bukamata.id – Gema sodokan bola di meja hijau NICE PIK 2, Jakarta, menjadi saksi lahirnya bintang baru dari timur Indonesia.
Fajar Alamri, pebiliar cilik kebanggaan Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, berhasil mencuri perhatian dunia saat tampil memukau dalam Carabao International Open (CIO) 2026 yang berlangsung pada 4–8 Februari 2026.
Di tengah kepungan atlet-atlet profesional dari berbagai benua, Fajar hadir bukan sekadar pelengkap kompetisi, melainkan simbol harapan bahwa bibit unggul dari pelosok nusantara kini siap menantang dominasi pemain mancanegara.
Darah Atlet Mengalir Deras: Inspirasi dari Sang Ayah
Fajar merupakan putra dari Jafar Alamri, salah satu atlet biliar ternama asal Tolitoli. Dari sang ayah, Fajar mewarisi ketenangan luar biasa dan akurasi tajam, dua hal yang menjadi ciri khas Jafar di meja hijau.
Meski baru berusia 5 tahun, Fajar sudah menunjukkan kematangan teknik yang jauh melampaui usianya.
Keahlian Fajar tidak muncul begitu saja. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan stik biliar, sering mengikuti latihan ayahnya bahkan sejak masih bermain di halaman rumah.
“Dia sudah terbiasa dengan stik biliar sebelum teman seusianya tahu cara memegangnya dengan benar,” ujar Jafar Alamri.
Panggung Dunia: CIO 2026 Catat Rekor MURI
Turnamen CIO 2026 menjadi ajang bergengsi bertaraf internasional, diikuti 341 peserta dari 31 negara. Kejuaraan ini sekaligus mencatatkan sejarah dengan Rekor MURI sebagai turnamen biliar multikategori dengan peserta terbanyak di Indonesia.
Fajar, yang tampil di kategori junior, membuktikan bahwa talenta dari daerah mampu menembus panggung global.
Aksinya di meja hijau tidak hanya menghadirkan performa gemilang, tetapi juga menyampaikan pesan kuat: batasan geografis bukan penghalang untuk prestasi dunia.
Dari ketenangan Tolitoli hingga gemerlap panggung Jakarta, Fajar menunjukkan bahwa dedikasi dan latihan intens mampu mengantarkan talenta muda ke level profesional.
Keahlian Biliar dan Disiplin Sejak Kecil
Selain teknik dasar, Fajar juga dikenal karena kedisiplinan dan fokus tinggi. Latihan rutin yang digabungkan dengan strategi permainan ayahnya membuat Fajar mampu mengantisipasi lawan, menghitung sudut tembakan, dan menjaga ketenangan meski berada di bawah tekanan.
Warganet menyoroti bahwa bakatnya tampak “turun dari bapak ke anak” dan latihan Fajar seolah dimulai sejak dalam kandungan.
Tak hanya itu, Fajar juga mahir dalam berbagai jenis permainan biliar, termasuk 9-ball dan straight pool, yang menjadikannya fleksibel menghadapi kompetisi internasional dengan format berbeda-beda.
Inspirasi untuk Generasi Muda
Keikutsertaan Fajar Alamri di CIO 2026 menjadi bukti bahwa bibit unggul dari daerah bisa bersaing di panggung dunia.
Setiap sodokan dan fokus matanya menjadi inspirasi bagi generasi muda Sulawesi Tengah dan seluruh Indonesia bahwa panggung internasional kini terbuka bagi siapa saja yang berani bermimpi dan bekerja keras.
Komentar warganet di Instagram @inspacta.id, Senin (9/2/2026), mencerminkan kagum publik:
- “Luar biasa, mantab hobbyx bapaknya turun ke anak,” tulis @efl***
- “The real… Generasi EMAS..” tulis @ian***
- “Jangan panggil aku anak kecil, paman,” tulis @dsm***
- “Dia latihannya sejak dalam kandungan kali ya,” tulis @ary***
Dengan prestasi gemilang di ajang bergengsi ini, Fajar Alamri tidak hanya mengharumkan nama Tolitoli, tetapi juga menjadi ikon pebiliar muda Indonesia yang siap membawa bendera Merah Putih berkibar di podium dunia.
CIO 2026 hanyalah langkah awal; masa depan Fajar diprediksi akan lebih cemerlang di panggung biliar internasional.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










