bukamata.id – Banjir kembali melanda wilayah Bandung Selatan dalam sepekan terakhir dan kembali menjadi perhatian publik. Sejumlah kawasan seperti Dayeuhkolot dan Baleendah kembali terendam air dengan intensitas yang bahkan lebih parah dibanding sebelumnya.
Kondisi ini dipicu oleh hujan deras yang terus mengguyur wilayah hulu dan hilir, sehingga volume air meningkat tajam dan tidak lagi sebanding dengan kapasitas sungai serta saluran air yang ada.
BBWS Citarum Ungkap Penyebab Utama Banjir
Pelaksana Teknik OPSDA Balai Besar Wilayah Sungai BBWS Citarum, Asep Rochiman, menjelaskan bahwa penyebab banjir di Bandung Selatan tidak hanya berasal dari faktor alam semata.
Menurutnya, terdapat kombinasi faktor yang saling berkaitan mulai dari kondisi lingkungan, perilaku manusia, hingga infrastruktur yang belum optimal.
“Faktornya ada beberapa. Pertama alam, kedua manusia, ketiga infrastruktur dari hulu ke hilir, dan keempat perilaku masyarakat seperti buang sampah sembarangan,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
Sedimentasi Sungai Jadi Masalah Serius
Salah satu penyebab utama yang memperburuk kondisi banjir adalah tingginya sedimentasi di aliran sungai. Endapan lumpur membuat kapasitas tampung air semakin menurun drastis.
“Memang sedimentasi tinggi, jadi daya tampungnya rendah,” kata Asep.
Kondisi ini membuat air lebih mudah meluap ketika hujan deras terjadi, terutama di kawasan hilir sungai.
Aliran Air dari Banyak Sumber
Secara teknis, banjir di Dayeuhkolot tidak hanya dipengaruhi oleh Sungai Citarum sebagai sungai utama, tetapi juga aliran dari irigasi lain seperti Cipalasari.
Tambahan debit air dari berbagai saluran tersebut membuat beban Sungai Citarum semakin berat saat hujan deras.
“Kenapa banjir di Dayeuhkolot meningkat? Karena debitnya meningkat, salah satunya dari Cipalasari,” jelasnya.
Untuk mengurangi dampak, BBWS Citarum telah melakukan sejumlah upaya teknis seperti pemasangan klep satu arah dan penutupan beberapa aliran tertentu agar air tidak kembali ke permukiman warga.
Alih Fungsi Lahan Perparah Kondisi
Selain faktor teknis, Asep juga menyoroti alih fungsi lahan yang semakin masif di wilayah Bandung Selatan. Perubahan fungsi lahan dari area resapan menjadi kawasan terbangun mempercepat aliran air langsung ke sungai.
“Alih fungsi dan sedimentasi itu sangat signifikan,” tegasnya.
Kondisi ini diperparah dengan sistem drainase yang belum mampu menampung seluruh aliran air dari berbagai sumber.
Drainase dan Irigasi Perlu Penanganan Serius
Asep menegaskan bahwa penanganan banjir tidak cukup hanya dengan satu solusi teknis. Normalisasi sungai dan perlindungan kawasan irigasi menjadi langkah penting yang harus segera dilakukan.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga area sempadan sungai minimal 7 meter dari tanggul agar tetap bebas dari bangunan.
“Harus dinormalisasi, dan irigasi harus dilindungi,” ujarnya.
Butuh Kolaborasi Lintas Sektor
Menurut BBWS Citarum, penanganan banjir Bandung Selatan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga masyarakat.
“Tidak bisa kami sendiri. Harus ada keterlibatan pemerintah daerah karena banyak saluran irigasi yang juga bermasalah,” kata Asep.
Banjir Bandung Selatan Butuh Solusi Menyeluruh
Banjir yang terus berulang di Bandung Selatan menunjukkan bahwa persoalan ini bersifat kompleks dan berlapis. Tidak hanya soal curah hujan tinggi, tetapi juga sedimentasi sungai, tata ruang, hingga perilaku masyarakat.
Tanpa langkah terpadu, kawasan seperti Dayeuhkolot dan Baleendah diperkirakan masih akan menjadi langganan banjir setiap musim hujan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










