Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Resmi! Ini Daftar 26 Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027, Ada Libur Panjang

Rabu, 16 September 2026 03:00 WIB

Menjelajahi Wisata Kuliner Bogor: Panduan Lengkap 14 Spot Legendaris hingga Spot Foto Estetik

Rabu, 16 September 2026 02:00 WIB

Menjelajah Pesona Purwakarta: 27 Destinasi Liburan Hits yang Ramah di Kantong

Rabu, 16 September 2026 01:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Resmi! Ini Daftar 26 Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027, Ada Libur Panjang
  • Menjelajahi Wisata Kuliner Bogor: Panduan Lengkap 14 Spot Legendaris hingga Spot Foto Estetik
  • Menjelajah Pesona Purwakarta: 27 Destinasi Liburan Hits yang Ramah di Kantong
  • Siaga Merah di Tanah Suci: Arab Saudi Keluarkan Peringatan Darurat Usai Hujaman Rudal Houthi
  • Sampah di Purwakarta Nyaris Sentuh 200 Ton Per Hari, Warga Diminta Mulai Pilah dari Rumah
  • Jelang Duel Kontra FC Seoul, Marc Klok Kobarkan Semangat Juang Persib di Panggung Asia
  • Nenek di Sukabumi Ditemukan Tewas Saat Padamkan Kebun Bambu yang Terbakar
  • Pekan Ketiga Super League Memanas! Persib ke Jepara, Persija Kontra Java United
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 16 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Di Balik Ular-ular Sawah, Ada Berkah untuk Dika: Kisah Bocah Banjaran yang Viral dan Menginspirasi

By Aga GustianaKamis, 1 Januari 2026 07:16 WIB5 Mins Read
Muhammad Nandika Saepulloh, bocah penangkap ular asal Banjaran. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Suara kodok memantul di pematang sawah yang mulai mengering. Udara lembap bercampur bau lumpur menempel di kulit. Di antara ilalang yang bergoyang oleh angin pagi, seorang bocah berkaus hijau lusuh berdiri dengan kaki sedikit terbenam dalam lumpur. Matanya awas, menatap sela-sela gundukan tanah, seperti sedang menunggu sesuatu muncul dari balik rerumputan.

Dialah Muhammad Nandika Saepulloh, bocah yang akrab dipanggil Dika oleh warga Banjaran, Kabupaten Bandung. Sejak akhir 2025 namanya mendadak dikenal publik setelah video-videonya menangkap ular dengan tangan kosong viral di media sosial dan dipublikasikan sejumlah media nasional. Dalam video-video itu, Dika terlihat cekatan mengangkat ular berwarna gelap dari balik semak persawahan, menggenggamnya erat tanpa cemas, seolah ular hanyalah bagian dari keseharian yang sama pentingnya dengan belut atau ikan kecil di sungai.

Bagi sebagian besar orang, ular adalah sumber ketakutan. Namun bagi Dika, ular adalah sahabat aneh yang justru memberikan jalan rezeki. Ia bisa menangkap hingga empat ekor dalam sehari jika beruntung. Ular-ular itu dijual kepada warga yang membutuhkan—ada yang memeliharanya sebagai hobi, ada pula pedagang yang menyalurkannya lagi. Dari setiap ekor, Dika mengumpulkan uang seribuan hingga puluhan ribu. Tidak besar memang, tetapi cukup untuk membeli jajanan yang ia sukai, dan masih bisa berbagi dengan adik-adiknya atau dengan teman-teman sebaya.

Putus Sekolah karena Dirundung

Tapi di balik keberaniannya menangkap ular, Dika pernah menghadapi kenyataan pahit di sekolah. Ia sempat putus sekolah sejak kelas tiga SD karena dirundung teman-temannya.

Baca Juga:  3 Rekomendasi Bakmie Lezat dan Terjangkau di Pasar Cihapit Bandung

Orangtua Dika awalnya bingung menghadapi kondisi itu. Mereka takut anaknya kehilangan semangat belajar, tapi di sisi lain, takut memaksanya kembali ke lingkungan yang membuatnya stres. Akhirnya, Dika memutuskan berhenti sekolah sementara, mencari kenyamanan dan kebahagiaan di sawah, bersama ular-ular yang kini menjadi teman setianya.

Viralnya video Dika mengubah pandangan banyak orang. Bocah yang dirundung itu kini menjadi inspirasi, bahkan disebut memperoleh “berkah” dari ular-ular yang ia tangkap.

Keberanian yang Terkikis Waktu

Keberanian Dika bukan datang tanpa luka. Beberapa kali ia pernah digigit ular, bahkan ada yang mencapai telinganya. Namun dengan nada santai ia bercerita bahwa gigitan itu “nggak terlalu sakit.” Banyak orang menegur, tetapi ia tetap kembali ke sawah, seolah alam telah menyematkan naluri tertentu di dirinya—atau mungkin, kehidupan telah mengajarinya untuk tidak terlalu takut pada risiko.

Di lingkungan kampungnya, keberanian itu kadang dianggap kenekatan. Namun saat video-videonya viral, perspektif berubah. Orang mulai melihat bahwa bocah kecil itu tidak hanya menantang bahaya, tetapi juga menggenggam peluang.

Nama Dika lalu menginspirasi banyak orang. Videonya ditonton jutaan, profilnya dibahas, bahkan ia menjadi perbincangan di komunitas pecinta reptil di Indonesia.

Para “Guru” Datang dari Dunia Maya

Viralnya Dika menarik perhatian sejumlah kreator konten dan influencer yang bergerak dalam edukasi satwa, terutama reptil. Tokoh seperti Panji Petualang, Dede Inoen, dan Heru Gundul datang menemuinya. Mereka tidak hanya ingin melihat langsung bocah viral itu, tetapi juga memberikan edukasi tentang keselamatan: cara memegang ular tanpa memancing serangan, bagaimana membedakan ular berbisa dan tidak, serta kenapa menangani ular tertentu memerlukan alat dan pelatihan khusus.

Baca Juga:  Rasakan Sensasi Nasi Kandar Asli Penang di Bandung

Panji, yang dikenal luas sebagai figur edukasi reptil di Indonesia, tampak antusias menyaksikan Dika beraksi. Di beberapa rekaman kolaborasi, Panji menasihati Dika tentang bahaya kobra dan weling—spesies yang bisa membunuh hanya dengan satu gigitan. Dede Inoen datang dengan kamera dan semangat yang sama, menunjukkan bahwa keberanian harus dibarengi pengetahuan, bukan sekadar nyali. Sedangkan Heru Gundul memberi pengalaman lapangan dan cerita-cerita soal satwa liar yang membuat kehadiran mereka bukan sekadar kunjungan, tetapi semacam lokakarya alam di pematang sawah.

Kehadiran para influencer itu membuat nama Dika semakin naik. Ia tidak lagi sekadar bocah yang menangkap ular demi uang jajan; kini ia menjadi ikon kecil edukasi satwa, meski jalannya masih panjang.

Dari Viral Menjadi “Brand”

Ketika popularitas meningkat, peluang pun bermunculan. Beberapa brand kecil mulai menawarkan endorse. Ada pula konten kolaborasi yang memberikan Dika sedikit pemasukan tambahan, jauh lebih stabil dibanding hasil menangkap ular yang bergantung musim.

Warga Banjaran awalnya tidak menyangka viralnya Dika bisa membuka pintu sebesar itu. Namun perlahan mereka melihat sendiri: video-video kolaborasi, bingkisan dari konten kreator, hingga orang-orang yang datang membawa pesan dukungan. Untuk seorang bocah di pedesaan, pengalaman itu nyaris seperti mimpi: dunia digital tiba-tiba menyentuh kehidupan yang sehari-harinya begitu dekat dengan lumpur dan ilalang.

Baca Juga:  Healing Sambil Olahraga, Siliwangi Bowling Center Bisa Jadi Pilihan di Bandung

Di tengah itu, muncul pula dukungan pendidikan dari beberapa komunitas. Mereka berharap viralnya Dika bukan sekadar fenomena musiman, melainkan pintu bagi masa depan yang lebih cerah. Sejumlah kelompok dan yayasan mulai membahas beasiswa untuk Dika—baik bagi pendidikan formal maupun pelatihan keterampilan—agar keberaniannya tidak berhenti di sawah, tetapi menemukan tempat baru dalam dunia yang lebih luas.

Berkah yang Tak Berbentuk Uang Semata

Kini, ketika orang menyebut “ular membawa berkah bagi Dika,” maknanya jauh melampaui nilai rupiah yang ia dapat dari hasil tangkapan. Berkah itu muncul dalam bentuk perhatian, kesempatan belajar, jaringan yang tak pernah ia bayangkan, bahkan harapan agar ia dapat kembali belajar setelah sempat putus sekolah.

Di suatu senja, saat langit Banjaran memerah dan sawah berkilau terkena pantulan matahari terakhir, Dika kembali berjalan pulang dari sawah. Tangan kecilnya kosong—hari itu ia tak menemukan seekor pun ular. Namun langkahnya tetap ringan. Mungkin ia tahu bahwa kini, rezekinya tidak melulu datang dari apa yang ia genggam, melainkan dari apa yang dunia lihat dalam dirinya: keberanian, ketekunan, dan ketulusan seorang anak yang tidak pernah berhenti mencoba.

Dan seperti ular yang berganti kulit, Dika pun perlahan memasuki fase baru dalam hidupnya. Dari bocah sawah menjadi simbol harapan—bahwa viral bisa menjadi pintu, asal seseorang berani melangkah melewatinya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

bandung
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Resmi! Ini Daftar 26 Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027, Ada Libur Panjang

Menjelajahi Wisata Kuliner Bogor: Panduan Lengkap 14 Spot Legendaris hingga Spot Foto Estetik

Menjelajah Pesona Purwakarta: 27 Destinasi Liburan Hits yang Ramah di Kantong

Surga Kuliner Sukabumi: 11 Destinasi Rasa Legendaris yang Wajib Masuk Bucket List

Lagi Cari Tempat Healing? Ini 3 Wisata Air Panas Bandung yang Bikin Betah

Maudy Ayunda Minta Maaf dan Akui Ada Privilese, Warganet: Pick Me Banget!

Terpopuler
  • Semarak HUT TNI ke-81, Ribuan Peserta Siap Ikuti Fun Run di Cimahi
  • Game Free Fire
    Deretan Kode Redeem FF 15 September 2026, Klaim Reward Senjata Eksklusif Sekarang Juga!
  • Tradisi 60 Tahun Berujung Hujatan! Menelusuri Fakta di Balik Hebohnya Simbang Kulon Night Carnival 2026
  • Uang Mertua Rp17 Miliar Raib, Shabrina Adfi Buka Suara Soal Kejahatan Perbankan di BTN
  • Bikin Penasaran! Sosok Lylia Kasir Indomaret Jadi Buruan Warganet di TikTok
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.