bukamata.id – Suara bakiak kayu berderit, langkah-langkah kecil berusaha seirama, lalu jatuh berdebam di tanah. Tawa pecah, lebih nyaring daripada suara pistol bambu yang meletus beberapa meter di sampingnya.
Di bawah terik matahari Padalarang, anak-anak SDIT Lukmanul Hakim berlarian di halaman Kube Eduwisata, Kota Baru Parahyangan. Wajah mereka merah, peluh bercucuran, tetapi sorot matanya penuh cahaya. Seakan dunia yang selama ini hanya mereka lihat lewat layar gawai mendadak menjadi nyata: kelinci lincah, bunga matahari tegak menjulang, dan permainan tradisional yang kembali hidup.
Raya, bocah kelas lima, berhenti sejenak. Matanya menatap bunga matahari dengan takjub.
“Baru pertama kali lihat langsung. Biasanya dari gambar atau YouTube. Ternyata besar sekali,” katanya di Kube, Rabu (6/8/2025).
Hari itu, bagi anak-anak kota, adalah perjumpaan dengan sesuatu yang mereka kira sudah hilang. Namun bagi para petani, yang mengelola Kube, hari itu adalah jawaban dari kerja panjang menjaga tanah dan pengetahuan.
Lahir dari Keresahan Kolektif
Kube—singkatan dari Kelompok Usaha Bersama—lahir bukan dari rencana wisata instan, melainkan dari serikat petani yang ingin mengikat kembali generasi muda pada tanah. Mereka tahu, sawah dan kebun bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang belajar yang luas.
Di tengah arus modernisasi, ketika lahan pertanian makin terdesak beton, para petani di kawasan ini bersepakat membangun ruang bersama. Mereka menanam sayuran, bunga matahari, dan tanaman herbal; merawat kelinci, kambing, dan ayam; lalu menyulapnya menjadi media belajar bagi siapa saja yang datang.
“Antusias anak-anak tinggi sekali. Kami memang merancang kegiatan agar mereka bisa belajar bercocok tanam, membuat sabun herbal, juga mencoba permainan tradisional,” ujar Nining Suningsih, salah satu penggerak Kube.
Ucapannya sederhana, namun di baliknya ada kisah gotong royong petani yang berusaha menjaga kesinambungan hidup. Agrowisata menjadi pilihan di tengah cepatnya roda modernissasi.
Hilman, guru pendamping, menatap murid-muridnya dengan lega. “Pembelajaran tidak harus di kelas,” katanya.
Ia tahu, tanah merah yang diinjak anak-anak hari itu adalah hasil jerih payah orang-orang yang selama ini menjaga agar lahan tak sepenuhnya hilang digerus pembangunan.
Kontras dengan kota begitu terasa. Di Bandung, anak-anak lebih sering duduk diam di depan gawai, tertawa pada layar gim, atau menonton video tanpa jeda. Di Padalarang, mereka tertawa karena jatuh dari bakiak kayu buatan petani.
Permainan tradisional itu pun punya akar. Dahulu, bakiak adalah hiburan murah di kampung-kampung, dimainkan di jalan tanah selepas panen. Kini, ia dihidupkan kembali oleh tangan petani yang sadar, warisan budaya tak bisa bertahan tanpa dimainkan generasi berikutnya.
Bagi Raya, pengalaman itu sederhana: bermain, tertawa, lalu kagum. Tetapi di balik kesederhanaan itu, ada usaha besar serikat petani yang memutuskan untuk tidak hanya menanam pangan, tetapi juga menanam ingatan dan kebersamaan.
Senja mulai turun. Cahaya kuning menimpa bunga matahari, menambah megah kelopak yang sudah besar. Raya masih berdiri, tersenyum, seolah tak ingin hari itu berakhir.
Ia pulang bukan hanya membawa cendera mata, melainkan cerita yang akan ia kenang lama: tentang bakiak kayu yang membuatnya jatuh, sabun herbal dari bunga matahari, dan wajah-wajah petani yang dengan sabar menuntunnya.
Kube, yang lahir dari ikatan petani, telah menjelma sekolah tanpa dinding. Ia adalah ruang di mana tawa anak-anak bersambut dengan doa orang-orang yang setiap hari hidup dari tanah.
Dan dari pertemuan itu, harapan tumbuh: bahwa di masa depan, anak-anak tak akan asing lagi pada bunga matahari, tanah merah, atau bakiak kayu yang mengajarkan keseimbangan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











