bukamata.id – Riuh tepuk tangan menggema di dalam aula sebuah hotel di Kota Pekanbaru. Di atas panggung megah, sorot lampu dan layar digital besar menampilkan sebuah nama yang berada di urutan teratas: Juara 1. Senyum merekah dan langkah kaki seorang siswi SMK melangkah mantap menuju podium tertinggi. Baginya, hari itu adalah puncak dari malam-malam panjang penuh belajar demi membuktikan diri dalam Kompetisi Sains Wilayah (KSW) ke-8 tahun 2026 yang digelar oleh lembaga Bina Sains Indonesia.
Namun, atmosfer kebanggaan itu runtuh hanya dalam hitungan menit. Detik-detik yang terekam dalam video unggahan akun TikTok @sharayoung_08 menangkap momen menyakitkan ketika sebuah prestasi yang telah diumumkan secara resmi ke publik, mendadak “dirampok” secara sepihak di depan ratusan pasang mata yang memadati ruangan.
Ambisi Besar di Balik Kompetisi Pra-OSN 2026
Gelaran KSW ke-8 ini sebenarnya dirancang sebagai ajang bergengsi berskala besar. Pihak Bina Sains Indonesia, melalui Managing Director R Sanjaya Silalahi, menjelaskan bahwa kompetisi ini dilaksanakan sebagai wadah simulasi dan ajang pra-Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kabupaten/kota hingga provinsi. Rangkaian acaranya sendiri dibuat ketat dalam tiga tahapan berjenjang, yang dimulai dari babak penyisihan pada 13 April 2026, dilanjutkan dengan babak praktikum pada 13 Mei 2026, hingga mencapai puncaknya di babak grand final pada 18 Mei 2026.
Animo peserta pun terbilang luar biasa. Kompetisi yang mencakup berbagai jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA, hingga SMK ini diikuti oleh sekitar 520 pelajar berbakat. Mereka berbondong-bondong datang tidak hanya dari dalam wilayah Riau, melainkan juga dari luar daerah seperti Bengkalis, Kepulauan Meranti, bahkan hingga perwakilan dari Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pihak penyelenggara menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk mengukur sejauh mana kemampuan sains siswa serta melatih kesiapan mental mereka dalam menghadapi ajang OSN resmi yang akan digelar pada Juni 2026 mendatang. Dengan simulasi ini, diharapkan para peserta—khususnya dari Provinsi Riau—dapat mematangkan persiapan demi meraih hasil yang lebih baik di tingkat nasional.
Ekspektasi tinggi ini juga dirasakan oleh para peserta yang berhasil lolos hingga babak akhir. Salah seorang siswa, I Gusti Putu Galiaska, sempat mengungkapkan optimismenya sebelum ketegangan dimulai. Ia mengaku telah mempersiapkan diri dengan sangat matang untuk menjawab setiap pertanyaan di babak final dan berharap bisa pulang dengan membawa nilai yang memuaskan.
Namun sayang, kerja keras dan persiapan matang dari ratusan siswa tersebut harus ternoda oleh manajemen lapangan yang dinilai kacau balau pada hari penutupan.
Drama di Atas Podium dan Penganuliran yang Menyakitkan
Saat sesi pengumuman pemenang untuk salah satu bidang studi, antusiasme berubah menjadi petaka bagi seorang siswi SMK. Berdasarkan kesaksian orang tua wali murid, anaknya dipanggil secara resmi sebagai Juara 1 bidang Bahasa Indonesia. Peringkat, nama, dan foto wajah para pemenang bahkan sudah ditayangkan secara jelas di layar digital utama aula. Skema juara awal sudah kokoh: sang anak di posisi pertama, rekannya sebagai Juara 2, dan perwakilan sekolah lain sebagai Juara 3.
Tragedi mental terjadi saat prosesi penyerahan medali dan piala dimulai. Sang Master of Ceremony (MC)—yang diketahui merupakan sang owner sekaligus perwakilan inti dari Bina Sains Indonesia—secara mendadak menganulir keputusan tersebut langsung dari atas mikrofon panggung.
Tanpa adanya kejelasan atau verifikasi tertutup terlebih dahulu, MC mengumumkan bahwa siswi tersebut digeser menjadi Juara 4—sebuah posisi yang otomatis membuatnya tidak berhak mendapatkan medali maupun piala. Tidak berhenti di situ, susunan juara di bawahnya langsung diacak kembali di depan para penonton. Juara 2 dan Juara 3 digeser, dan posisi Juara 3 yang baru tiba-tiba diberikan kepada anak lain yang saat itu tengah duduk di bangku penonton.
Mendapat perlakuan dan penganuliran sepihak di depan publik, mental sang anak seketika jatuh (down). Syok, kecewa, dan menahan malu yang luar biasa, ia langsung turun dari podium kompetisi dan memilih keluar dari ruangan aula.
“Entah perlombaan macam apa ini. Tidak ada persiapan dan kacau balau,” ungkap orang tua korban dengan nada kecewa yang mendalam.
Jejak Digital yang Janggal: “Rumus Matematika Amnesia”?
Kekecewaan orang tua korban berbuntut panjang di media sosial. Setelah melayangkan protes, pihak panitia sempat membagikan tangkapan layar lembar kerja penilaian Microsoft Excel di kolom komentar sebagai bentuk pembelaan diri. Namun, bukti tersebut justru memicu kecurigaan baru dari netizen karena terlihat sangat amatir.
Dalam foto Excel yang diunggah ulang oleh akun @sharayoung_28, terdapat kejanggalan fatal pada kolom penilaian salah satu bidang studi:
- Peserta Nomor Urut 1: Memiliki total nilai 69 dan mendapat predikat Emas.
- Peserta Nomor Urut 2: Memiliki total nilai 76 dan mendapat predikat Perak.
Secara logika dasar komputer maupun matematika, angka 76 seharusnya berada di atas angka 69. Pemilik akun TikTok tersebut secara tajam mengkritik kejanggalan ini:
“Katanya pakai sistem, tapi urutan nomor 1 nilainya 69, sedangkan nomor 2 nilainya 76? Sejak kapan rumus matematika komputer amnesia kayak gini? Kelihatan banget kan angka nilainya baru diganti manual biar anak saya kelihatan kalah, tapi lupa mindahin baris namanya. Amatir banget mau manipulasi data.”
Klarifikasi Panitia: Klaim Nilai Murni Tanpa “Ordal”
Melihat gelombang protes yang semakin liar, pihak Bina Sains Indonesia segera menuliskan klarifikasi panjang di kolom komentar video tersebut. Mereka membantah keras adanya praktik “orang dalam” (ordal) atau manipulasi nilai untuk peserta titipan.
Terkait isu juara yang tiba-tiba muncul dari kursi penonton, pihak panitia berdalih bahwa posisi duduk peserta di hotel memang tidak diatur berdekatan. Menurut mereka, peserta nomor urut 2 tersebut kebetulan mengikuti dua bidang lomba yang berbeda sehingga posisinya harus berpindah-pindah dan duduk di meja depan panitia. Mereka bahkan menantang untuk melihat rekaman CCTV hotel bersama-sama secara terbuka demi membuktikan kehadiran siswa tersebut.
Mengenai pergeseran juara yang terjadi secara mendadak saat acara langsung, panitia berargumen bahwa hal itu murni karena akumulasi nilai yang belum terfilter sempurna saat diproyeksikan ke layar:
“Kompetisi bukan hanya juara saja, tapi membuktikannya + kemampuan ya. Dan setiap nilai beda-beda per tes. Bisa Ibu lihat Tes 1, Tes 2, Tes 3, di mana Tes 3 nilai peserta (anak Ibu) kecil dibanding dua orang lainnya. Jadi gak ada namanya ordal / titipan / protes. Semua berdasarkan kemampuan peserta hasil sendiri dinilai dewan juri. Dari nilai kita juga sudah lihat, hanya tidak di-filter saja. Mohon maaf sebelumnya ya. Dan terima kasih,” tulis pihak Bina Sains Indonesia.
Namun, klarifikasi yang menggunakan gaya pengetikan tidak baku dan dinilai berantakan ini justru memanen kritik baru. Netizen menyayangkan bagaimana sebuah lembaga yang berniat mencetak generasi unggul di bidang sains nasional justru memberikan respons publik yang dinilai kurang profesional secara administratif.
Luka Mental Anak yang Sulit Sembuh
Ajang yang semestinya menjadi tempat pembinaan berkelanjutan bagi pelajar berbakat ini kini meninggalkan trauma mendalam. Netizen pun berbondong-bondong melayangkan rasa simpati mereka kepada sang siswi SMK yang menjadi korban kesalahan teknis panitia.
“Heran banget akhir-akhir ini buanyyyaakk banget lomba yang berakhir kayak gini. Kayak kalian sebenarnya siap gak sih ngadain lomba tuh??” ujar salah satu netizen meluapkan kekesalannya terhadap maraknya fenomena kompetisi serupa.
Netizen lain juga menyoroti betapa hancurnya perasaan seorang anak ketika harapan prestasinya dijatuhkan secara instan di atas panggung kehormatan.
“Lebih baik tidak terpanggil, jika akhirnya harus diturunkan. Bukan cuma malu, kecewa dan sedih bercampur aduk,” tulis netizen lainnya dengan empati mendalam.
Kini, impian Bina Sains Indonesia untuk melatih kesiapan mental para siswa menuju OSN Juni mendatang justru menyisakan catatan kelam di Kota Pekanbaru. Di balik tameng kata “kesalahan filter data”, ada harga psikologis sangat mahal yang harus dibayar oleh seorang anak yang pulang dengan ruang batin yang terluka.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










