bukamata.id – Sembilan relawan kemanusiaan asal Indonesia yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla dilaporkan telah dibebaskan dan kini telah tiba di Istanbul, Turki, pada Kamis (21/05/2026). Sebelumnya, para aktivis tersebut sempat ditahan oleh pihak otoritas Israel dalam apa yang disebut oleh Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) sebagai aksi penculikan.
Melalui unggahan di akun resmi Instagram @globalpeaceconvoy, dilaporkan bahwa para relawan mengalami serangkaian tindakan kekerasan fisik dan intimidasi selama masa penahanan mereka.
Mengalami Penyiksaan Fisik
Koordinator Dewan Pengarah dan Steering Committee GPCI, Dr. Maimon Herawati, mengonfirmasi bahwa seluruh WNI dalam misi kemanusiaan tersebut telah berada dalam kondisi aman dan dibebaskan. Namun, ia membeberkan adanya luka-luka fisik yang dialami oleh para relawan akibat penyiksaan dari pihak penahan.
“Sedikit memang ada yang sepertinya ada memar di dada, sehingganya sesak nafas. Juga ada yang disetrum. Juga ada yang ditendang, dipukul sampai kemudian mata memar-memar,” ujar Maimon Herawati langsung dari Istanbul.
Dalam video yang beredar, beberapa relawan pria yang mendampingi Maimon juga memberikan kesaksian singkat. Salah satu relawan mengaku sempat dibanting dan didera luka di kepala akibat dibenturkan ke tanah (dijedotkan), sementara relawan lainnya mengaku ditonjok, disetrum sebanyak dua kali, serta ditendang.
Menurut Maimon, kondisi yang dialami tim Indonesia ini masih tergolong “lumayan ringan” dibanding relawan internasional lainnya. Beberapa aktivis dari negara lain dilaporkan mengalami cedera yang jauh lebih parah, seperti patah tulang tangan dan kaki, hingga harus ditandu (stretcher) dan menjalani tindakan operasi medis.
Soroti Kondisi Warga Palestina
Melihat kebrutalan yang diterima oleh para aktivis kemanusiaan internasional, Maimon pun merefleksikan nasib buruk yang harus dihadapi oleh ribuan warga sipil Palestina yang saat ini masih mendekam di balik jeruji besi Israel.
“Jika mereka melakukan itu kepada para relawan kemanusiaan, maka kita bisa membayangkan apa yang dilakukan kepada warga Palestina,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa saat ini ada sekitar 9.000 warga Palestina—termasuk ratusan anak-anak dan perempuan—yang ditahan di penjara-penjara Israel dan kerap mengalami penyiksaan luar biasa, bahkan hingga berujung pada kematian. Maimon berharap insiden yang menimpa tim flotilla kemanusiaan ini dapat membuka mata dunia internasional terhadap brutalnya tindakan kolonialisme tersebut.
Saat ini, sembilan WNI bersama ratusan aktivis global lainnya tengah menjalani pemeriksaan kesehatan, proses dokumentasi, serta pengumpulan testimoni untuk keperluan hukum. Setelah seluruh proses administrasi tersebut selesai, tim relawan Indonesia dijadwalkan akan segera bertolak kembali ke Tanah Air.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










