bukamata.id – Dulu, publik Indonesia mengenal sosok Pak Tarno sebagai entertainer sederhana yang mampu mengundang tawa lewat sulap khasnya.
Dengan jargon legendaris “dibantu ya, bimsalabim jadi apa, prok-prok-prok”, ia menjadi salah satu ikon hiburan Tanah Air sejak tampil di ajang The Master pada 2009.
Namun kini, kehidupan menghadirkan panggung yang berbeda.
Tak lagi di layar kaca dengan sorotan lampu, Pak Tarno justru terlihat berjualan mainan anak di pinggir jalan kawasan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Foto dan video yang beredar di media sosial memperlihatkan wajahnya yang tampak lelah, namun tetap berusaha tersenyum di tengah keterbatasan fisik.
Bertahan di Tengah Kondisi Pasca Stroke
Kondisi kesehatan Pak Tarno memang tidak lagi seperti dulu. Ia diketahui telah beberapa kali mengalami stroke yang berdampak pada kemampuan fisiknya.
Menurut sang istri, Lisa Karlina, kondisi suaminya kini berangsur membaik meski belum sepenuhnya pulih.
“Jalannya sudah mulai lancar, cuma masih mudah lemas,” ungkap Lisa kepada wartawan di Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Alih-alih menjalani terapi medis di rumah sakit, keluarga memilih melakukan perawatan mandiri di rumah dengan metode tradisional, seperti rendaman air panas yang dicampur garam, jahe, dan lengkuas.
Meski demikian, semangat hidup Pak Tarno tak padam. Dengan bantuan tongkat, ia tetap memilih keluar rumah untuk mencari nafkah.
Dari Pesulap Panggung ke Pedagang Jalanan
Perjalanan hidup Pak Tarno tidaklah instan. Lahir pada 1950, ia memulai karier sebagai pesulap keliling setelah sebelumnya bekerja sebagai penjual martabak.
Puncak popularitasnya datang saat tampil di “The Master”, di mana ia mendapatkan gelar “Master of Traditional Magic” dari Deddy Corbuzier.
Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi finansialnya menurun. Ia bahkan dikabarkan tidak memiliki tabungan dari masa kejayaannya. Situasi semakin sulit ketika ia mengalami penipuan yang menyebabkan kerugian hingga ratusan juta rupiah.
Kini, demi bertahan hidup, Pak Tarno kembali ke akar: berdagang kecil-kecilan. Ia sempat viral saat berjualan ikan cupang, dan kini menjajakan mainan anak di depan sekolah.
Kehidupan Pribadi: Pernah Menikah Hingga 10 Kali
Selain perjalanan kariernya, kehidupan pribadi Pak Tarno juga kerap menjadi sorotan publik. Ia diketahui telah menikah hingga 10 kali sepanjang hidupnya.
Salah satu istri yang paling lama mendampinginya adalah Lisa Karlina. Sementara itu, istri terakhirnya, Dewi, dinikahi pada tahun 2024 dan disebut tetap setia mendampingi di tengah kondisi kesehatannya yang menurun.
Fakta ini kerap memicu beragam respons dari publik, terutama ketika kondisi ekonomi Pak Tarno saat ini menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Viral di Media Sosial, Warganet Terbelah
Viralnya kondisi terbaru Pak Tarno memicu gelombang empati sekaligus perdebatan di kalangan warganet. Banyak yang merasa sedih melihat sosok yang dulu menghibur jutaan orang kini harus berjuang di jalanan.
Namun, tidak sedikit pula komentar yang bernada kritis.
Salah satu akun menulis,
“Doski sempet punya 2 istri kan yah? Nanya,” tulis @0m0***.
Komentar lain menyinggung masa lalu kehidupan pribadinya:
“Waktu sehat dan punya duit lebih mentingin kawin lagi,” tulis @akh***.
Di sisi lain, ada pula warganet yang mencoba melihat dari sudut pandang lebih bijak:
“Aku memaklumi aja sih, hidup selalu berputar… kita nggak tahu masalah hidup dia seperti apa. Jadi, alangkah baiknya jangan langsung mencemooh,” tulis @fel***.
Perdebatan ini menunjukkan bagaimana publik tidak hanya melihat sisi emosional, tetapi juga mencoba memahami kompleksitas kehidupan seseorang.
Ketika Empati Jadi “Keajaiban” Nyata
Kisah Pak Tarno menjadi pengingat bahwa hidup bisa berubah drastis. Sosok yang dulu menghadirkan kebahagiaan, kini justru membutuhkan perhatian dan empati dari masyarakat.
Tidak ada lagi panggung megah atau tepuk tangan meriah. Yang tersisa hanyalah tekad untuk bertahan hidup.
Di tengah kondisi tersebut, tindakan kecil seperti membeli dagangannya, menyapa dengan hangat, atau sekadar mendoakan, bisa menjadi “keajaiban” nyata bagi dirinya.
Karena pada akhirnya, bukan sulap yang paling berarti, melainkan kepedulian manusia terhadap sesama.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










