bukamata.id – Di tengah hiruk-pikuk jalanan Kota Surabaya, seorang pengemudi ojek online bernama Ambar Wanto atau yang lebih dikenal dengan akun media sosial @mas_ambar88, mencuri perhatian warganet karena kebiasaan uniknya: belajar bahasa Inggris di atas motor saat menunggu order masuk.
Tanpa kelas mahal, tanpa tutor privat, pria yang akrab disapa Mas Ambar itu justru menjadikan waktu kosong di jalan sebagai ruang belajar mandiri. Bermodal ponsel dan aplikasi Google Translate, ia konsisten melatih kemampuan bahasa Inggris setiap hari.
Belajar dari Jok Motor, Bukan Ruang Kelas
Kebiasaan Mas Ambar dimulai dari hal sederhana. Saat orderan sepi, ia membuka Google Translate, mendengarkan pelafalan (pronunciation), lalu mengulanginya berkali-kali hingga terbiasa.
Ritual itu ia lakukan secara konsisten, bahkan menjadi bagian dari rutinitas hariannya sebagai driver ojek online di Surabaya.
“Belajar bahasa Inggris itu gratis, yang dibutuhkan cuma effort,” begitu prinsip yang ia pegang.
Kini, kemampuan bahasa Inggrisnya terus berkembang. Bahkan, ia sudah mulai percaya diri berbicara dengan penutur asing (WNA) dalam percakapan sederhana.
Profil Mas Ambar: Dari Pedagang Es Kacang Hijau Jadi Driver Ojol
Sebelum menjadi pengemudi ojek online sejak 2018, Ambar Wanto pernah berprofesi sebagai pedagang es kacang hijau keliling di Surabaya.
Keputusan beralih ke ojek online ia ambil karena alasan fleksibilitas. Menurutnya, menjadi driver ojol lebih mudah dijalankan tanpa harus memikirkan bahan dagangan seperti saat berdagang.
Namun di balik kesibukan itu, ia tidak pernah berhenti belajar. Justru dari pekerjaan inilah semangat belajarnya tumbuh.
Motivasi Besar: Anak Jadi Alasan Utama Belajar Bahasa Inggris
Salah satu alasan kuat Mas Ambar belajar bahasa Inggris adalah anak semata wayangnya yang kini duduk di bangku SMP.
Ia ingin memberikan contoh langsung kepada anaknya bahwa belajar tidak boleh hanya diperintahkan, tetapi juga harus dicontohkan.
“Awalnya itu ya memotivasi anak saya. Soalnya saya nyuruh-nyuruh belajar, tapi saya sendiri kan enggak belajar. Akhirnya saya juga ikut belajar,” ungkapnya.
Dari situ, belajar bahasa Inggris bukan lagi sekadar hobi, tetapi menjadi bentuk tanggung jawab sebagai orang tua.
Dari Google Translate hingga Komunitas Bahasa Inggris
Perjalanan belajar Mas Ambar tidak berhenti di Google Translate. Ia juga belajar dari video media sosial, percakapan sehari-hari, hingga komunitas bahasa Inggris.
Ia bahkan pernah mengikuti program Rumah Bahasa Surabaya, program gratis dari Pemerintah Kota Surabaya yang menyediakan kelas bahasa asing bagi masyarakat, termasuk pengemudi ojol.
Kini, ia juga aktif di komunitas English Conversation Club (ECC) Surabaya, tempat ia rutin berlatih setiap minggu bersama anak muda lainnya.
Meski menjadi peserta paling senior, semangatnya tidak pernah surut.
Konten Viral di Media Sosial, Dapat Dukungan hingga Luar Negeri
Konsistensi Mas Ambar merekam proses belajarnya kemudian diunggah ke media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook.
Konten tersebut justru viral dan mendapatkan respon positif dari warganet, bahkan dari luar negeri. Banyak yang mengirim pesan dukungan, koreksi pengucapan, hingga ajakan ngobrol langsung.
Beberapa akun luar negeri seperti dari Australia dan Belanda juga diketahui pernah berinteraksi dengannya.
“Saya baru sadar ternyata media sosial jangkauannya luas banget. Ya siapa tahu nasib bisa berubah,” ujarnya.
Komentar Warganet: Inspiratif dan Menginspirasi
Kisah Mas Ambar juga ramai diperbincangkan di kolom komentar Instagram @mental_juara.id. Banyak warganet yang merasa terinspirasi oleh semangat belajarnya.
Salah satu komentar menyebut:
“Aksen boleh ‘Medok Deluxe’, tapi semangatnya ‘International Class’,” tulis akun @han***
Komentar lain juga menuliskan:
“Wah Bapak, saya iri, kalau Bapak bisa maka saya pun harus bisa,” tulis akun @sie***
“Teknologi memudahkan kita, tergantung bagaimana kita memanfaatkannya,” tulis akun @mel***
Respons tersebut menunjukkan bahwa kisah Mas Ambar bukan hanya hiburan, tetapi juga motivasi bagi banyak orang.
Media Sosial Jadi Ruang Belajar Baru
Bagi Mas Ambar, media sosial bukan sekadar tempat hiburan. Ia melihatnya sebagai ruang belajar, ruang berkembang, bahkan peluang masa depan.
Ia juga pernah berkolaborasi dengan sejumlah kreator konten seperti @londokampung dan @fabionotttet pada tahun 2026.
Meski begitu, ia tetap menegaskan bahwa konten yang ia buat bukan semata-mata untuk viral, melainkan bagian dari proses belajar yang ia dokumentasikan.
Pesan Mas Ambar: Jangan Takut Salah
Dari seluruh perjalanannya, Mas Ambar punya satu pesan sederhana namun kuat:
“Pede aja, kalau salah ya perbaiki, karena salah juga bagian dari proses belajar.”
Ia juga menekankan pentingnya bijak dalam menggunakan media sosial, terutama jika sudah mulai dikenal publik atau membawa nama pihak lain.
Penutup: Bukti Belajar Tidak Kenal Batas
Kisah Mas Ambar menjadi bukti bahwa belajar tidak selalu membutuhkan ruang kelas atau biaya mahal. Dengan tekad, konsistensi, dan memanfaatkan teknologi sederhana, siapa pun bisa berkembang.
Dari atas motor ojek online di jalanan Surabaya, ia menunjukkan bahwa mimpi untuk bisa berbahasa asing bukan hal yang mustahil, bahkan di tengah kesibukan mencari nafkah sekalipun.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










