bukamata.id – Kasus walisantri yang memaksa seorang ustadz membuat klarifikasi publik tengah viral di media sosial. Peristiwa ini dipicu sanksi terhadap seorang santri yang kedapatan merokok di lingkungan pesantren.
Sang ibu menilai persoalan tersebut sebagai hal sepele, sementara pihak pesantren menegaskan bahwa tindakan itu melanggar aturan yang berlaku.
Video perdebatan tersebut ramai dibagikan ulang, salah satunya melalui akun Instagram Instagram @lagi.viral pada Senin (23/2/2026), dan langsung menuai ribuan komentar dari warganet.
Kronologi: Dari Sanksi Hingga Tuntutan Klarifikasi
Berdasarkan video yang beredar, santri tersebut disebut telah beberapa kali tertangkap merokok di area pesantren. Sebagai bentuk penegakan disiplin, pihak pesantren memberikan sanksi berupa penggundulan rambut.
Tak terima dengan kebijakan itu, sang ibu mendatangi pesantren dan meminta ustadz yang bersangkutan untuk membuat video klarifikasi. Ia menilai anaknya tidak melakukan kesalahan besar.
“Anak saya viral, saya menuntut ustadz untuk klarifikasi,” ujar walisantri dalam video tersebut.
Namun ustadz menegaskan dirinya tidak merasa melakukan kesalahan. “Klarifikasi apa, Bu? Saya tidak punya salah apa-apa,” jawabnya.
Situasi semakin memanas ketika sang ibu menyatakan bahwa merokok adalah persoalan sepele dan menyebut suaminya merupakan anggota kepolisian. Ia bahkan mengancam akan melaporkan jika klarifikasi tidak segera dibuat.
“Merokok itu sepele, suami saya polisi. Pokoknya hari ini unggah video klarifikasi,” tegasnya.
Meski demikian, ustadz tetap bersikukuh tidak akan membuat klarifikasi karena merasa telah menjalankan aturan sesuai ketentuan pesantren.
Aturan Pesantren dan Hak Orang Tua
Dalam keterangan yang beredar, pihak pesantren disebut telah memberikan opsi kepada orang tua untuk membawa pulang anaknya jika tidak sepakat dengan kebijakan yang diterapkan. Langkah ini dianggap sebagai bentuk keterbukaan sekaligus konsistensi dalam menegakkan disiplin.
Pesantren pada umumnya memiliki tata tertib ketat, termasuk larangan merokok bagi santri. Aturan tersebut bukan hanya menyangkut kedisiplinan, tetapi juga pembinaan karakter dan kesehatan.
Kasus ini pun memunculkan perdebatan publik tentang batas kewenangan lembaga pendidikan dalam menjatuhkan sanksi, serta peran orang tua dalam mendukung proses pembinaan anak.
Reaksi Warganet Memanas
Kolom komentar media sosial dipenuhi beragam tanggapan. Sebagian besar warganet menilai orang tua seharusnya mendukung aturan pesantren, bukan membela kesalahan anak.
“Kalau anaknya nggak bisa dididik, bawa pulang saja, Bu,” tulis akun @nan***.
Komentar lain menyoroti pernyataan sang ibu yang menyebut suaminya polisi sebagai bentuk tekanan terhadap pengajar. Tidak sedikit yang menegaskan bahwa setiap pesantren memiliki aturan yang wajib dipatuhi oleh seluruh santri tanpa pengecualian.
“ANAKNYA SALAH PONDOK BU… PINDAHIN KE PONDOK CIPINANG BU… Udah Viral Tambah Aja Viral. KOCAKKK,” tulis akun @her***.
“JADI KARENA SUAMI IBU POLISI, TRUS IBU DENGAN SEENAKNYA MENGANCAM DAN MENEKAN ORANG GITU? WEEEEEHHHH HEBAT YA?” tulis akun @eri***.
“Di pesantren ada aturannya Bu, harus diikuti, dan harusnya orang tua berterima kasih karena tugas mendidik anak sudah dibantu oleh guru-guru di pesantren,” tulis akun @bud***.
Cuplikan Film Pendek yang Viral dan Banyak Diresapi Penonton
Menariknya, video viral ini ternyata merupakan cuplikan dari proses pembuatan film pendek yang terinspirasi dari kisah nyata.
Banyak penonton yang merasa relate karena konflik antara walisantri dan pihak pesantren sering terjadi di masyarakat.
Dikutip dari kolom komentar akun TikTok Kingzadma, Senin (23/2/2026):
“Kalaupun ini konten pastinya sedang menceritakan kisah asli,” tulis akun @tri***.
“Proses pembuatan video pendek itu, yang menceritakan tentang kejadian yang sering ada di kalangan masyarakat,” tulis akun @nov***.
Narasi ini berhasil menghadirkan dramatisasi situasi nyata, sehingga cepat menyebar di media sosial dan memicu diskusi publik.
Viral dan Dampak Sosial
Fenomena viral seperti ini menunjukkan bagaimana konflik internal lembaga pendidikan dapat dengan cepat meluas ke ruang publik digital. Dalam era media sosial, satu potongan video dapat membentuk opini luas tanpa konteks utuh.
Kasus walisantri dan ustadz ini menjadi pengingat pentingnya komunikasi yang bijak antara pihak sekolah dan orang tua. Di sisi lain, peristiwa ini juga membuka diskusi lebih luas mengenai pola asuh, kedisiplinan, serta etika bermedia sosial ketika menyangkut nama baik individu maupun institusi pendidikan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










