Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bandara Kertajati Bakal Diambil Alih Kemenhan, Bagaimana Nasib Utang Pemprov Jabar?

Jumat, 26 Juni 2026 16:08 WIB

Dilepas Persib, Alfeandra Dewangga Resmi Berseragam Arema FC

Jumat, 26 Juni 2026 16:05 WIB

Catat Waktunya! Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Muharram 2026 Versi Kemenag dan NU

Jumat, 26 Juni 2026 15:33 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bandara Kertajati Bakal Diambil Alih Kemenhan, Bagaimana Nasib Utang Pemprov Jabar?
  • Dilepas Persib, Alfeandra Dewangga Resmi Berseragam Arema FC
  • Catat Waktunya! Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Muharram 2026 Versi Kemenag dan NU
  • Viral di TikTok! Ini Fakta Video Ibu dan Anak Handuk Putih yang Bikin Warganet Penasaran
  • Daftar Lengkap Rotasi Jabatan Kapolres Jajaran Polda Jabar
  • Bobotoh Gigit Jari, Dua Bintang Eropa Bidikan Persib Resmi Gabung Klub Lain
  • Dulu Dianggap Mustahil, Perempuan Pertama dari Indonesia Ini Sukses Taklukan Jalanan Jepang!
  • Fakta Baru Mengejutkan! Korban Penganiayaan Bandung Diduga Dipaksa Ditato oleh Pelaku
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 26 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Butiran Pakan Kucing di Tas Ain: Kebaikan Terakhir Sang Pejuang Keluarga Sebelum Tragedi KRL

By Aga GustianaRabu, 29 April 2026 19:32 WIB4 Mins Read
Nur Ainia Eka Rahmadhyna. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Malam itu, Senin, 27 April 2026, hiruk-pikuk kantor Kompas TV di Palmerah, Jakarta Pusat, berjalan seperti biasa. Di tengah deru tenggat waktu dan kesibukan media, Nur Ainia Eka Rahmadhyna—atau yang akrab disapa Ain—bersiap untuk pulang. Namun, sebelum langkah kakinya meninggalkan gedung tempatnya mengabdi, perempuan berusia 32 tahun itu melakukan sebuah ritual kecil yang telah menjadi napas keduanya.

Ia membungkuk, merogoh tasnya, dan mengeluarkan pakan kucing. Dengan penuh kasih, ia membagikan butiran-butiran makanan itu kepada kucing-kucing liar yang setia menunggu di area kantor. Siapa yang menyangka, tindakan sederhana penuh empati itu menjadi catatan kebaikan terakhir yang ia torehkan di dunia.

Tak lama berselang, perjalanan pulangnya menuju Bekasi menggunakan KRL Commuter Line berakhir dalam tragedi memilukan di Stasiun Bekasi Timur. Kecelakaan maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek merenggut nyawa Ain, meninggalkan duka yang tak hanya dirasakan oleh manusia, tetapi barangkali juga oleh kucing-kucing jalanan yang kini menatap kosong ke arah pintu kantor, menunggu tangan lembut yang takkan kembali.

Sosok Penopang yang Tak Pernah Mengeluh

Bagi sang ayah, Hary Marwata (63), Ain bukan sekadar putri sulung. Ia adalah napas dan tulang punggung keluarga. Sejak Hary memasuki masa pensiun, Ain dengan lapang dada mengambil alih tanggung jawab besar sebagai pencari nafkah utama. Di mata sang ayah, Ain adalah sosok mandiri yang enggan merepotkan orang tua.

Keteguhan hatinya terlihat dari rutinitas paginya yang sunyi. Ia sering berangkat kerja pagi-pagi sekali tanpa membangunkan orang tuanya, hanya agar mereka bisa beristirahat lebih lama.

“Dia tidak mau merepotkan,” kenang Hary dengan suara berat menahan tangis saat ditemui usai pemakaman di TPU Mangun Jaya, Bekasi, Rabu (29/4/2026). Tangis Hary pecah mengingat betapa Ain selalu hadir dengan kepedulian nyata. Sebagai anak tertua, ia sangat protektif terhadap adik-adiknya. Meski tegas jika sang adik melakukan kesalahan, Hary tahu itu demi memastikan mereka tumbuh menjadi pribadi disiplin, sama seperti dirinya yang selalu menempatkan keluarga di atas segalanya.

Cinta yang Melampaui Kata-kata

Cinta Ain pada makhluk hidup tidak berhenti di kantor. Di rumahnya di Perumahan Griya Asri 2, Tambun Selatan, ia merawat beberapa ekor kucing dengan sepenuh hati. Baginya, kucing adalah teman yang memahami bahasa hati tanpa perlu bicara. Kesetiaan ini terlihat jelas pada hari pemakamannya.

Di atas peti jenazah cokelat itu, seekor kucing tabby duduk terdiam. Matanya yang bulat seolah sedang menjaga tidur panjang sang pelindung. Pemandangan ini seakan mengonfirmasi wasiat cinta yang tertulis di status WhatsApp Ain: “Sampai ketemu lagi, Tompel, Akio, Embul… 🐱”. Nama-nama kucing yang telah lebih dulu mati itu seolah menjadi kode bahwa kini Ain telah menyusul mereka di taman yang lebih indah.

Kesaksian dari jajaran pimpinan Kompas TV semakin memperkuat sisi humanisnya. “Kata direktur Kompas, sebelum almarhumah pulang kantor malam itu, dia sempatkan memberi makan kucing,” ujar salah satu pelayat. Fakta ini menjadi oase di tengah berita duka; bahwa hingga menit-menit terakhir, Ain masih sibuk menebar kasih.

Rencana yang Menjadi Kenangan

Tragedi Senin malam itu menghentikan waktu bagi keluarga Marwata. Penantian di rumah berubah menjadi kecemasan yang menyiksa ketika Ain tak kunjung memberi kabar, hingga akhirnya pencarian berujung pahit di RS Polri Kramat Jati.

Kepergiannya yang mendadak mengubur mimpi yang baru saja ia rencanakan: mengambil cuti panjang untuk memboyong keluarganya berlibur ke Malang, Jawa Timur. Ia ingin melihat tawa adik-adiknya dan sejenak melepas penat dari rutinitas Commuter Line Bekasi-Jakarta yang melelahkan.

“Rencananya mau cuti, mau jalan-jalan sama adiknya di Malang,” tutur Hary dengan mata berkaca-kaca. Janji itu kini menjadi duka yang membekas, sebuah rencana yang hanya tinggal kenangan di hati saudara-saudaranya.

Penghormatan Terakhir untuk Sang Pejuang

Prosesi pemakaman Ain dihadiri oleh mereka yang mencintainya, termasuk jajaran manajemen senior Kompas TV seperti President Director Rosianna Silalahi dan Pemimpin Redaksi Yogi Arief Nugroho. Kehadiran mereka menunjukkan betapa berartinya Ain—ia bukan sekadar karyawan, melainkan bagian dari keluarga besar yang kehilangan anggota terbaiknya.

Kini, Nur Ainia Eka Rahmadhyna telah beristirahat di TPU Mangun Jaya. Ia meninggalkan warisan tentang bagaimana menjadi manusia utuh: bekerja keras demi keluarga, namun tetap menyisakan ruang bagi makhluk Tuhan yang paling lemah.

Setiap kali kucing-kucing di Palmerah atau Tambun mengeong mencari sosoknya, barangkali itu adalah cara alam semesta mengirimkan doa. Kebaikan yang ia tanam telah menjadi amal jariah yang menemani langkahnya menuju keabadian.

Selamat jalan, Ain. Terima kasih telah menunjukkan bahwa menjadi tangguh tidak harus menjadi keras, dan bahwa cinta sejati adalah mereka yang memberi tanpa berharap kembali.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Ain Kompas TV Kecelakaan KRL Bekasi Kisah Haru Pecinta Kucing Kucing di Atas Peti Jenazah Nur Ainia Eka
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Catat Waktunya! Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Muharram 2026 Versi Kemenag dan NU

Viral di TikTok! Ini Fakta Video Ibu dan Anak Handuk Putih yang Bikin Warganet Penasaran

Dulu Dianggap Mustahil, Perempuan Pertama dari Indonesia Ini Sukses Taklukan Jalanan Jepang!

Bingung Weekend ke Mana? Ini 3 Event Seru di Bandung Akhir Pekan 27-28 Juni 2026 yang Wajib Dikunjungi!

Kode Redeem FF

Kode Redeem FF 26 Juni 2026 Terbaru! Klaim Sekarang sebelum Habis, Banyak Skin Gratis Menanti

Ilustrasi emas antam

Emas Naik atau Turun Hari Ini? Simak Harga Antam, UBS, dan Galeri24 Jumat 26 Juni 2026 Lengkap dengan Buyback

Terpopuler
  • Viral Handuk Putih Anak vs Ibu, Warganet Berburu Link Asli! Ternyata Isinya Bikin Kaget
  • Viral! Video ‘Handuk Putih Ibu dan Anak’ Bikin Netizen Penasaran, Ini Faktanya
  • Cut Salwa Jadi Trending Topic, Benarkah Ada Video 10 Menit? Ini Fakta yang Terungkap
  • Jangan Klik Link Ini! Tren Viral TikTok ‘Handuk Putih’ Picu Ancaman Phishing Serius
  • Api Mendadak Berkobar di RM Tamagochi Bandung, Diduga Berawal dari Meja Konsumen
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.