bukamata.id – Lonjakan nilai tukar mata uang asing yang memicu kenaikan harga komoditas impor mulai memukul para pelaku usaha lokal, termasuk industri tahu dan tempe di Kota Bandung.
Menyikapi kekhawatiran para pengusaha yang terancam gulung tikar, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan angkat bicara mengenai langkah taktis yang harus diambil.
Farhan mengakui bahwa ketergantungan terhadap bahan baku impor menjadi tantangan berat yang tidak bisa dihindari saat ini.
“Iya, ini yang sangat saya khawatirkan sebetulnya. Karena gini, ini sekali lagi, ini mah fakta ya. 98% daging sapi dan sebagian paha ayam spesifik, gandum bahan terigu, serta kedelai bahan tahu dan tempe itu semuanya adalah impor 100%,” ucap Farhan di Balai Kota Bandung, Senin (1/6/2026).
Tekankan Efisiensi Produksi
Mengingat harga kedelai dunia yang melonjak akibat faktor eksternal, Farhan menegaskan bahwa jalan keluar utama bagi para pengusaha saat ini adalah melakukan efisiensi produksi.
Namun, Farhan memberikan catatan keras agar efisiensi tersebut tidak dilakukan dengan cara memangkas standar pengelolaan lingkungan. Ia mengingatkan para pengusaha tahu untuk tetap berkomitmen menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat produksi.
“Salah satu bentuk efisiensi produksinya adalah pastikan pembuangan limbahnya tidak mencemari lingkungan. Karena kalau mencemari lingkungan, mau tidak mau kita berikan sanksi. Ketika sanksi itu terjadi, biaya produksi naik,” jelasnya.
“Jadi jangan sampai melanggar pencemaran lingkungan untuk limbah dari tahu, sehingga tetap efisien, ya,” lanjutnya.
Subsidi Transportasi Masih Berjalan
Di sisi lain, Pemkot Bandung memastikan bahwa komponen biaya lainnya akan ditekan semaksimal mungkin guna membantu napas para pengusaha. Salah satunya adalah sektor logistik yang masih mendapatkan bantuan dari pemerintah.
Menurut Farhan, biaya pengangkutan saat ini masih disubsidi besar-besaran oleh pemerintah pusat. Dengan demikian, komponen biaya yang mengalami kenaikan murni hanya berasal dari harga kedelai impor itu sendiri.
Pihaknya berharap dengan menjaga efisiensi di sektor limbah dan memanfaatkan subsidi transportasi, para pengusaha tahu di Kota Bandung dapat bertahan melewati masa-masa sulit ini.
“Yang lainnya kita upayakan efisien. Biaya pengangkutan pemerintah masih mensubsidi banyak dari pemerintah pusat. Jadi yang naik cuma harga kedelainya karena memang impor,” tandasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









