bukamata.id – Cileunyi, nama yang hampir pasti disebut setiap kali warga Bandung dan pemudik dari arah timur membicarakan kemacetan.
Kawasan yang terletak di ujung timur Kabupaten Bandung ini memang dikenal sebagai titik paling padat di jalur perlintasan menuju Bandung Raya. Setiap hari, lalu lintas dari arah Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, hingga Jawa Tengah tumpah ruah di Cileunyi.
Tak heran, kemacetan panjang kerap menjadi pemandangan rutin, bahkan bisa menjalar hingga lebih dari lima kilometer dari Gerbang Tol Purbaleunyi sampai ke perempatan Cibiru.
Namun, di balik reputasinya sebagai kawasan langganan macet, Cileunyi ternyata menyimpan cerita asal-usul nama yang tenang, alami, dan kerap disalahartikan.
Dilansir dari berbagai sumber, nama “Cileunyi” berasal dari bahasa Sunda, yakni “cai” yang berarti air dan “lunyu” yang berarti jernih.
Konon, di masa lalu, tepat di depan lokasi Terminal Cileunyi saat ini, terdapat sebuah sumber mata air yang sangat jernih dan menjadi andalan masyarakat setempat.
Sumber mata air itu terletak di bawah pohon beringin besar, yang menurut warga sekitar, dulu menjadi tempat berkumpul dan istirahat karena suasananya yang sejuk dan segar.
Karena kejernihan airnya, warga menyebut tempat itu “Cai-Lunyu”, yang kemudian berubah pelafalan menjadi “Cileunyi”. Dari sinilah nama kawasan ini berasal, jauh dari bayangan tentang kendaraan padat dan deru klakson yang kini mendominasi.
Secara administratif, Kecamatan Cileunyi baru terbentuk pada tahun 1987. Pembentukannya merupakan dampak dari pemekaran wilayah Kota Bandung. Wilayah yang sebelumnya termasuk Kecamatan Ujungberung kemudian dibagi, dan sebagian darinya menjadi Kecamatan Cileunyi serta Cilengkrang.
Sejak saat itu, Cileunyi terus berkembang menjadi simpul transportasi penting di Jawa Barat. Kawasan ini kini menjadi titik temu empat jalur utama: Tol Purbaleunyi, Tol Cisumdawu, jalan nasional Bandung–Cirebon, dan Bandung–Yogyakarta.
Posisi strategis ini memang mempercepat akses, tapi juga membawa konsekuensi berupa kemacetan yang tak terhindarkan.
Kini, di tengah hiruk-pikuk kendaraan dan padatnya lalu lintas, sejarah tentang mata air jernih, cikal bakal nama Cileunyi mulai terlupakan.
Namun, setiap kali Anda terjebak macet di kawasan ini, mungkin cerita tentang “Cai-Lunyu” bisa menjadi pengingat bahwa Cileunyi pernah identik dengan ketenangan, kesejukan, dan kejernihan alam. Sebuah ironi yang menyentuh, ketika nama yang lahir dari air bening kini dibayangi oleh lautan kendaraan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











