bukamata.id – Dunia maya baru-baru ini dihebohkan oleh sebuah video singkat yang menampilkan seorang anak perempuan kecil dari dataran tinggi Aceh. Bukan karena aksi jenakanya, melainkan karena sepasang matanya yang berwarna biru jernih—begitu kontras dengan kulit sawo matang dan latar belakang pegunungan Gayo yang hijau. Video yang diunggah oleh seorang anggota polisi, @nandagustiana48, ini mendadak viral, memancing decak kagum sekaligus rasa penasaran publik: bagaimana mungkin seorang anak di pedalaman Aceh memiliki mata layaknya orang Eropa Utara?
Fenomena ini bukanlah sihir, bukan pula hasil penggunaan lensa kontak. Ini adalah detak jantung sejarah yang masih berdenyut di dalam darah masyarakat Aceh. Seulas senyum anak dari Kecamatan Bintang, Aceh Tengah tersebut, seolah membuka kembali lembaran lama tentang asimilasi bangsa-bangsa di jalur sutra maritim nusantara.
Keajaiban Genetik di Jantung Gayo
Banyak yang mengira bahwa fenomena mata biru di Aceh hanya terbatas pada wilayah pesisir. Namun, kemunculan bocah bermata biru di pedalaman Gayo membuktikan bahwa warisan genetik ini telah merasuk jauh ke wilayah pegunungan. Secara ilmiah, warna mata biru merupakan sifat genetik resesif.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, gen mata biru ini bisa “bersembunyi” selama bergenerasi-generasi. Seorang orang tua bermata cokelat bisa saja membawa gen resesif ini dari leluhurnya, dan jika bertemu dengan pasangan yang juga membawa gen serupa, maka lahirlah keajaiban: seorang anak bermata biru di tengah keluarga yang secara fisik tampak seperti orang Asia pada umumnya.
Para ahli genetika sering menyebut fenomena ini sebagai jejak migrasi purba. Di Aceh, fenomena ini tidak diikuti dengan kelainan fisik atau gangguan kesehatan. Anak-anak ini tumbuh sehat, tajam penglihatannya, dan hanya dibedakan oleh pigmen iris yang membiaskan cahaya langit.
Legenda “Bule Lamno” dan Jejak Kapal Portugis
Jika kita merunut asal-usul “gen bule” di Aceh, ingatan kolektif masyarakat akan selalu tertuju pada sebuah tempat bernama Lamno, di Kabupaten Aceh Jaya. Jauh sebelum video anak Gayo ini viral, Lamno sudah lebih dulu masyhur dengan sebutan “Kampung Bule”.
Narasi sejarah yang paling kuat berakar pada abad ke-16. Konon, kapal-kapal perang dan dagang milik Portugis kerap melintasi Samudra Hindia menuju Malaka. Dalam beberapa catatan sejarah, diceritakan bahwa ada kapal Portugis yang terdampar atau sengaja singgah di pesisir barat Aceh, tepatnya di wilayah kekuasaan Kerajaan Daya.
Alih-alih terjadi peperangan yang memusnahkan, yang terjadi justru sebuah asimilasi budaya dan biologis. Para pelaut Portugis yang tertahan di sana akhirnya menetap, memeluk agama Islam, dan menikahi penduduk setempat. Dari pernikahan silang inilah lahir generasi baru Aceh dengan ciri fisik unik: tubuh tinggi, hidung mancung, kulit putih, rambut pirang, dan tentu saja, mata biru yang memukau.
“Mata biru di Aceh bukan sekadar kebetulan biologis; ia adalah monumen hidup yang membuktikan bahwa Aceh pernah menjadi titik temu peradaban dunia.”
Tragedi Tsunami dan Populasi yang Menyusut
Keberadaan komunitas bermata biru di Lamno, seperti di desa Kuala Daya, Ujong Muloh, dan Gle Jong, sempat mengalami pukulan hebat pada tahun 2004. Bencana gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan pesisir Aceh juga menyapu pemukiman para “Bule Lamno” ini.
Banyak anggota komunitas unik ini yang menjadi korban, sehingga jumlah mereka yang memiliki ciri fisik Eropa asli kini semakin langka. Sebagian besar yang selamat kemudian berpindah atau menikah dengan warga dari daerah lain, yang menyebabkan “pemudaran” ciri fisik tersebut pada generasi berikutnya. Inilah yang membuat kemunculan anak bermata biru di Gayo atau wilayah lain di Aceh menjadi sangat berharga; itu adalah tanda bahwa gen sejarah tersebut tidak hilang, ia hanya berpindah dan menunggu waktu untuk muncul kembali ke permukaan.
Identitas Budaya yang Tak Ternilai
Fenomena ini membawa dimensi baru bagi pariwisata dan identitas budaya Aceh. Aceh bukan hanya tentang Serambi Mekkah dengan syariatnya yang kental, tetapi juga tentang keberagaman ras yang menyatu harmonis. Wisatawan yang berkunjung ke Aceh Jaya atau Aceh Tengah kini tidak hanya mencari kopi atau panorama alam, tetapi juga ingin melihat langsung sisa-sisa “keajaiban dunia” yang tersimpan dalam iris mata penduduknya.
Namun, di balik kekaguman tersebut, tersimpan tantangan besar. Hingga saat ini, perhatian pemerintah terhadap pelestarian identitas komunitas unik ini masih tergolong minim. Ada kekhawatiran bahwa kisah tentang “Bule Lamno” atau “Mata Biru Gayo” hanya akan berakhir menjadi dongeng sebelum tidur jika tidak didokumentasikan dengan riset yang mendalam dan perlindungan budaya yang sistematis.
Refleksi: Keberagaman adalah Kekuatan
Kisah mata biru di Aceh mengajarkan kita satu hal penting: Indonesia adalah sebuah mosaik. Kita sering terpaku pada sekat-sekat suku, padahal di dalam darah kita mengalir sejarah pertemuan bangsa-bangsa dunia—Arab, India, Cina, hingga Eropa.
Anak perempuan di Gayo dengan mata jernihnya itu adalah pengingat bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam sel-sel kita, menanti untuk ditemukan kembali. Keunikan ini seharusnya menjadi kebanggaan nasional, sebuah bukti bahwa toleransi dan asimilasi telah terjadi di bumi nusantara jauh sebelum kata “multikulturalisme” diciptakan oleh para akademisi.
Melalui promosi wisata sejarah dan perlindungan cagar budaya, kita bisa memastikan bahwa tatapan biru dari Aceh ini akan terus menyapa dunia di masa depan, menceritakan kisah tentang kapal-kapal tua, samudra yang luas, dan cinta yang melampaui batas-batas benua.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











