bukamata.id – Proyek pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) di Kota Bandung terus berjalan. Salah satu pekerjaan yang menjadi perhatian warga adalah pembangunan halte yang ditempatkan di tengah badan jalan pada sejumlah koridor utama.
Konsep halte BRT Bandung yang berada di tengah jalan memunculkan kekhawatiran publik, terutama terkait potensi kemacetan serta ruang jalan yang semakin terbatas bagi kendaraan.
Menanggapi hal tersebut, disebutkan terdapat 28 halte on corridor yang akan dibangun di sepanjang lintasan utama BRT Bandung.
“Jangan khawatir, total semuanya 28 halte on koridor,” katanya.
Mengapa Halte BRT Bandung Dibangun di Tengah Jalan?
Penempatan halte di tengah jalan menjadi bagian dari desain pembangunan BRT. Kondisi tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan pelebaran jalan untuk mengantisipasi berkurangnya ruang kendaraan.
Namun, opsi pelebaran jalan dipastikan tidak akan dilakukan. Salah satu pertimbangannya adalah infrastruktur trotoar di kawasan tersebut sudah lebih dahulu dibangun.
“Enggak. Soalnya kan trotoarnya sudah jadi,” ujarnya.
Selain tidak dilakukan pelebaran jalan, keterbatasan ruang juga menjadi alasan fasilitas jembatan penyeberangan orang (JPO) tidak dibangun di sekitar halte.
“Kenapa tidak dibikin JPO? Karena terlalu sempit kalau untuk JPO. Maka akhirnya dibikinlah jalan seperti itu,” ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, aspek keselamatan dan kemudahan akses pengguna halte menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian selama pembangunan maupun ketika BRT mulai beroperasi.
Pembangunan Satu Halte BRT Ditargetkan Maksimal Dua Minggu
Kekhawatiran lain yang muncul adalah potensi kemacetan selama proses pembangunan halte BRT Bandung.
Pekerjaan fisik setiap halte ditargetkan berlangsung relatif singkat, yakni paling lama sekitar dua minggu di setiap titik. Durasi tersebut disebut mengacu pada pengalaman pembangunan halte sebelumnya di kawasan Jalan Jakarta.
“Tapi ini hanya sementara saja. Pengerjaan akan cepat. Menurut kabar itu paling lama selama dua minggu, setelah itu lancar, persis seperti yang di Jalan Jakarta. Itu juga cepat, dalam dua minggu selesai,” paparnya.
Meski pengerjaan ditargetkan singkat, aspek keselamatan pengguna jalan tetap menjadi perhatian. Termasuk memastikan pembangunan halte tidak menimbulkan risiko bagi pengendara maupun pejalan kaki.
Lantai Halte Tinggi Jadi Perhatian, Akses Disabilitas Dipantau
Selain persoalan lalu lintas, desain halte BRT Bandung juga mendapat perhatian dari sisi aksesibilitas. Salah satu yang tengah diamati adalah ketinggian lantai halte.
Desain lantai yang cukup tinggi dinilai berpotensi menyulitkan penyandang disabilitas apabila tidak disiapkan dengan akses yang memadai.
“Kita akan amati terus, karena saya juga tidak mau sampai terjadi kecelakaan. Ditambah lagi, dengan lantai halte yang tinggi, tentu akan ada kesulitan juga bagi penyandang disabilitas,” jelasnya.
Untuk memastikan aspek teknis dan keselamatan pembangunan sesuai standar, koordinasi dilakukan bersama Kementerian Perhubungan dan Bappenas di Jakarta.
“Itu sebabnya sekarang saya lagi bolak-balik Jakarta terus, ke Kementerian Perhubungan, ke Bappenas, untuk memastikan bahwa secara teknis ini memungkinkan dan tidak mengganggu keseharian masyarakat,” tuturnya.
Dishub Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Selama Pembangunan
Potensi kemacetan akibat pembangunan halte BRT Bandung juga menjadi perhatian Dinas Perhubungan. Rekayasa lalu lintas dan pengaturan kendaraan akan dilakukan selama pekerjaan berlangsung.
Petugas Dishub disiapkan untuk mengatur lalu lintas mulai pagi hingga malam hari, terutama di titik-titik yang terdampak pembangunan.
“Kalau dari Dishub, bagaimanapun juga, kita akan mengatur sedemikian rupa sehingga kalau kemacetan tidak terhindarkan. Ketika ada pekerjaan di pinggir jalan atau di tengah jalan, pasti macet,” terangnya.
“Pengaturan akan dilakukan sepagi mungkin sampai semalam mungkin. Akan ada petugas di setiap titik. Saya akan atur sedemikian rupa,” imbuhnya.
Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak pembangunan terhadap mobilitas warga Bandung.
Sosialisasi BRT Bandung Diminta Lebih Masif
Selain rekayasa lalu lintas, pengelola proyek BRT juga didorong untuk meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat.
Informasi tersebut dinilai penting, terutama bagi warga yang aktivitasnya berada di sekitar lokasi pembangunan, termasuk pedagang dan juru parkir.
“Betul. Itu sebabnya saya meminta kepada BRT melakukan sosialisasi lebih masif ke seluruh warga. Karena yang tahu teknis pengerjaan semuanya BRT. Kalau saya kan mewakili warga,” tegasnya.
Sosialisasi diharapkan tidak hanya menjelaskan tahapan pembangunan halte, tetapi juga memberikan informasi mengenai pengaturan lalu lintas dan alternatif akses selama pekerjaan berlangsung.
“Kita akan teriak terus, ‘Pak, ieu kumaha? Kenapa kita nggak dikasih tahu? Kenapa kita nggak diberi alternatif?’ Ini yang kami lakukan terus untuk menekan BRT, memberikan sosialisasi yang lebih banyak, termasuk sosialisasi kepada parkir dan juga pedagang,” katanya.
Dengan pembangunan 28 halte BRT Bandung, koordinasi antara pengelola proyek, pemerintah, petugas lalu lintas, serta masyarakat menjadi penting agar pembangunan transportasi publik tersebut tidak mengganggu aktivitas warga secara berlebihan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









