bukamata.id – Malam itu, Senin, 27 April 2026, hiruk-pikuk kantor Kompas TV di Palmerah, Jakarta Pusat, berjalan seperti biasa. Di tengah deru tenggat waktu dan kesibukan media, Nur Ainia Eka Rahmadhyna—atau yang akrab disapa Ain—bersiap untuk pulang. Namun, sebelum langkah kakinya meninggalkan gedung tempatnya mengabdi, perempuan berusia 32 tahun itu melakukan sebuah ritual kecil yang telah menjadi napas keduanya.
Ia membungkuk, merogoh tasnya, dan mengeluarkan pakan kucing. Dengan penuh kasih, ia membagikan butiran-butiran makanan itu kepada kucing-kucing liar yang setia menunggu di area kantor. Siapa yang menyangka, tindakan sederhana penuh empati itu menjadi catatan kebaikan terakhir yang ia torehkan di dunia.
Tak lama berselang, perjalanan pulangnya menuju Bekasi menggunakan KRL Commuter Line berakhir dalam tragedi memilukan di Stasiun Bekasi Timur. Kecelakaan maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek merenggut nyawa Ain, meninggalkan duka yang tak hanya dirasakan oleh manusia, tetapi barangkali juga oleh kucing-kucing jalanan yang kini menatap kosong ke arah pintu kantor, menunggu tangan lembut yang takkan kembali.
Sosok Penopang yang Tak Pernah Mengeluh
Bagi sang ayah, Hary Marwata (63), Ain bukan sekadar putri sulung. Ia adalah napas dan tulang punggung keluarga. Sejak Hary memasuki masa pensiun, Ain dengan lapang dada mengambil alih tanggung jawab besar sebagai pencari nafkah utama. Di mata sang ayah, Ain adalah sosok mandiri yang enggan merepotkan orang tua.
Keteguhan hatinya terlihat dari rutinitas paginya yang sunyi. Ia sering berangkat kerja pagi-pagi sekali tanpa membangunkan orang tuanya, hanya agar mereka bisa beristirahat lebih lama.
“Dia tidak mau merepotkan,” kenang Hary dengan suara berat menahan tangis saat ditemui usai pemakaman di TPU Mangun Jaya, Bekasi, Rabu (29/4/2026). Tangis Hary pecah mengingat betapa Ain selalu hadir dengan kepedulian nyata. Sebagai anak tertua, ia sangat protektif terhadap adik-adiknya. Meski tegas jika sang adik melakukan kesalahan, Hary tahu itu demi memastikan mereka tumbuh menjadi pribadi disiplin, sama seperti dirinya yang selalu menempatkan keluarga di atas segalanya.
Cinta yang Melampaui Kata-kata
Cinta Ain pada makhluk hidup tidak berhenti di kantor. Di rumahnya di Perumahan Griya Asri 2, Tambun Selatan, ia merawat beberapa ekor kucing dengan sepenuh hati. Baginya, kucing adalah teman yang memahami bahasa hati tanpa perlu bicara. Kesetiaan ini terlihat jelas pada hari pemakamannya.
Di atas peti jenazah cokelat itu, seekor kucing tabby duduk terdiam. Matanya yang bulat seolah sedang menjaga tidur panjang sang pelindung. Pemandangan ini seakan mengonfirmasi wasiat cinta yang tertulis di status WhatsApp Ain: “Sampai ketemu lagi, Tompel, Akio, Embul… 🐱”. Nama-nama kucing yang telah lebih dulu mati itu seolah menjadi kode bahwa kini Ain telah menyusul mereka di taman yang lebih indah.
Kesaksian dari jajaran pimpinan Kompas TV semakin memperkuat sisi humanisnya. “Kata direktur Kompas, sebelum almarhumah pulang kantor malam itu, dia sempatkan memberi makan kucing,” ujar salah satu pelayat. Fakta ini menjadi oase di tengah berita duka; bahwa hingga menit-menit terakhir, Ain masih sibuk menebar kasih.
Rencana yang Menjadi Kenangan
Tragedi Senin malam itu menghentikan waktu bagi keluarga Marwata. Penantian di rumah berubah menjadi kecemasan yang menyiksa ketika Ain tak kunjung memberi kabar, hingga akhirnya pencarian berujung pahit di RS Polri Kramat Jati.
Kepergiannya yang mendadak mengubur mimpi yang baru saja ia rencanakan: mengambil cuti panjang untuk memboyong keluarganya berlibur ke Malang, Jawa Timur. Ia ingin melihat tawa adik-adiknya dan sejenak melepas penat dari rutinitas Commuter Line Bekasi-Jakarta yang melelahkan.
“Rencananya mau cuti, mau jalan-jalan sama adiknya di Malang,” tutur Hary dengan mata berkaca-kaca. Janji itu kini menjadi duka yang membekas, sebuah rencana yang hanya tinggal kenangan di hati saudara-saudaranya.
Penghormatan Terakhir untuk Sang Pejuang
Prosesi pemakaman Ain dihadiri oleh mereka yang mencintainya, termasuk jajaran manajemen senior Kompas TV seperti President Director Rosianna Silalahi dan Pemimpin Redaksi Yogi Arief Nugroho. Kehadiran mereka menunjukkan betapa berartinya Ain—ia bukan sekadar karyawan, melainkan bagian dari keluarga besar yang kehilangan anggota terbaiknya.
Kini, Nur Ainia Eka Rahmadhyna telah beristirahat di TPU Mangun Jaya. Ia meninggalkan warisan tentang bagaimana menjadi manusia utuh: bekerja keras demi keluarga, namun tetap menyisakan ruang bagi makhluk Tuhan yang paling lemah.
Setiap kali kucing-kucing di Palmerah atau Tambun mengeong mencari sosoknya, barangkali itu adalah cara alam semesta mengirimkan doa. Kebaikan yang ia tanam telah menjadi amal jariah yang menemani langkahnya menuju keabadian.
Selamat jalan, Ain. Terima kasih telah menunjukkan bahwa menjadi tangguh tidak harus menjadi keras, dan bahwa cinta sejati adalah mereka yang memberi tanpa berharap kembali.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









