Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Setahun Lebih Dilupakan Timnas, Rafael Struick: Saya Tidak Berharap Apa-apa

Kamis, 29 Oktober 2026 21:11 WIB

Sosro Buka Suara! Investigasi Dugaan Teh Botol Berisi Sabun di Tengah Demo

Kamis, 29 Oktober 2026 21:06 WIB

Cuan Hampir Rp1 Miliar! Persib Panen Bonus AFC Usai Tekuk Melbourne Victory

Kamis, 29 Oktober 2026 20:33 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Setahun Lebih Dilupakan Timnas, Rafael Struick: Saya Tidak Berharap Apa-apa
  • Sosro Buka Suara! Investigasi Dugaan Teh Botol Berisi Sabun di Tengah Demo
  • Cuan Hampir Rp1 Miliar! Persib Panen Bonus AFC Usai Tekuk Melbourne Victory
  • Teror Suporter Beruntun di Oktober, PSSI Siapkan Sanksi Pengurangan Poin
  • Bongkar Rekam Jejak Shalima Hakim! Putri Wanda Hamidah yang Nekat Lanjutkan Perjuangan 98
  • Miris! Pasien Kanker di Cililin Ditandu Lebih dari Sejam karena Ambulans Tak Bisa Masuk
  • Baru Hajar Melbourne Victory, Persib Justru Kehilangan Igor Tolic di Super League
  • Selalu Bawa Celurit dan Hobi Ajak Tawuran, Ini Pengakuan Pelaku Pembacokan Bobotoh
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 29 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Harga Kedelai Meroket, Wali Kota Bandung Minta Pengusaha Tahu Efisiensi Tanpa Rusak Lingkungan

By Mulki AlbarSenin, 1 Juni 2026 18:28 WIB2 Mins Read
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Foto: bukamata.id/ M Rafki.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Lonjakan nilai tukar mata uang asing yang memicu kenaikan harga komoditas impor mulai memukul para pelaku usaha lokal, termasuk industri tahu dan tempe di Kota Bandung.

Menyikapi kekhawatiran para pengusaha yang terancam gulung tikar, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan angkat bicara mengenai langkah taktis yang harus diambil.

Farhan mengakui bahwa ketergantungan terhadap bahan baku impor menjadi tantangan berat yang tidak bisa dihindari saat ini.

“Iya, ini yang sangat saya khawatirkan sebetulnya. Karena gini, ini sekali lagi, ini mah fakta ya. 98% daging sapi dan sebagian paha ayam spesifik, gandum bahan terigu, serta kedelai bahan tahu dan tempe itu semuanya adalah impor 100%,” ucap Farhan di Balai Kota Bandung, Senin (1/6/2026).

Baca Juga:  HMI Cabang Bandung Demo Balai Kota: Desak Pemkot Buka Mata Soal RTH dan Kemiskinan

Tekankan Efisiensi Produksi

Mengingat harga kedelai dunia yang melonjak akibat faktor eksternal, Farhan menegaskan bahwa jalan keluar utama bagi para pengusaha saat ini adalah melakukan efisiensi produksi.

Namun, Farhan memberikan catatan keras agar efisiensi tersebut tidak dilakukan dengan cara memangkas standar pengelolaan lingkungan. Ia mengingatkan para pengusaha tahu untuk tetap berkomitmen menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat produksi.

Baca Juga:  Soroti Rekening Divisi Terpisah, Walikota Farhan Bongkar Kejanggalan Keuangan Perumda Tirtawening

“Salah satu bentuk efisiensi produksinya adalah pastikan pembuangan limbahnya tidak mencemari lingkungan. Karena kalau mencemari lingkungan, mau tidak mau kita berikan sanksi. Ketika sanksi itu terjadi, biaya produksi naik,” jelasnya.

“Jadi jangan sampai melanggar pencemaran lingkungan untuk limbah dari tahu, sehingga tetap efisien, ya,” lanjutnya.

Subsidi Transportasi Masih Berjalan

Di sisi lain, Pemkot Bandung memastikan bahwa komponen biaya lainnya akan ditekan semaksimal mungkin guna membantu napas para pengusaha. Salah satunya adalah sektor logistik yang masih mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Baca Juga:  Warning Keras Wali Kota Bandung: Jual Beli Kursi SPMB Bisa Berujung Penjara!

Menurut Farhan, biaya pengangkutan saat ini masih disubsidi besar-besaran oleh pemerintah pusat. Dengan demikian, komponen biaya yang mengalami kenaikan murni hanya berasal dari harga kedelai impor itu sendiri.

Pihaknya berharap dengan menjaga efisiensi di sektor limbah dan memanfaatkan subsidi transportasi, para pengusaha tahu di Kota Bandung dapat bertahan melewati masa-masa sulit ini.

“Yang lainnya kita upayakan efisien. Biaya pengangkutan pemerintah masih mensubsidi banyak dari pemerintah pusat. Jadi yang naik cuma harga kedelainya karena memang impor,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Muhammad Farhan UMKM Bandung Wali Kota Bandung
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Sosro Buka Suara! Investigasi Dugaan Teh Botol Berisi Sabun di Tengah Demo

Bongkar Rekam Jejak Shalima Hakim! Putri Wanda Hamidah yang Nekat Lanjutkan Perjuangan 98

Miris! Pasien Kanker di Cililin Ditandu Lebih dari Sejam karena Ambulans Tak Bisa Masuk

Selalu Bawa Celurit dan Hobi Ajak Tawuran, Ini Pengakuan Pelaku Pembacokan Bobotoh

PKL Bandung Wajib Tahu! Lapak Permanen Dilarang, Jualan Maksimal 12 Jam

Tagih Janji Aksi 20 Oktober, Ratusan Mahasiswa Kembali Demo di Gedung DPRD Jabar

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.