bukamata.id – Fenomena “Aura Farming” yang lahir dari tradisi Pacu Jalur di Riau kembali mencuri perhatian dunia. Nama Rayyan Arkan Dikha, bocah 11 tahun asal Kuantan Singingi (Kuansing), mendadak viral berkat tarian energiknya sebagai Togak Luan, penari di haluan perahu tradisional. Kali ini, bakatnya menembus batas negara dengan kolaborasi dalam video klip bersama aktris Bollywood yang tengah naik daun, Zahrah S Khan.
Video berdurasi 2 menit 30 detik itu menampilkan Dikha menari lincah di sisi Zahrah, tanpa rasa canggung, seolah mereka telah lama menjadi pasangan panggung. Unggahan di akun Instagram sang aktris langsung menuai respons luar biasa: dalam 24 jam, lebih dari 2,3 juta penonton menyaksikan aksi mereka, dan 58 ribu warganet memberikan tanda suka. Warganet Indonesia ramai memberi komentar, menyatakan rasa bangga atas talenta anak bangsa yang mampu menembus industri hiburan internasional.
Aura Farming: Dari Sungai Kuantan ke Dunia Digital
Nama Rayyan Arkan Dikha pertama kali dikenal publik berkat aksinya di ajang Pacu Jalur Kuansing. Di atas perahu panjang yang melaju kencang, gerakannya lentur dan enerjik, memadukan keseimbangan, ketepatan, dan ekspresi artistik, menciptakan apa yang kemudian disebut “Aura Farming”.
Fenomena ini tidak hanya viral di Indonesia, tapi juga menyebar ke dunia internasional. Pesohor global seperti bintang sepak bola Achraf Hakimi, Neymar, hingga atlet American Football Travis Kelce, menirukan gerakan khas Dikha. Tradisi lokal yang sarat budaya mendadak menjadi tren global, membuktikan bahwa seni dan budaya bisa menjadi jembatan lintas negara. Bahkan, beberapa konten kreator internasional membuat versi mereka sendiri dari gerakan Tari Pacu Jalur ini, memperluas pengaruh budaya Riau ke seluruh dunia digital.
Sosok Rayyan Arkan Dikha: Bocah Lincah Berjiwa Budaya
Lahir pada 28 Desember 2014, Rayyan Arkan Dikha sudah menekuni tari Pacu Jalur sejak usia delapan tahun. Sebagai bagian dari tim Jalur Tuah Koghi Dubalang Ghajo, ia terbiasa berdiri di haluan perahu sambil menari, mengenakan pakaian tradisional Melayu lengkap dengan tanjak, simbol kehormatan budaya Riau.
“Sering jatuh ke sungai, tapi untung bisa berenang,” ujarnya sambil tersenyum. Keseimbangan dan kemampuan berenang menjadi bekal pentingnya agar tetap luwes di atas perahu yang bergoyang. Keinginannya sejak kecil menjadi Togak Luan akhirnya terwujud, dan kini ia menjadi simbol semangat tradisi yang hidup di kalangan generasi muda.
Ayah Rayyan adalah mantan peserta Pacu Jalur, sementara kakaknya pernah menjadi Togak Luan. Sejak kecil, ia terbiasa berenang dan naik sampan di Sungai Kuantan—dua syarat utama menjadi penari di ujung jalur. “Ayah sering ngajak ke Pacu Jalur, jadi saya tertarik,” ujarnya. Kini, Rayyan duduk di kelas 5 SD dan memiliki cita-cita menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Menjadi Duta Pariwisata Riau
Kesuksesan Rayyan tidak hanya viral di media sosial, tapi juga diakui pemerintah. Ia dinobatkan sebagai Duta Pariwisata Riau, tampil mencolok di halaman Kantor Gubernur Riau pada Selasa, 8 Juli 2025. Penampilan Rayyan menjadi perhatian publik: tanjak Melayu tinggi, kacamata pelangi dengan bingkai putih mencolok, kain merah melingkar rapi di leher, serta baju hitam ramping dihiasi motif garis kuning dan putih yang membelah busana menjadi dua dimensi—sisi tradisi dan sisi kekinian.
“Senang sekali. Gak nyangka bisa ketemu langsung sama Pak Gubernur, apalagi sampai dikasih penghargaan,” ujar Dikha, matanya berbinar penuh kebanggaan. Penampilan teatrikalnya menjadi simbol semangat baru dalam promosi budaya, bahwa anak muda bisa menjunjung tinggi warisan tradisi dengan gayanya sendiri.
Dari Viral ke Kolaborasi Internasional
Kesuksesan Rayyan Arkan Dikha di media sosial membuka pintu ke dunia internasional. Kolaborasinya dengan Zahrah S Khan menandai babak baru perjalanan budaya Riau. Video musik ini bukan hanya hiburan; ia menjadi bukti nyata bahwa talenta lokal mampu bersanding dengan industri global, dan tradisi lokal bisa dijadikan sumber inspirasi di panggung dunia.
Fenomena “Aura Farming” membuktikan bahwa budaya tradisional tidak statis. Ia hidup, berkembang, dan mampu menjangkau audiens di seluruh dunia. Dari gerakan lincah di Sungai Kuantan hingga panggung Bollywood, Rayyan Arkan Dikha menjadi duta budaya anak bangsa yang menginspirasi generasi muda untuk menghargai akar budaya sambil mengejar prestasi global.
Aura Farming: Ikon Budaya Masa Kini
“Aura Farming” kini bukan sekadar tarian di perahu. Ia menjadi simbol semangat, kreativitas, dan identitas budaya Riau yang menyebar ke seluruh dunia. Dari pesepakbola dunia hingga konten kreator internasional menirukannya, gerakan kecil di haluan perahu menghubungkan tradisi, teknologi, dan budaya pop.
Bagi Rayyan, menjadi Anak Coki—penari di haluan perahu—bukan hanya soal pertunjukan. Ia adalah bentuk cinta terhadap warisan budaya, pengakuan internasional, dan bukti bahwa usia muda bukan penghalang untuk berdampak besar. Setiap tarian, setiap gerakan lentur, adalah ungkapan kebanggaan terhadap identitas, kreativitas, dan semangat komunitas.
Inspirasi untuk Generasi Muda
Kisah Rayyan Arkan Dikha mengingatkan bahwa budaya lokal memiliki kekuatan global. Dengan semangat, kerja keras, dan keberanian, tradisi yang dulu hanya dikenal di Sungai Kuantan kini menjadi inspirasi internasional. Anak-anak muda Indonesia bisa mengekspresikan bakatnya sambil tetap menjaga akar budaya mereka, membuktikan bahwa inovasi dan tradisi bisa berjalan seiring.
“Sudah dua tahun saya jadi Togak Luan. Belajar sendiri, tidak ada yang ngajarin. Susahnya itu jaga keseimbangan sambil menari karena perahu selalu goyang,” ungkap Rayyan. Perjuangan itu membuatnya semakin dihargai, bukan hanya sebagai penari, tetapi juga sebagai simbol budaya yang hidup, dinamis, dan membanggakan bangsa.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










