Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Cerita Relawan Indonesia yang Sempat ‘Diculik’ Israel: Disetrum hingga Dipukul Selama Ditahan

Jumat, 22 Mei 2026 15:30 WIB

Pemotor Nekat Terobos Palang hingga Kereta Berhenti Mendadak, Farhan: Sabar!

Jumat, 22 Mei 2026 15:14 WIB

Disentil Netizen Malaysia Soal IQ di Bawah 78, Video Kelulusan SMA Indonesia Berujung Malu Nasional!

Jumat, 22 Mei 2026 15:09 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Cerita Relawan Indonesia yang Sempat ‘Diculik’ Israel: Disetrum hingga Dipukul Selama Ditahan
  • Pemotor Nekat Terobos Palang hingga Kereta Berhenti Mendadak, Farhan: Sabar!
  • Disentil Netizen Malaysia Soal IQ di Bawah 78, Video Kelulusan SMA Indonesia Berujung Malu Nasional!
  • Kabar Buruk bagi Persib? Malut United Kehilangan 9 Pemain Inti Jelang Lawan Borneo FC
  • Pesan Menohok Bojan Hodak Jelang Laga Penentu Persib: Setop Bahas Konvoi, Kita Belum Juara!
  • Pecah Tangis Cristiano Ronaldo Usai Bawa Al Nassr Juara: Penebusan Sempurna di Tanah Arab
  • Podomoro Park Gandeng PT Bakul Nasi Bersama, Hadirkan Kampung Kecil ke-69 di Bandung Selatan
  • Polemik Donasi Palestina Viral! Pengakuan Mengejutkan Warga Asli Gaza Bikin Geger
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 22 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Disentil Netizen Malaysia Soal IQ di Bawah 78, Video Kelulusan SMA Indonesia Berujung Malu Nasional!

By Aga GustianaJumat, 22 Mei 2026 15:09 WIB6 Mins Read
Viral konten kelulusan SMA dikritik netizen Malaysia. (Foto: Instagram)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Dunia pendidikan Indonesia kembali diguncang oleh badai kontroversi di jagat maya. Bukan karena torehan prestasi akademis di kancah internasional atau inovasi teknologi mutakhir, melainkan karena sebuah fenomena musiman yang kian bergeser maknanya: euforia perayaan akhir sekolah. Kali ini, sorotan tajam tidak hanya datang dari masyarakat domestik, melainkan melompati batas negara hingga memicu sentilan menohok dari netizen Malaysia.

Sebuah unggahan di platform Threads oleh akun _jallee_x menjadi pemantik diskusi panas yang menjalar ke berbagai platform digital lainnya seperti TikTok dan Instagram. Dalam unggahan yang viral tersebut, sang netizen negeri jiran menuliskan keheranannya dengan kalimat yang cukup menusuk:

“Hi to Indonesian, nak tanya… bukan ke negara korang merupakan negara Muslim terbanyak di Asia bahkan di Dunia? Kenapa bende ni jadi trend dekat sekolah sekolah Indonesia? Dengan perempuan terjoget joget nya tu + pakaian ketat… sekolah korang memang luluskan eh nk buat trend mcm ni? Tk hairan la orang cakap IQ bawah 78 kn?”

Sentilan ini menyertai tangkapan layar sebuah video milik akun eziww.05 dengan takarir “hasil kicau 😭😭”. Di dalam video tersebut, terlihat atmosfer perayaan bertajuk “VORTEXA” dan “ROADHIDE ANGKATAN 25: THE SILVER JUBILEE”. Di tengah halaman sekolah yang beralaskan lapangan basket, seorang siswa laki-laki dan siswi berhijab secara bergantian maju ke depan untuk memimpin koreografi joget yang ekspresif, diiringi oleh gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai ratusan siswa lain yang duduk berundak-undak di tribun penonton.

Namun, yang paling memicu perdebatan sengit dan keprihatinan publik adalah visualisasi seragam yang dikenakan. Beberapa siswi, baik yang mengenakan hijab maupun tidak, tampak memodifikasi seragam putih-abu-abu mereka menjadi sangat ketat. Rok span abu-abu yang sejatinya didesain longgar untuk ruang gerak akademis, dirombak sedemikian rupa hingga membentuk lekuk tubuh dengan potongan yang sangat minim. Di video lainnya, sekelompok siswi dengan rok span mini di atas lutut asyik berjoget meliukkan badan di depan kamera demi kebutuhan konten.

Baca Juga:  Puji Penampilan Timnas Indonesia U-23, Netizen Malaysia Sebut Skuad Garuda Layak Lolos Olimpiade 2024

Pergeseran Makna Kelulusan: Dari Syukur Menuju Konten

Fenomena ini memotret realitas pahit tentang bagaimana makna “kelulusan” atau “perpisahan sekolah” telah mengalami amnesia kultural. Dahulu, momen pengumuman kelulusan atau akhir masa sekolah adalah ritus penuh khidmat. Ia adalah ruang bagi air mata haru, ucapan terima kasih yang tulus kepada guru, dan doa bersama untuk menyongsong masa depan perguruan tinggi atau dunia kerja.

Kini, di era di mana validasi diukur melalui jumlah likes, shares, dan views, esensi tersebut tampaknya mulai luntur. Halaman sekolah berubah fungsi menjadi panggung pameran estetika visual yang dangkal. Seragam sekolah yang sarat akan simbol perjuangan menuntut ilmu, justru dimodifikasi menjadi komoditas visual demi memburu status “FYP” (For You Page) di TikTok.

Modifikasi seragam menjadi ketat dan pendek, dikombinasikan dengan gerakan joget yang dinilai kurang pantas dalam norma ketimuran, menciptakan kontras yang sangat ironis. Di satu sisi, sekolah-sekolah di Indonesia secara formal menerapkan aturan berpakaian yang rapi dan menutup aurat—termasuk kewajiban atau anjuran berhijab bagi siswi Muslimah. Namun di sisi lain, saat perayaan akhir tahun tiba, aturan tersebut seolah menguap demi tuntutan tren digital. Konsep hijab yang seharusnya menjadi simbol kesopanan spiritual, dalam video viral tersebut, justru bersanding kontradiktif dengan rok yang super ketat dan goyangan yang ekspresif.

Kontras Budaya dan Tamparan Keras Netizen

Perdebatan ini menggelinding bak bola salju ketika warganet mulai membandingkan secara kontras bagaimana para pelajar di Indonesia dan Malaysia merayakan akhir masa sekolah mereka. Di Malaysia, perayaan kelulusan umumnya dirayakan dengan upacara formal yang melibatkan guru dan orang tua, sesi foto bersama yang rapi, atau aktivitas makan bersama yang komunal dan tertib. Aksi konvoi sepeda motor, coret-coret seragam dengan piloks, apalagi berjoget dengan seragam yang diperketat, hampir tidak mendapatkan ruang di sana.

Fenomena ini memicu gelombang kritik dari dalam negeri sendiri. Banyak warganet Indonesia yang justru mendukung kritik dari netizen Malaysia tersebut, alih-alih membela diri secara buta. Salah satu komentar netizen yang paling banyak mendapat sorotan menyatakan:

Baca Juga:  Puji Penampilan Timnas Indonesia U-23, Netizen Malaysia Sebut Skuad Garuda Layak Lolos Olimpiade 2024

“Kita yg orang indonesia jugaa malu liat nya .. bagus kritikannya netizen Malay .. yg disini pada batu demi tren.”

Komentar senada juga dilontarkan oleh akun @varel_12 di Instagram yang menulis, “Kelulusan sekarang lebih mirip ajang konten daripada momen pendidikan.” Kesadaran kolektif ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih memiliki kompas moral yang sehat dan merasa resah melihat degradasi nilai kesopanan di kalangan generasi muda.

Dari Gaduh Digital Menuju Ruang Klarifikasi di SMK PGRI 4 Denpasar

Ketika sebuah isu meluncur liar di lintasan algoritma media sosial, riak yang dihasilkan sering kali melampaui kenyataan di lapangan. Gaduh digital seputar video perayaan akhir tahun yang sempat menuai kecaman dari netizen dalam dan luar negeri ini akhirnya menemui titik terang. Kasus yang bergulir liar di jagat maya tersebut resmi dimediasi secara formal di SMK PGRI 4 Denpasar guna menghindari salah paham yang berlarut-larut.

Dalam sebuah pertemuan resmi untuk meredam polemik di lingkungan SMK 4 Denpasar, duduk bersama perwakilan otoritas daerah, tokoh masyarakat, serta jajaran manajemen sekolah. Kehadiran para tokoh ini bertindak sebagai jembatan penengah antara pihak sekolah, para siswa, dan keresahan publik yang telanjur memanas di ruang siber.

Pihak manajemen SMK PGRI 4 Denpasar bersama perwakilan siswa yang terlibat dalam pembuatan video koreografi tersebut memberikan klarifikasi langsung. Di hadapan media dan otoritas yang hadir, mereka meluruskan bahwa euforia yang terekam dalam video bertajuk “Kicau Mania” tersebut sejatinya tidak bermaksud menabrak nilai kesopanan atau mencederai marwah pendidikan.

Goyangan ekspresif yang sempat disalahartikan sebagai tindakan kurang pantas, diakui murni sebagai luapan kegembiraan spontan atas selesainya masa studi mereka, tanpa ada intensi vulgar. Kendati demikian, pihak SMK 4 Denpasar secara ksatria menerima masukan, teguran, serta kritik membangun dari masyarakat luas sebagai bahan evaluasi internal yang mendalam bagi kedisiplinan siswa ke depan.

Baca Juga:  Puji Penampilan Timnas Indonesia U-23, Netizen Malaysia Sebut Skuad Garuda Layak Lolos Olimpiade 2024

“Kasus video viral ini telah resmi ditutup secara kekeluargaan dan pembinaan. Ini menjadi pelajaran berharga bagi anak-anak kita, khususnya di SMK PGRI 4 Denpasar, agar ke depan lebih bijak dalam mengekspresikan diri di media sosial,” tegas pihak perwakilan dalam pertemuan tersebut, seraya disambut riuh tepuk tangan dari puluhan siswa-siswi yang berdiri tertib di halaman sekolah.

Menyeimbangkan Euforia dan Etika

Langkah mediasi di SMK 4 Denpasar ini menjadi oase penting di tengah budaya cancel culture netizen yang kerap menghakimi tanpa tabayun. Penyelesaian polemik ini membuktikan bahwa penanganan terhadap pergeseran moral generasi digital tidak harus diselesaikan dengan sanksi sosial yang mematikan masa depan mereka, melainkan melalui dialog karakter dan pelurusan kembali nilai-nilai budaya ketimuran.

Tentu saja, tidak ada yang salah dengan merayakan kelulusan atau perpisahan sekolah. Setelah bertahun-tahun bergulat dengan tekanan akademis, tumpukan tugas, dan kecemasan menghadapi ujian, para siswa sangat layak mendapatkan momen untuk melepaskan penat dan merayakan keberhasilan mereka. Euforia adalah ekspresi psikologis yang manusiawi.

Namun, yang menjadi persoalan akut adalah ketika batas-batas etika, moral, dan estetika kesopanan ditabrak demi sebuah validasi semu di dunia digital. Kreativitas tidak harus selalu berbanding lurus dengan kelonggaran norma. Generasi muda Indonesia harus diingatkan kembali bahwa ekspresi kegembiraan bisa disalurkan melalui kanal-kanal yang jauh lebih bermartabat dan berdampak positif, seperti aksi sosial atau pentas seni budaya yang anggun.

Sentilan tajam dari negara tetangga mengenai kontradiksi identitas budaya kita seharusnya tidak direspons dengan kemarahan atau sentimen nasionalisme yang sempit. Sebaliknya, tamparan digital ini harus dijadikan cermin retak untuk berkaca bagi seluruh instansi pendidikan. Ini adalah momentum bagi sekolah, orang tua, dan para siswa sendiri untuk merenungkan kembali: apakah kita sedang mendidik generasi masa depan yang cerdas dan berkarakter, ataukah kita sedang membiarkan mereka tersesat di dalam labirin algoritma media sosial demi mengejar views semata?

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

kelulusan viral netizen malaysia tren kelulusan video viral sekolah
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Podomoro Park Gandeng PT Bakul Nasi Bersama, Hadirkan Kampung Kecil ke-69 di Bandung Selatan

Polemik Donasi Palestina Viral! Pengakuan Mengejutkan Warga Asli Gaza Bikin Geger

Investor Wajib Simak! Harga Emas Antam Ambles Lagi per Jumat 22 Mei 2026

Game Free Fire

Klaim Segera! Kode Redeem FF Terbaru 22 Mei 2026: Peluang Dapat Skin M1887 Terompet dan Diamond Gratis

Bansos

Reformasi Bansos 2026: Hanya Empat Kelompok Ini yang Jadi Prioritas Utama

Video Viral Prank Handuk Ramai Jadi Sorotan, Link Diburu Netizen!

Terpopuler
  • Dicari Link Full 6 Menit, Video Guru Bahasa Inggris Ini Justru Bikin Publik Curiga
  • Link Video Viral Tukang Cilok, Konten Prank Bikin Penasaran!
  • Link Video Viral Skandal Guru Bahasa Inggris vs Murid, Benarkah Ada Kelanjutannya?
  • Video Viral Guru Bahasa Inggris dan Murid Kembali Heboh, Link ‘Full 6 Menit’ Jadi Sorotan
  • Link ‘Guru Bahasa Inggris Viral’ Ramai Dicari, Pakar Ingatkan Bahaya Phishing dan Malware
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.