bukamata.id – Gelombang protes dari berbagai belahan dunia kembali menghantam Israel. Kali ini, pemicunya adalah tindakan represif aparat keamanan terhadap ratusan aktivis pro-Palestina yang berada di atas kapal bantuan kemanusiaan menuju Gaza. Ketegangan diplomatik semakin membara setelah rekaman proses penahanan yang dinilai merendahkan martabat manusia itu sengaja dipublikasikan oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir.
Video kontroversial yang diunggah di platform X pada Rabu (21/5/2026) tersebut memperlihatkan pemandangan memilukan di sebuah area dermaga. Ratusan relawan lintas negara dipaksa duduk berjejer di tanah dengan posisi tangan terkunci ke belakang menggunakan pengikat kabel (kabel ties). Di bawah todongan senjata laras panjang, para aktivis kemanusiaan ini diperlakukan secara keji layaknya tawanan perang.
Armada kapal (flotilla) pengangkut logistik darurat tersebut dicegat secara paksa oleh militer Israel saat masih berada di perairan internasional pada Selasa (20/5), sebelum akhirnya seluruh penumpang diseret ke pelabuhan Israel.
Pihak penyelenggara misi kemanusiaan mengungkapkan bahwa ada sekitar 430 sukarelawan dari 40 negara yang terlibat dalam aksi ini, termasuk di antaranya warga negara Korea Selatan dan Italia. Misi yang bertolak dari wilayah selatan Turki tersebut sejatinya bertujuan untuk menembus barikade laut dan menyalurkan bantuan ke Gaza.
Provokasi Ben-Gvir Membakar Kemarahan Publik
Kondisi kian runyam ketika Ben-Gvir memanfaatkan momen penahanan tersebut untuk melontarkan ejekan kepada para aktivis melalui sebuah rekaman video.
“Mereka datang sebagai pahlawan besar. Lihat mereka sekarang. Tidak lagi jadi pahlawan dan bukan apa-apa,” kata Ben-Gvir dalam video tersebut sambil membawa bendera Israel besar.
Dalam potongan video terpisah, terlihat pula aksi kekerasan fisik di mana seorang sukarelawan perempuan didepak hingga tersungkur ke tanah usai dengan lantang menyuarakan yel-yel “Free, free Palestine”.
Perpecahan di Internal Kabinet Israel
Tindakan arogan Ben-Gvir ternyata memicu konflik internal di dalam lingkaran pemerintahan Israel sendiri. Menteri Luar Negeri Gideon Saar secara terbuka mengecam Ben-Gvir karena dinilai telah merusak citra geopolitik negara di mata dunia.
“Anda telah menghancurkan upaya besar, profesional, dan berhasil yang dilakukan begitu banyak pihak, mulai dari tentara IDF hingga staf Kementerian Luar Negeri dan lainnya,” tulis Saar.
Di sisi lain, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mencoba mengambil jarak dari kegaduhan ini. Walaupun tetap mendukung penuh operasi pencegatan armada bantuan tersebut, Netanyahu menilai bahwa gaya penanganan terhadap relawan asing itu telah melewati batas norma.
“Perlakuan itu tidak sesuai dengan nilai dan norma Israel,” ujar Netanyahu meski sebatas retorika saja.
Netanyahu mengklaim telah memerintahkan jajarannya untuk segera memproses deportasi seluruh aktivis. Hingga saat ini, pihak Israel tetap bersikukuh bahwa blokade maritim di sekitar perairan Gaza memiliki legalitas hukum.
Otoritas setempat menyatakan bahwa para peserta aksi telah dievakuasi ke kapal milik Israel dan diberikan fasilitas untuk berkomunikasi dengan pihak konsulat negara masing-masing. Namun, lembaga pemantau hak asasi manusia di Israel mengonfirmasi bahwa ratusan aktivis tersebut saat ini masih disekap di kawasan Pelabuhan Ashdod sembari menunggu proses pendampingan hukum.
Krisis Gaza yang Kian Mencekik
Aksi pelayaran ini menjadi ikhtiar kesekian kalinya dari koalisi kemanusiaan global untuk menjebol blokade ketat di Gaza, yang mana sebagian besar misi pendahulunya selalu berakhir dengan pembungkaman oleh militer Israel.
Sejumlah lembaga kemanusiaan sedunia menegaskan bahwa pasokan bantuan yang masuk ke wilayah kantong tersebut masih sangat minim dan jauh dari kata layak. Padahal, kesepakatan gencatan senjata yang diinisiasi oleh Amerika Serikat telah berjalan sejak Oktober 2025.
Akibat konflik berkepanjangan ini, mayoritas dari total dua juta lebih warga Gaza kini terpaksa bertahan hidup di tengah puing-puing bangunan yang hancur serta tenda-tenda darurat yang serba terbatas.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










