACL 2, Marc Klok Sanjung Mental Juang Bobotoh di Negeri Ginseng
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 17 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Abdul Mu’ti Sebut Ramadan sebagai Momentum Perubahan Sosial

By Putra JuangRabu, 12 Februari 2025 04:00 WIB4 Mins Read
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti. (Foto: Muhammadiyah)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti menyatakan bahwa Ramadan adalah bulan penuh berkah, bukan hanya sebagai waktu untuk berpuasa, tetapi juga sebagai bulan untuk bersedekah dan mendidik diri.

Selain itu, Ramadan memiliki banyak sebutan yang menggambarkan keutamaannya, seperti Syahrul Shiam (bulan puasa), Syahrul Qur’an (bulan turunnya Al-Qur’an), Syahrul Sadaqah (bulan sedekah), dan Syahrut Tarbiyah (bulan pendidikan).

Mu’ti secara khusus menyoroti dua hal utama dalam Ramadan, yaitu sedekah dan pendidikan. Menurutnya, Ramadan sangat erat kaitannya dengan semangat berbagi.

“Di bulan Ramadan nanti kita akan sering mendengar hadits-hadits Nabi yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang sangat dermawan. Dan saking dermawannya, beliau sedekahnya terus bertambah-tambah, terus mengalir seperti angin yang berhembus,” ucap Mu’ti dikutip laman Muhammadiyah, Rabu (12/2/2025).

“Karena itulah Ramadan itu sangat identik dengan santunan, identik dengan gerakan menghimpun zakat, infak, dan sedekah. Walaupun untuk berzakat tidak harus di bulan Ramadan,” tambahnya.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI ini menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an terdapat tiga istilah yang digunakan untuk menggambarkan zakat, yakni “ata”, “khuz”, dan “fa’ala”.

Baca Juga:  Hasil Sidang Isbat: Cek Jadwal Puasa Ramadhan 2026 dan Waktu Shalat Tarawih Pertama

Kata “ata” menunjukkan bahwa zakat adalah sesuatu yang harus diberikan. Sementara itu, kata “khuz” berarti zakat harus dihimpun, menunjukkan peran aktif lembaga atau pemerintah dalam pengelolaannya.

Sedangkan kata “fa’ala” menggambarkan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban, tetapi harus menjadi kebiasaan yang dilakukan terus-menerus.

“Jadi, orang yang sukses dalam kehidupannya adalah mereka yang menjadikan zakat sebagai kebiasaan,” jelasnya.

Selain itu, Mu’ti mengingatkan agar cara pemberian zakat dan sedekah tidak dilakukan dengan cara yang membuat penerima merasa rendah diri.

“Selama ini, zakat sering diberikan dalam bentuk santunan langsung, baik berupa uang tunai maupun sembako, yang kemudian harus diambil dengan cara antre,” imbuhnya.

Menurutnya, sistem semacam ini masih terkesan seperti bentuk belas kasihan.

“Mereka yang menerima zakat itu bukan pengemis. Mereka bukan penerima belas kasihan, tetapi mereka adalah orang-orang yang berhak atas zakat tersebut,” ungkapnya.

Mu’ti mengusulkan agar Muhammadiyah mulai menyalurkan zakat melalui sistem transfer langsung ke rekening penerima. Dengan cara ini, mustahik dapat menerima hak mereka tanpa harus merasa malu atau berada dalam posisi yang kurang nyaman.

Baca Juga:  Muhammadiyah Umumkan Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal dan Zulhijah 1446 H

“Kalau kita bisa mendata mereka dengan baik, lalu kita tentukan berapa hak yang mereka dapat, dan kita transfer langsung, maka mereka tidak perlu antre, tidak perlu merasa dipermalukan,” katanya.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa zakat tidak hanya harus berbentuk bantuan konsumtif, tetapi juga dapat digunakan untuk pemberdayaan ekonomi dan sosial.

“Kita bisa manfaatkan zakat untuk menggaji guru honorer yang selama ini bergaji kecil, memberikan beasiswa bagi anak-anak kurang mampu, atau membangun investasi sosial yang manfaatnya bisa berkelanjutan,” jelasnya.

Selain sebagai bulan sedekah, Ramadan juga memiliki dimensi pendidikan. Mu’ti menjelaskan bahwa puasa adalah bentuk pendidikan spiritual yang mengajarkan manusia untuk menahan diri dan menjadi pribadi yang lebih baik.

“Puasa itu bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga pendidikan untuk mengendalikan diri. Kita ini sering kali tergoda oleh nafsu, tetapi dengan puasa kita dilatih untuk menjadi manusia yang lebih baik,” terangnya.

Dalam Al-Qur’an, ada dua istilah yang menggambarkan pentingnya kebersihan jiwa, yaitu “qad aflaha man tazakka” dan “qad aflaha man zakkaha”.

Baca Juga:  Wujud Bhinneka Tunggal Ika di Bandung: Rayakan Lebaran Tanpa Ganggu Kekhusyukan Nyepi

Kedua ayat ini menegaskan bahwa keberhasilan seseorang dalam hidup sangat erat kaitannya dengan kebersihan jiwa dan harta.

“Orang yang jiwanya bersih akan lebih mudah berbagi. Kalau jiwanya tidak bersih, dia akan berat mengeluarkan zakat dan sedekahnya,” ujarnya.

Mu’ti mengajak warga Muhammadiyah untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum gerakan sosial yang lebih luas.

“Selama ini, kita sering melihat sedekah hanya sebagai bentuk bantuan. Tapi, bagaimana kalau kita ubah sedekah menjadi alat pemberdayaan?,” ucapnya.

Mu’ti memberikan contoh bagaimana zakat bisa digunakan untuk mengatasi masalah sosial, seperti menggaji guru honorer, memberikan beasiswa, atau mendukung program ekonomi umat.

“Ini yang saya sebut sebagai tazkiyatul muskhilat, yaitu zakat yang bisa menghilangkan berbagai masalah sosial,” ujarnya.

Mu’ti juga mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan Ramadan sebagai momentum perubahan sosial.

“Mari kita ubah cara kita berbagi. Jangan hanya sekadar memberi, tapi kita bangun sistem yang bisa menghadirkan kemakmuran bagi semua,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Abdul Mu'ti Muhammadiyah
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Menjelajah Kelezatan Karawang: 10 Wisata Kuliner Legendaris yang Menggoyang Lidah

Rekomendasi Kuliner Legendaris Garut: 4 Tempat Makan Ikonik yang Wajib Dicoba

Devoyage Bogor, salah satu wisata di Bogor yang Instagramble banget.

10 Tempat Wisata Bogor Terbaru dan Paling Hits, Cocok untuk Liburan Keluarga

10 Rekomendasi Tempat Wisata Terbaik di Tasikmalaya, Cocok untuk Liburan Singkat Bersama Keluarga

Sambut HUT ke-36, JNE Gandeng Seniman Muklay Sulap Armada Pengiriman Jadi Galeri Seni Berjalan

FAKTA MENGEJUTKAN! Di Balik Bantuan Mendadak Reza Arap Bangun 27 Sekolah di NTT

Terpopuler
  • Jadwal Lengkap FC Seoul vs Persib Bandung di ACL 2: Waktu Kick-off dan Link Nonton
  • Semarak HUT TNI ke-81, Ribuan Peserta Siap Ikuti Fun Run di Cimahi
  • Game Free Fire
    Deretan Kode Redeem FF 15 September 2026, Klaim Reward Senjata Eksklusif Sekarang Juga!
  • Tradisi 60 Tahun Berujung Hujatan! Menelusuri Fakta di Balik Hebohnya Simbang Kulon Night Carnival 2026
  • Link Live Streaming ACL 2: FC Seoul vs Persib Bandung, Nonton Gratis di Sini!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.