SEMPAT beredar fenomena di tiktok ataupun instagram yang menggambarkan fenomena lulusan jurusan tertentu dari universitas ternama di Indonesia bekerja jauh berbeda dengan jurusan yang ditempuh.
Fenomena tersebut tidak hanya dialami satu dua universitas, bahkan tidak hanya dialami universitas di Indonesia saja namun di seluruh dunia. Fenomena tersebut dinamakan horizontal mismatch.
Data dari jurnal ketenagakerjaan Kementerian Tenaga Kerja menunjukkan pekerja lulusan pendidikan tinggi di Indonesia yang mengalami horizontal mismatch adalah sebanyak 33,50 persen dengan karakteristik yang mempengaruhinya adalah umur, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan tinggi terakhir, rumpun bidang studi, keikutsertaan pelatihan, dan pengalaman bekerja sebelum lulus.
Ketidakcocokan lulusan dan pekerjaan juga didukung kondisi ekonomi dan politik yang tidak menentu. Pilihan-pilihan pekerjaan menjadi semakin meluas yakni pekerjaan formal, non formal dan informal menjadi opsi lain untuk para lulusan. Tidak hanya terbatas sesuai profil lulusan tapi sesuai dengan kompetensi dan keterampilan yang dimiliki. Pekerjaan lintas jurusan menjadi hal yang wajar dan bisa menjadi peluang baru untuk para lulusan.
Dalam konteks karier, sejatinya setiap individu harus terus bersiap dan mau belajar sepanjang hayat agar tetap bisa beradaptasi dan relevan dengan perubahan zaman.
Kemampuan belajar sepanjang hayat atau long lifelearning skill menjadi sebuah senjata utama dalam menghadapi era pekerjaan lintas jurusan ini. Belajar sepanjang hayat menjadi tanggung jawab individu, kolektif dan diwakili.
Tanggung jawab individu tercermin saat seseorang dengan sengaja memilih pekerjaan yang berbeda jurusan, mengikuti pelatihan/pengembangan diri untuk bisa beradaptasi dan bekerja dengan baik.
Keterbukaan individu akan sangat membantu individu mendapatkan keterampilan-keterampilan baru yang relevan. Tuntutan keterampilan saat ini adalah m-shape. M-shape skills adalah individu yangmemiliki keahlian mendalam di dua atau lebih bidang yang berbeda dan saling melengkapi,
Tanggung jawab kolektif, di sisi lain, individu juga perlu bertindak bersama dengan orang lain misalnya mengajak beberapa kawan untuk mempelajari hal baru atau jika sudah masuk dalam pekerjaan tertentu baik formal maupun informal bergabung bersama komunitas untuk terus mengembangkan diri bersama dan tidak merasa tersesat sendirian.
Tanggung jawab proxy (diwakili) bertindak melalui orang lain yang lebih mampu atau berada dalam posisi yang lebih baik untuk mencapai hasil yang diinginkan. Misalnya menemui pimpinan untuk bisa mendiskusikan kemungkinan membuka peluang para pekerja lintas jurusan lain untuk bisa diterima, tumbuh dan berkembang bersama.
Saat tanggung jawab individu, kolektif dan diwakili dijalankan keterampilan belajar sepanjang hayat pun akan bisa dilakukan dengan menyenangkan. Meskipun kondisi pekerja lintas jurusan terkadang tidak selalu ideal dan memilih berdasarkan minat atau passion, keterdesakan secara ekonomi sering menjadi alasan utama seseorang akhirnya mengalami horizontal mismatch.
Pekerja lintas jurusan tetap bisa menjadi pekerja yang sukses dan kepuasan kerja pun bisa ditetap diraih, bahkan tak jarang menjadi ahli di bidang baru yang ditekuni saat ini.
Penulis:Yessika Nurmasari. Dosen Mata Kuliah Bimbingan Karier Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










