bukamata.id – Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cimahi, Jawa Barat, berakhir pilu pada Rabu (25/2/2026). Belasan siswa dan guru dari berbagai jenjang pendidikan dilaporkan harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengonsumsi menu yang dibagikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Hingga Rabu malam, sejumlah fasilitas kesehatan di Cimahi dipenuhi pasien yang mengeluhkan gejala serupa, mulai dari rasa mual yang hebat hingga pusing mendadak.
Laporan Masuk Menjelang Malam
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Mulyati, mengonfirmasi adanya insiden medis darurat ini. Pihaknya mengaku mulai menerima laporan adanya gelombang pasien yang masuk ke ruang IGD sejak petang hari.
“Betul bahwa ada dugaan (keracunan) beberapa orang masuk (rumah sakit). Laporan saya terima jam setengah 6 sore,” kata Mulyati saat ditemui di RSUD Cibabat.
Sebaran Pasien di Tiga Rumah Sakit
Berdasarkan data yang dihimpun hingga pukul 20.00 WIB, para korban tersebar di tiga rumah sakit utama di Kota Cimahi. RSUD Cibabat tercatat menampung jumlah pasien terbanyak dalam insiden ini.
“Dan sementara pasien yang masuk ke Rumah Sakit Mitra Kasih ada 2 orang, yang ke Dustira ada 1 orang, dan yang ke Rumah Sakit Cibabat ada 11 orang,” terang Mulyati.
Dugaan Waktu Konsumsi: Antara Siang dan Waktu Buka Puasa
Investigasi awal menunjukkan bahwa para korban berasal dari berbagai tingkatan sekolah, mulai dari TK, PAUD, SD, hingga SMP. Mengingat saat ini bertepatan dengan bulan Ramadan, waktu konsumsi paket makanan tersebut bervariasi di kalangan siswa.
Mulyati menjelaskan bahwa ada siswa yang langsung menyantap makanan tersebut di siang hari, namun ada pula yang menyimpannya untuk menu berbuka puasa.
“Ada dibagi makanan dari SPPG dan ada yang dimakan setelah buka dan untuk anak-anak kecil barangkali ada yang dimakan di posisi siang jam 11 atau jam 12,” ujar dia.
Gejala yang Dialami Korban
Tak lama setelah menyantap hidangan dari program MBG tersebut, para korban mulai merasakan reaksi tubuh yang tidak wajar. Keluhan utama yang dilaporkan seragam, yakni gangguan pencernaan akut.
“Rata-rata memang muntah sama mual dan pusing,” ucap Mulyati.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Kesehatan masih melakukan pendalaman dan pengambilan sampel makanan untuk diuji di laboratorium guna memastikan penyebab pasti dari dugaan keracunan massal ini.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










