Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bikin Geregetan! Sosok Aedan Scipio, Pesepakbola Berambut Nyaris 2 Meter yang Guncang Dunia

Sabtu, 3 Oktober 2026 11:10 WIB

Tampil Bersama Raline Shah di Art Jakarta 2026, Ketua Kreator Jabar Soroti Pentingnya Seni Digital

Sabtu, 3 Oktober 2026 09:43 WIB

Blunder Dedi Mulyadi, Polemik Data Center AI Ancam Kepercayaan Investor

Sabtu, 3 Oktober 2026 09:15 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bikin Geregetan! Sosok Aedan Scipio, Pesepakbola Berambut Nyaris 2 Meter yang Guncang Dunia
  • Tampil Bersama Raline Shah di Art Jakarta 2026, Ketua Kreator Jabar Soroti Pentingnya Seni Digital
  • Blunder Dedi Mulyadi, Polemik Data Center AI Ancam Kepercayaan Investor
  • Naik Kelas Lewat Gentengisasi: Asa Baru Perajin Tanah Liat Plered Purwakarta
  • Wisata Kuliner Sukabumi 2026: 10 Rekomendasi Tempat Makan Paling Legendaris dan Wajib Dicoba
  • Bansos Oktober 2026 Cair! Ada BSU Rp900 Ribu hingga Beras 30 Kg, Ini Rinciannya
  • Influenza A Merebak di Bandung Barat, 31 Orang Terkonfirmasi Positif
  • BSU Oktober-Desember 2026 Dibayar Sekaligus, Total Bantuan Rp900 Ribu
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 3 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Butiran Pakan Kucing di Tas Ain: Kebaikan Terakhir Sang Pejuang Keluarga Sebelum Tragedi KRL

By Aga GustianaRabu, 29 April 2026 19:32 WIB4 Mins Read
Nur Ainia Eka Rahmadhyna. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Malam itu, Senin, 27 April 2026, hiruk-pikuk kantor Kompas TV di Palmerah, Jakarta Pusat, berjalan seperti biasa. Di tengah deru tenggat waktu dan kesibukan media, Nur Ainia Eka Rahmadhyna—atau yang akrab disapa Ain—bersiap untuk pulang. Namun, sebelum langkah kakinya meninggalkan gedung tempatnya mengabdi, perempuan berusia 32 tahun itu melakukan sebuah ritual kecil yang telah menjadi napas keduanya.

Ia membungkuk, merogoh tasnya, dan mengeluarkan pakan kucing. Dengan penuh kasih, ia membagikan butiran-butiran makanan itu kepada kucing-kucing liar yang setia menunggu di area kantor. Siapa yang menyangka, tindakan sederhana penuh empati itu menjadi catatan kebaikan terakhir yang ia torehkan di dunia.

Tak lama berselang, perjalanan pulangnya menuju Bekasi menggunakan KRL Commuter Line berakhir dalam tragedi memilukan di Stasiun Bekasi Timur. Kecelakaan maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek merenggut nyawa Ain, meninggalkan duka yang tak hanya dirasakan oleh manusia, tetapi barangkali juga oleh kucing-kucing jalanan yang kini menatap kosong ke arah pintu kantor, menunggu tangan lembut yang takkan kembali.

Sosok Penopang yang Tak Pernah Mengeluh

Bagi sang ayah, Hary Marwata (63), Ain bukan sekadar putri sulung. Ia adalah napas dan tulang punggung keluarga. Sejak Hary memasuki masa pensiun, Ain dengan lapang dada mengambil alih tanggung jawab besar sebagai pencari nafkah utama. Di mata sang ayah, Ain adalah sosok mandiri yang enggan merepotkan orang tua.

Keteguhan hatinya terlihat dari rutinitas paginya yang sunyi. Ia sering berangkat kerja pagi-pagi sekali tanpa membangunkan orang tuanya, hanya agar mereka bisa beristirahat lebih lama.

“Dia tidak mau merepotkan,” kenang Hary dengan suara berat menahan tangis saat ditemui usai pemakaman di TPU Mangun Jaya, Bekasi, Rabu (29/4/2026). Tangis Hary pecah mengingat betapa Ain selalu hadir dengan kepedulian nyata. Sebagai anak tertua, ia sangat protektif terhadap adik-adiknya. Meski tegas jika sang adik melakukan kesalahan, Hary tahu itu demi memastikan mereka tumbuh menjadi pribadi disiplin, sama seperti dirinya yang selalu menempatkan keluarga di atas segalanya.

Cinta yang Melampaui Kata-kata

Cinta Ain pada makhluk hidup tidak berhenti di kantor. Di rumahnya di Perumahan Griya Asri 2, Tambun Selatan, ia merawat beberapa ekor kucing dengan sepenuh hati. Baginya, kucing adalah teman yang memahami bahasa hati tanpa perlu bicara. Kesetiaan ini terlihat jelas pada hari pemakamannya.

Di atas peti jenazah cokelat itu, seekor kucing tabby duduk terdiam. Matanya yang bulat seolah sedang menjaga tidur panjang sang pelindung. Pemandangan ini seakan mengonfirmasi wasiat cinta yang tertulis di status WhatsApp Ain: “Sampai ketemu lagi, Tompel, Akio, Embul… 🐱”. Nama-nama kucing yang telah lebih dulu mati itu seolah menjadi kode bahwa kini Ain telah menyusul mereka di taman yang lebih indah.

Kesaksian dari jajaran pimpinan Kompas TV semakin memperkuat sisi humanisnya. “Kata direktur Kompas, sebelum almarhumah pulang kantor malam itu, dia sempatkan memberi makan kucing,” ujar salah satu pelayat. Fakta ini menjadi oase di tengah berita duka; bahwa hingga menit-menit terakhir, Ain masih sibuk menebar kasih.

Rencana yang Menjadi Kenangan

Tragedi Senin malam itu menghentikan waktu bagi keluarga Marwata. Penantian di rumah berubah menjadi kecemasan yang menyiksa ketika Ain tak kunjung memberi kabar, hingga akhirnya pencarian berujung pahit di RS Polri Kramat Jati.

Kepergiannya yang mendadak mengubur mimpi yang baru saja ia rencanakan: mengambil cuti panjang untuk memboyong keluarganya berlibur ke Malang, Jawa Timur. Ia ingin melihat tawa adik-adiknya dan sejenak melepas penat dari rutinitas Commuter Line Bekasi-Jakarta yang melelahkan.

“Rencananya mau cuti, mau jalan-jalan sama adiknya di Malang,” tutur Hary dengan mata berkaca-kaca. Janji itu kini menjadi duka yang membekas, sebuah rencana yang hanya tinggal kenangan di hati saudara-saudaranya.

Penghormatan Terakhir untuk Sang Pejuang

Prosesi pemakaman Ain dihadiri oleh mereka yang mencintainya, termasuk jajaran manajemen senior Kompas TV seperti President Director Rosianna Silalahi dan Pemimpin Redaksi Yogi Arief Nugroho. Kehadiran mereka menunjukkan betapa berartinya Ain—ia bukan sekadar karyawan, melainkan bagian dari keluarga besar yang kehilangan anggota terbaiknya.

Kini, Nur Ainia Eka Rahmadhyna telah beristirahat di TPU Mangun Jaya. Ia meninggalkan warisan tentang bagaimana menjadi manusia utuh: bekerja keras demi keluarga, namun tetap menyisakan ruang bagi makhluk Tuhan yang paling lemah.

Setiap kali kucing-kucing di Palmerah atau Tambun mengeong mencari sosoknya, barangkali itu adalah cara alam semesta mengirimkan doa. Kebaikan yang ia tanam telah menjadi amal jariah yang menemani langkahnya menuju keabadian.

Selamat jalan, Ain. Terima kasih telah menunjukkan bahwa menjadi tangguh tidak harus menjadi keras, dan bahwa cinta sejati adalah mereka yang memberi tanpa berharap kembali.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Tampil Bersama Raline Shah di Art Jakarta 2026, Ketua Kreator Jabar Soroti Pentingnya Seni Digital

Wisata Kuliner Sukabumi 2026: 10 Rekomendasi Tempat Makan Paling Legendaris dan Wajib Dicoba

Surga Tersembunyi di Tanah Sunda: 6 Destinasi Wisata Sukabumi Paling Hits untuk Liburan Akhir Pekan

BSU cair

Panduan Lengkap Cek Penerima BSU 2026: Subsidi Upah Rp900 Ribu Cair Sekaligus untuk 3 Bulan

Keren Banget! Skill Futsal Bocah SD Asal Deli Serdang Bikin Pelatih Timnas Indonesia Putri Kepincut

Gaya Hidup Sekaligus Mesin Uang: Alasan Kuat Properti Kota Baru Parahyangan Diserbu Investor Urban

Terpopuler
  • Eksa Silika Resmi Jadi Plt, KORMI Bandung Bersiap Pilih Ketua Baru
  • Polemik Data Center AI Jatiluhur: AMDAL Belum Rampung tapi Proyek Sudah Dimulai, Apakah Ruang Koreksi Masih Ada?
  • Badai di Tubuh KORMI Bandung: Hibah Seret, Kudeta Kepengurusan, hingga Sentilan Guru Besar UPI
  • Aturan Dibuat untuk Dilanggar? Menguliti Tiga Dosa Administratif Pengadaan Publikasi Purwakarta
  • Antara Regulasi dan Realita: Menguak Karut-Marut Anggaran Publikasi Rp250 Juta di Diskominfo Purwakarta
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.