Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Hanya Lemari Ini yang Utuh! Keajaiban Al-Qur’an Selamat dari Kebakaran Madrasah di Garut

Sabtu, 31 Oktober 2026 14:45 WIB

Badai Boikot Paling Parah? Fakta Mengejutkan Dibalik Hancurnya Rans Carnival 2026!

Sabtu, 31 Oktober 2026 13:26 WIB

Hujan Deras Guyur Bandung: Dinding Sungai Cipaganti Jebol, 114 Warga Terdampak

Sabtu, 31 Oktober 2026 12:11 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Hanya Lemari Ini yang Utuh! Keajaiban Al-Qur’an Selamat dari Kebakaran Madrasah di Garut
  • Badai Boikot Paling Parah? Fakta Mengejutkan Dibalik Hancurnya Rans Carnival 2026!
  • Hujan Deras Guyur Bandung: Dinding Sungai Cipaganti Jebol, 114 Warga Terdampak
  • Tarif Berdasarkan Durasi, Pengelola Situs Live Porno Rekrut Belasan Talent Sejak 2025
  • Momen Amanda Manopo & Kenny Austin Bikin Konten Anak, Ternyata Sosoknya Setulus Ini
  • Waspada Ledakan Kuda Hitam! Tren Positif Isenmulang Kalteng FC Ancam Dominasi Persib Bandung
  • Saldo KKS Belum Masuk? Cek 3 Hal Ini Sebelum Panik soal Bansos Tahap 4
  • Wajib Mampir! 5 Tempat Makan di Bandung yang Selalu Diburu Wisatawan Luar Kota
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 31 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Akademisi Unpad Sebut Tanda Iliberal Demokrasi Ada di Indonesia

By Putra JuangSenin, 26 Februari 2024 11:46 WIB2 Mins Read
Akademisi Universitas Padjadjaran (Unpad), M. Adnan Yazar. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Akademisi Universitas Padjadjaran (Unpad), M. Adnan Yazar khawatir Indonesia akan menjadi negara yang menjalankan pemerintahan dengan semangat iliberal demokrasi.

Adnan mengungkapkan, ada beberapa ciri atau tanda jika Indonesia mengalami iliberal demokrasi.

“Pertama kecenderungannnya iliberal demokrasi itu penguasanya mengkonsolidasi power di eksekutif. Menumpuk kekuasaan di eksekutif,” ucap Adnan saat memberikan Kuliah Umum Perdana Departemen Hukum Tata Negara Unpad bertajuk ‘Pemilu 2024: Kemunduran Demokrasi?’, Senin (26/2/2024).

“Artinya, legislatif di lemahkan, parlemen dibikin disfungsi, dan mengatasi pengadalin, independensi pengadilannya di overcome sama eksekutif,” tambahnya.

Adnan mengatakan, ada banyak cara untuk mengkonsolidasi kekuasaan di eksekutif. Salah satunya dengan cara memasukan seseorang dalam lingkungan tersebut.

Baca Juga:  Menpora Prediksi Timnas Indonesia Raih Poin Lawan Bahrain: Minimal Imbang

“Misalkan tadi masukin orang di hakim, atau melemahkan parlemen gampang, tarik aja jadi koalisi. Kalau engga mau berkoalisi kasusnya disikat,” ungkapnya.

Namun demikian, pemerintahan dengan iliberal demokrasi tidak bener-benar ingin menjadi totaliterisme atau totalitarian.

“Dia engga bener-bener mau bikin engga ada perlawanan, dia pasti membiarkan ada oposisi di parlemen biar seolah-seolah ini demokratis tapi oposisinya engga bisa ngapa-ngapain selain walkout kalau ada pembahasan,” imbuhnya.

“Kenapa ini dibutuhkan? Karena dengan cara ini pembentukan undang-undang bisa seenaknya. DPR-nya lemah, pengadilan udah kita tuani,” sambungnya.

Baca Juga:  Setelah Bio Farma, 9 Negara Delegasi OIC Comstech Fellowship Program Ikuti Pelatihan di Unpad

Menurutnya, alasan salah satu alasa iliberal demokrasi bisa berlanjut lantaran kebebasan sipil dan ekonominya terbatas.

“Kalau kebebasan ekonomi itu soal kesejahteraan masyarakat, karena masyarakat yang tidak sejahtera adalah masyarakat dependen ke pemerintah, engga punya kebebasan sipil, mungkin dia gampang dimobilisasi. Jadi sangat mudah untuk penguasa maintenance kekuasaanya kalau masyarakat secara ekonomi dependen, secara ekonomi dia engga otonom,” tuturnya.

Selain itu, iliberal demokrasi juga membuat eksekutif yang berkuasa menyalahgunakan resources publik.

“Menggunakan aparat publik disalahgunakan untuk kepentingan dia, untuk mendukung visi misi dia, aparat yang engga sesuai dengan visi misi tinggal diganti orangnya, dimutasi ke kampung, itu sangat mudah bagi pemerintah,” katanya.

Baca Juga:  Jay Idzes Dilirik Banyak Klub Eropa, Kata Pakar Transfer Italia

Terakhir, iliberal demokrasi bisa terjadi karena adanya pemimpin yang karismatik dan disukai rakyat namun tidak suka saat dikritik.

“Karena dia sukanya adu personal, adu suka engga suka aja. Tapi dibahas programnya masuk akal engga, programnya ngerugiin atau engga itu dia engga mau, yang penting situ suka sama saya, saya adalah patriot negara, saya berkorban demi negara, saya ikhlas orangnya, kan gitu. Cara mainnya gitu karismatik leader yang populis tapi demagog,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Indonesia Unpad
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Hanya Lemari Ini yang Utuh! Keajaiban Al-Qur’an Selamat dari Kebakaran Madrasah di Garut

Hujan Deras Guyur Bandung: Dinding Sungai Cipaganti Jebol, 114 Warga Terdampak

Tarif Berdasarkan Durasi, Pengelola Situs Live Porno Rekrut Belasan Talent Sejak 2025

Bansos

Saldo KKS Belum Masuk? Cek 3 Hal Ini Sebelum Panik soal Bansos Tahap 4

Bansos Tahap 4 Belum Cair? Cek Dulu Status Verifikasi Rekening KKS Anda

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Kapan Bansos PKH dan BPNT Tahap 4 Cair? Cek Status Penerima Lewat HP di Sini

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Berkas Kasus UU ITE Bambang Soeharto Hampir Rampung, Simalango Law Firm Soroti Langkah Tersangka Lapor Balik Saksi
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.