bukamata.id – Dunia maya kembali dihebohkan dengan kemunculan konten viral bertajuk “Ibu Tiri vs Anak Tiri” yang beredar luas di berbagai platform media sosial sejak Senin (13/4/2026).
Video dengan latar kebun sawit hingga area dapur tersebut memicu perdebatan sengit di kalangan warganet.
Fenomena ini tidak hanya menarik perhatian publik, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terkait potensi manipulasi konten serta dampak psikologis yang ditimbulkan.
Indikasi Manipulasi Algoritma dan Clickbait
Sejumlah pengamat literasi digital menilai viralnya konten tersebut tidak lepas dari dugaan manipulasi algoritma yang dilakukan oleh pihak tertentu. Strategi ini umumnya menggunakan judul sensasional atau clickbait untuk menarik perhatian pengguna.
Konten dengan narasi dramatis seperti konflik keluarga dinilai memiliki daya tarik tinggi, sehingga mendorong pengguna untuk mengklik, menonton, hingga membagikan ulang tanpa verifikasi.
Padahal, setiap interaksi yang dilakukan justru memperkuat distribusi konten tersebut di algoritma platform.
“Setiap klik dan bagikan secara tidak langsung memberikan validasi bagi pembuat konten untuk terus memproduksi tayangan serupa,” ungkap seorang ahli literasi digital.
Dampak Psikologis bagi Penonton
Selain soal keaslian konten, paparan video dengan muatan konflik domestik juga berpotensi menimbulkan dampak psikologis bagi masyarakat.
Ahli menyebut, konsumsi berulang terhadap konten negatif dapat memicu stres, kecemasan, bahkan mempengaruhi persepsi terhadap hubungan keluarga.
Situasi ini menjadi perhatian serius, terutama bagi pengguna media sosial yang rentan terhadap konten emosional.
Imbauan Verifikasi Informasi
Para ahli mengimbau masyarakat untuk lebih kritis dalam menyikapi konten viral. Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
- Memastikan sumber unggahan berasal dari akun resmi
- Membandingkan detail visual dengan narasi yang beredar
- Melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image search)
- Tidak langsung membagikan konten yang belum terverifikasi
“Masyarakat harus lebih selektif dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum memiliki dasar yang jelas,” tegasnya.
Pengawasan Ketat dari Otoritas
Di sisi lain, otoritas siber bersama pihak kepolisian terus melakukan pemantauan terhadap penyebaran konten yang berpotensi menimbulkan keresahan publik.
Masyarakat juga didorong untuk memanfaatkan fitur pelaporan (report) di setiap platform media sosial guna membantu menekan penyebaran konten bermasalah.
Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan aman bagi semua pengguna.
Pentingnya Menjaga Privasi dan Etika Digital
Sebagai penutup, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga privasi keluarga serta tidak terlibat dalam penyebaran konten yang belum jelas kebenarannya.
Kesadaran kolektif dalam bermedia sosial menjadi kunci untuk mencegah konflik, menjaga kesehatan mental, serta menciptakan ekosistem digital yang lebih bertanggung jawab.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










