Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Update Kode Redeem FF 12 April 2026: Buruan Ambil Skin Titan & Emote Langka Hari Ini!

Minggu, 12 April 2026 01:00 WIB

Einstein dari Bojonegoro! Bocah 9 Tahun Ini Mampu Rakit Mesin Secara Otodidak

Sabtu, 11 April 2026 18:13 WIB

Buntut Sumpah Berujung Penistaan, Polisi Ringkus Terduga Pelaku Penginjak Al-Qur’an di Banten

Sabtu, 11 April 2026 17:51 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Update Kode Redeem FF 12 April 2026: Buruan Ambil Skin Titan & Emote Langka Hari Ini!
  • Einstein dari Bojonegoro! Bocah 9 Tahun Ini Mampu Rakit Mesin Secara Otodidak
  • Buntut Sumpah Berujung Penistaan, Polisi Ringkus Terduga Pelaku Penginjak Al-Qur’an di Banten
  • Warga Meradang! Kasus Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Bandung Picu Ketakutan: Anak Itu Bukan Mainan!
  • Terungkap! Rahasia di Balik Video Viral ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Part 2 di Dapur, Benarkah Fakta atau Cuma Editan?
  • Trump Gertak Iran: Siap Buka Paksa Selat Hormuz Meski Tanpa Izin Teheran!
  • Dedi Mulyadi Tanggapi Santai Tantangan Wagub Kalbar, Pilih Fokus Bangun Jabar
  • Selamat Jalan Bobotoh Sejati, Jenderal Rukandi Berpulang Hari Ini: Aspal Bandung Takkan Lagi Sama
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 12 April 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Akademisi Unpad Sebut Tanda Iliberal Demokrasi Ada di Indonesia

By Putra JuangSenin, 26 Februari 2024 11:46 WIB2 Mins Read
Akademisi Universitas Padjadjaran (Unpad), M. Adnan Yazar. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Akademisi Universitas Padjadjaran (Unpad), M. Adnan Yazar khawatir Indonesia akan menjadi negara yang menjalankan pemerintahan dengan semangat iliberal demokrasi.

Adnan mengungkapkan, ada beberapa ciri atau tanda jika Indonesia mengalami iliberal demokrasi.

“Pertama kecenderungannnya iliberal demokrasi itu penguasanya mengkonsolidasi power di eksekutif. Menumpuk kekuasaan di eksekutif,” ucap Adnan saat memberikan Kuliah Umum Perdana Departemen Hukum Tata Negara Unpad bertajuk ‘Pemilu 2024: Kemunduran Demokrasi?’, Senin (26/2/2024).

“Artinya, legislatif di lemahkan, parlemen dibikin disfungsi, dan mengatasi pengadalin, independensi pengadilannya di overcome sama eksekutif,” tambahnya.

Adnan mengatakan, ada banyak cara untuk mengkonsolidasi kekuasaan di eksekutif. Salah satunya dengan cara memasukan seseorang dalam lingkungan tersebut.

“Misalkan tadi masukin orang di hakim, atau melemahkan parlemen gampang, tarik aja jadi koalisi. Kalau engga mau berkoalisi kasusnya disikat,” ungkapnya.

Baca Juga:  7 Kuliner Unik yang Wajib Kamu Coba, Ada Ampiang Dadiah hingga Nasi Kentut

Namun demikian, pemerintahan dengan iliberal demokrasi tidak bener-benar ingin menjadi totaliterisme atau totalitarian.

“Dia engga bener-bener mau bikin engga ada perlawanan, dia pasti membiarkan ada oposisi di parlemen biar seolah-seolah ini demokratis tapi oposisinya engga bisa ngapa-ngapain selain walkout kalau ada pembahasan,” imbuhnya.

“Kenapa ini dibutuhkan? Karena dengan cara ini pembentukan undang-undang bisa seenaknya. DPR-nya lemah, pengadilan udah kita tuani,” sambungnya.

Baca Juga:  Sepak Terjang Bjorka, Hacker Viral yang Sempat Bikin Pemerintah Ketar-ketir

Menurutnya, alasan salah satu alasa iliberal demokrasi bisa berlanjut lantaran kebebasan sipil dan ekonominya terbatas.

“Kalau kebebasan ekonomi itu soal kesejahteraan masyarakat, karena masyarakat yang tidak sejahtera adalah masyarakat dependen ke pemerintah, engga punya kebebasan sipil, mungkin dia gampang dimobilisasi. Jadi sangat mudah untuk penguasa maintenance kekuasaanya kalau masyarakat secara ekonomi dependen, secara ekonomi dia engga otonom,” tuturnya.

Selain itu, iliberal demokrasi juga membuat eksekutif yang berkuasa menyalahgunakan resources publik.

“Menggunakan aparat publik disalahgunakan untuk kepentingan dia, untuk mendukung visi misi dia, aparat yang engga sesuai dengan visi misi tinggal diganti orangnya, dimutasi ke kampung, itu sangat mudah bagi pemerintah,” katanya.

Baca Juga:  STY Panggil Tiga Pemain Muda Persib Bandung untuk Piala AFF 2024

Terakhir, iliberal demokrasi bisa terjadi karena adanya pemimpin yang karismatik dan disukai rakyat namun tidak suka saat dikritik.

“Karena dia sukanya adu personal, adu suka engga suka aja. Tapi dibahas programnya masuk akal engga, programnya ngerugiin atau engga itu dia engga mau, yang penting situ suka sama saya, saya adalah patriot negara, saya berkorban demi negara, saya ikhlas orangnya, kan gitu. Cara mainnya gitu karismatik leader yang populis tapi demagog,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Adnan Yazar Iliberal Demokrasi Indonesia Unpad
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Buntut Sumpah Berujung Penistaan, Polisi Ringkus Terduga Pelaku Penginjak Al-Qur’an di Banten

Warga Meradang! Kasus Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Bandung Picu Ketakutan: Anak Itu Bukan Mainan!

Trump Gertak Iran: Siap Buka Paksa Selat Hormuz Meski Tanpa Izin Teheran!

Dedi Mulyadi Tanggapi Santai Tantangan Wagub Kalbar, Pilih Fokus Bangun Jabar

program MBG

Warning! Keracunan Massal Usai Santap MBG Terjadi Lagi di Jabar, Kali Ini Ratusan Siswa di Tasik Jadi Korban

Tantangan Terbuka! Wagub Kalbar vs Dedi Mulyadi: Siapa yang Paling Jago Kelola Anggaran?

Terpopuler
  • Link Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Part 2 Viral, Hati-Hati Bisa Bobol Rekening
  • Viral video part 2 ibu tiri vs anak tiri.
    Heboh! Video Viral Ibu Tiri di Ladang Sawit Bikin Netizen Berburu Link 7 Menit ‘No Sensor’
  • Terungkap! Rahasia di Balik Video Viral ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Bikin Geger
  • Link Video Diburu Netizen, Fakta di Balik Ibu Tiri vs Anak Tiri Terbongkar
  • Viral ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri Part 2’ Gegerkan Medsos, Link Full Video Ternyata Berbahaya!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.