bukamata.id – Desa Balungjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, mendadak menjadi sorotan publik setelah patung macan putih di desa tersebut viral karena bentuknya yang dianggap “aneh” dan nyentrik.
Patung yang dibuat oleh pematung lokal, Suwarni, ini langsung memicu perbincangan hangat di media sosial. Banyak warganet menilai bentuknya mirip kuda nil, bukan macan putih sebagaimana seharusnya.
Meski awalnya menuai cibiran, justru keunikan inilah yang membuat patung ini ramai diperbincangkan.
Menurut pakar media sosial, fenomena seperti ini adalah contoh klasik dari viral capitalism, di mana kontroversi menjadi magnet perhatian. Hujatan dan komentar negatif berubah menjadi atensi yang mendorong traffic, yang akhirnya memunculkan peluang ekonomi bagi warga setempat.
“Kalau patungnya dibuat normal dan gagah seperti standar biasa, mungkin hanya dilewati orang. Tapi karena bentuknya ‘aneh’, orang datang, berbicara, bahkan memotretnya untuk media sosial,” ujar seorang analis media sosial.
Komentar Warganet Banjiri Media Sosial
Fenomena patung ini langsung menjadi bahan perdebatan di media sosial, terutama Instagram dan TikTok. Beberapa komentar menarik dikutip dari akun Instagram @opiniid, Rabu (7/1/2026):
- “@vik***: Sedikit lebih beda lebih baik dari pada sedikit lebih baik.”
- “@ali***: Justru di situ letak seninya.”
- “@han***: Pematungnya hebat. Agar tidak menyerupai ciptaan Tuhan, dibuatkan kreasi seperti ini.”
- “@lam***: Karena dia nggak pakai uang negara, maka diterima masyarakat. Coba kalau pakai anggaran 3,5 miliar, beda pasti ceritanya.”
Komentar-komentar ini menunjukkan bagaimana kontroversi dan keunikan bisa menjadi daya tarik yang kuat, bahkan untuk hal-hal yang awalnya dianggap “aneh” atau tidak lazim.
Patung Ditawar Rp 180 Juta, Pematung Pilih Tolak
Selain viral di media sosial, patung macan putih ini juga menarik perhatian kolektor dan penikmat seni. Suwarni mengungkapkan bahwa patungnya sempat ditawar Rp 180 juta oleh seorang warga asal Bali.
“Sempat ada yang menawar sampai Rp 180 juta, katanya orang Bali, tapi saya tolak,” kata Suwarni.
Suwarni sendiri dikenal sebagai pematung berbagai hewan dan sudah lama menekuni bidang seni pahat. Ia mengaku tidak menyangka patung yang awalnya hanya untuk hiasan desa bisa menjadi fenomena nasional.
Wisata Dadakan, Ekonomi Warga Melonjak
Sejak viral, Desa Balungjeruk ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Pengunjung tidak hanya penasaran ingin melihat patung, tetapi juga berbelanja makanan, minuman, mainan anak, hingga parkir.
Kawasan sekitar patung kini menjadi pusat UMKM dadakan, dengan pedagang lokal dan luar desa memanfaatkan momentum ini.
Kepala Desa Balungjeruk, Safi’i, menyambut positif fenomena ini. Menurutnya, patung ini bukan hanya menyedot perhatian wisatawan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal.
“Harapan ke depan, patung ini terus bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama untuk peningkatan kesejahteraan warga dan pelaku UMKM,” ujar Safi’i.
Fenomena Viral dan Pelajaran Seni Kreatif
Fenomena patung macan putih di Kediri ini menjadi pelajaran penting bagi dunia seni dan kreativitas. Kreativitas yang “tidak biasa” sering kali menjadi magnet publik.
Di era media sosial, keunikan dan kontroversi bisa lebih bernilai daripada kesempurnaan konvensional, karena menarik perhatian dan memicu interaksi yang luas.
Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia kini semakin responsif terhadap seni publik yang memancing diskusi. Patung yang semula dicibir, kini menjadi ikon lokal, destinasi wisata dadakan, sekaligus peluang ekonomi baru.
Bagi Suwarni dan warga Desa Balungjeruk, patung macan putih bukan sekadar karya seni. Ia menjadi simbol kreativitas, keberanian berekspresi, dan kekuatan viral media sosial yang membawa dampak nyata bagi kehidupan masyarakat sekitar.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











