Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Rekor Baru Purwakarta! 500 Ribu Genteng Plered Resmi Meluncur untuk Program Gentengisasi

Jumat, 2 Oktober 2026 22:18 WIB

Aksi Mencekam Pelajar Bawa Celurit Jumbo di Majalengka, Warga: Motor Dibacok hingga Helm Dirampas

Jumat, 2 Oktober 2026 21:53 WIB

Drive Your Future Phase 2 InDrive Sasar Mahasiswa Bandung, Ada Edukasi Keselamatan Berkendara

Jumat, 2 Oktober 2026 20:23 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Rekor Baru Purwakarta! 500 Ribu Genteng Plered Resmi Meluncur untuk Program Gentengisasi
  • Aksi Mencekam Pelajar Bawa Celurit Jumbo di Majalengka, Warga: Motor Dibacok hingga Helm Dirampas
  • Drive Your Future Phase 2 InDrive Sasar Mahasiswa Bandung, Ada Edukasi Keselamatan Berkendara
  • Bandung Siapkan Kolam Retensi Baru untuk Atasi Banjir, Dibangun 2027
  • Perumda Pasar Juara Segel 243 Ruang Dagang di Pasar Ciroyom Bandung
  • Bukan Kebetulan! John Herdman Ungkap Rahasia Timnas Indonesia Hancurkan Bangladesh 9-2
  • Keren Banget! Skill Futsal Bocah SD Asal Deli Serdang Bikin Pelatih Timnas Indonesia Putri Kepincut
  • Jangan Tertipu Info Palsu! BSU 2026 Rp900 Ribu Disiapkan untuk 13,3 Juta Pekerja
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 2 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Debat Panas Netizen Soal Prinsip Kerja Chef Juna: Profesional atau Kurang Empati?

By SusanaMinggu, 24 Mei 2026 20:30 WIB4 Mins Read
Chef Juna. Foto: Instagram @junarorimpandeyofficial.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pernyataan Chef Juna kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah potongan podcast bersama Raditya Dika viral di berbagai platform digital. Dalam diskusi tersebut, juri MasterChef Indonesia itu menyoroti sikap karyawan yang tidak masuk kerja karena alasan anak sedang sakit.

Menurutnya, ketidakhadiran mendadak dalam dunia dapur profesional dapat mengganggu ritme kerja tim yang sangat terstruktur dan cepat. Namun, pernyataan itu justru memicu perdebatan luas di tengah masyarakat antara profesionalisme kerja dan empati kemanusiaan.

Kritik Chef Juna Soal Disiplin Kerja di Dapur Profesional

Dalam podcast tersebut, Chef Juna menceritakan pengalamannya menghadapi situasi di mana seorang staf tiba-tiba tidak masuk kerja karena anaknya sakit.

“Sering kali pagi-pagi ada yang bilang, ‘Chef maaf saya tidak bisa kerja, anak saya panas’. Panggil saya tidak punya hati, tapi yang sakit kan anaknya,” ujar Chef Juna menjelaskan situasinya.

Ia menilai bahwa dalam industri kuliner profesional, khususnya dapur berstandar tinggi, setiap personel memiliki peran penting yang saling terhubung.

Ketidakhadiran satu orang, menurutnya, dapat berdampak langsung pada kelancaran operasional tim.

Pernyataan tersebut kemudian diperluas dengan kritiknya terhadap budaya kerja di Indonesia yang menurutnya masih kurang disiplin dibanding standar industri internasional.

Ia juga menyoroti dampak finansial yang dialami pekerja jika mengambil izin mendadak, karena berpotensi memengaruhi gaji bulanan.

Pro dan Kontra Muncul di Tengah Publik

Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi beragam dari warganet. Sebagian mendukung pandangan Chef Juna yang menilai bahwa dunia kerja, terutama industri F&B, menuntut kedisiplinan tinggi dan tanggung jawab penuh.

Namun di sisi lain, banyak juga yang menilai pandangan tersebut kurang empati terhadap peran orang tua, terutama ketika anak berada dalam kondisi sakit dan membutuhkan pendampingan.

Perdebatan ini kemudian berkembang menjadi diskusi lebih luas tentang bagaimana seharusnya keseimbangan antara profesionalisme dan kehidupan pribadi diterapkan di dunia kerja modern.

Komentar Netizen: Antara Setuju dan Kritik Pedas

Perdebatan ini juga terlihat jelas di kolom komentar media sosial. Sejumlah netizen menilai Chef Juna benar dari sisi profesionalisme kerja.

“Secara profesional dia benar, kitchen itu seperti tim sepak bola, semua punya peran,” tulis salah satu akun.

“pdahal secara professional dia gk salah, kitchen itu sama kaya tim sepakbola inti, smua ada porsinya & ada kerjaan nya, kl satu tiba” cabut dadakan maka akan kehilanyan tempo/ritme,” tulis akun @coc***

“Didikan Chef Juna Bagus Banget. Ini akan membentuk Mental Juara dan Chef internasional Chef. Ini terbukti dia Chet Juna Sukses karena Disiplin yang Kuat,” tulis akun @pri***

Namun, tidak sedikit pula yang menilai pernyataannya terlalu keras dan kurang mempertimbangkan sisi kemanusiaan.

“Punya anak dulu baru bisa ngerasain,” komentar netizen lainnya.

“Secara profesionalitas, beliau benar. Tapi secara nurani, beliau kurang masuk. Dokter gia pernah bilang “anak kehilangan ayah disebut yatim, anak kehilangan ibu disebut piatu, tapi orang tua yang kehilangan anak, itu ga ada kata penggantinya. Karena saking beratnya sampai-sampai tidak ada kata yang bisa mendefinisikan kesedihannya” (kurang lebih gitu),” tulis aku @can***

Profil Chef Juna: Dari Calon Insinyur hingga Juri MasterChef

Chef Juna memiliki nama lengkap Junior John Rorimpandey. Ia dikenal luas sebagai juri MasterChef Indonesia yang memiliki karakter tegas dan standar tinggi dalam dunia kuliner.

Sebelum terjun ke dunia memasak, ia sempat menempuh pendidikan di Universitas Trisakti jurusan perminyakan, namun tidak menyelesaikannya. Ia kemudian melanjutkan pendidikan pilot di Amerika Serikat.

Perjalanan hidupnya berubah ketika ia bekerja di restoran Jepang saat masa krisis ekonomi. Dari situ, ia mulai belajar memasak secara otodidak hingga akhirnya meniti karier sebagai chef profesional.

Kariernya terus menanjak hingga dipercaya menjadi executive chef di berbagai restoran internasional. Namanya semakin dikenal publik setelah menjadi juri MasterChef Indonesia sejak musim pertama.

Selain itu, ia juga mengembangkan bisnis kuliner dengan membuka restoran bernama Correlate di Jakarta, yang mengusung konsep perpaduan masakan Prancis dan Jepang.

Penutup

Kontroversi ini menunjukkan adanya dua sudut pandang yang sama-sama kuat: tuntutan profesionalisme tinggi di industri kerja, serta pentingnya empati dalam kehidupan manusia.

Diskusi publik yang muncul dari pernyataan Chef Juna menjadi cerminan bahwa isu keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi masih menjadi tantangan besar di dunia kerja modern saat ini.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Keren Banget! Skill Futsal Bocah SD Asal Deli Serdang Bikin Pelatih Timnas Indonesia Putri Kepincut

Gaya Hidup Sekaligus Mesin Uang: Alasan Kuat Properti Kota Baru Parahyangan Diserbu Investor Urban

Melarikan Penat dari Riuhnya Ibu Kota: Menemukan Ketenangan Hidup di Kota Baru Parahyangan

Kulineran di Bandung? Ini 5 Tempat Makan Sunda dengan Cita Rasa Khas yang Menggoda

Drama Rp10 Ribu Bikin Bali Panen Hujatan! Sisi Gelap Pariwisata Lokal yang Dibongkar Kasus Billy Syahputra

Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Masih Rp2,581 Juta, Ada Pecahan hingga 1 Kg

Terpopuler
  • Eksa Silika Resmi Jadi Plt, KORMI Bandung Bersiap Pilih Ketua Baru
  • HUT ke-38 Bikers Brotherhood 1% MC Digelar di Bandung, Angkat Semangat Persaudaraan
  • Polemik Data Center AI Jatiluhur: AMDAL Belum Rampung tapi Proyek Sudah Dimulai, Apakah Ruang Koreksi Masih Ada?
  • Badai di Tubuh KORMI Bandung: Hibah Seret, Kudeta Kepengurusan, hingga Sentilan Guru Besar UPI
  • Aturan Dibuat untuk Dilanggar? Menguliti Tiga Dosa Administratif Pengadaan Publikasi Purwakarta
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.