bukamata.id – Gelaran Miss Universe 2025 belum juga mencapai malam puncak, tetapi api kontroversi sudah lebih dulu menyala di balik panggung megahnya. Ajang kecantikan yang seharusnya menjadi simbol keanggunan dan persatuan dunia itu kini berubah jadi ajang penuh intrik dan emosi. Sorotan tajam publik dunia tertuju pada Miss Universe Mexico 2025, Fatima Bosch, yang secara mengejutkan memutuskan walkout di tengah acara pada Selasa (4/11), usai menerima komentar “tidak sopan” dari salah satu direktur penting di balik kompetisi ini.
Dan yang lebih menggemparkan lagi — aksinya tidak berlangsung sendirian. Sejumlah finalis lain memilih berdiri bersamanya, menciptakan momen dramatis yang mengguncang dunia pageant internasional.
Awal Mula Ketegangan di Bangkok
Kericuhan bermula dari sesi siaran langsung yang digelar di Bangkok, Thailand. Sang Direktur Miss Universe Thailand, Nawat Itsaragrisil, menjadi pusat perhatian ketika tampil bersama para finalis. Namun, baru 13 menit berlalu, suasana yang semula penuh senyum berubah mencekam.
Dalam tayangan live tersebut, Nawat mendadak menegur Fatima Bosch di depan seluruh peserta. Ia menuding Bosch tak mengikuti aturan promosi media sosial yang mengharuskan para finalis memposting konten tentang Thailand, selaku tuan rumah Miss Universe 2025.
Menurut Nawat, pihaknya menerima laporan bahwa direktur nasional Miss Universe Meksiko telah melarang Bosch untuk mengunggah konten tentang negeri Gajah Putih itu. Tuduhan yang segera ditampik Bosch. Dengan tenang, ia berusaha menjelaskan bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman.
Namun, penjelasan itu langsung dipotong. Nada suara Nawat meninggi. Ia bertanya tajam,
“Pertanyaanku, kamu bisa mengikuti aturan kami atau tidak? Kamu bisa posting atau tidak? Bisa bantu promosikan Thailand atau tidak? Ya atau tidak?”
Bosch menjawab tegas, “Ya.” Tapi bukannya reda, tensi justru makin naik. Nawat menyuruhnya duduk dan melanjutkan dengan pernyataan yang kemudian memicu badai besar:
“Kalau kamu mengikuti perintah dari direktur nasionalmu, kamu sangat bodoh.”
Aksi Walkout dan Gelombang Solidaritas
Kata-kata itu seketika mengubah suasana ruangan menjadi tegang. Bosch yang merasa direndahkan berdiri dari kursinya, menatap langsung ke arah Nawat, dan melayangkan teguran tegas.
Alih-alih menenangkan situasi, Nawat justru memanggil tim keamanan. Para finalis lain tampak kaget — sebagian saling berbisik, sebagian lagi terpaku. Di tengah sorotan kamera, Bosch berjalan keluar sambil berkata lantang,
“Aku di sini mewakili negaraku, dan bukan salahku kalau kamu punya masalah dengan organisasiku.”
Aksi heroik Bosch langsung mendapat dukungan dari beberapa finalis lain. Miss Universe Kanada, Miss Universe Armenia, dan Miss Universe Palestina memilih meninggalkan ruangan sebagai bentuk solidaritas. Sebuah momen yang jarang, bahkan hampir tak pernah terjadi dalam sejarah Miss Universe.
Sementara itu, Nawat tetap tenang di depan kamera dan berkata,
“Kalau ada yang mau lanjut ikut kompetisi, silakan duduk. Kalau kamu keluar, peserta lain akan tetap melanjutkan.”
Suara Perlawanan dari Para Finalis
Tak butuh waktu lama, video insiden itu viral di media sosial. Dalam hitungan jam, tayangan di laman Facebook Miss Universe Thailand ditonton jutaan kali. Fatima Bosch kemudian menulis pernyataan pedas di akun pribadinya.
Ia menyebut komentar Nawat sebagai bentuk ketidaksopanan terhadap perempuan, menulis,
“Aku percaya dunia perlu tahu dan melihat ini, karena kami semua perempuan berdaya.”
“Kalau sesuatu membuatmu kehilangan martabat, kamu harus meninggalkannya.”
Pernyataannya disambut gelombang dukungan global. Tagar #StandWithFatima dan #RespectWomen trending di berbagai platform.
Langkah Tegas dari Miss Universe Organization
Presiden Miss Universe Organization (MUO), Raul Rocha, tak tinggal diam. Dalam video resmi yang dirilis Rabu (5/11), ia menyebut tindakan Nawat “tidak dapat diterima”.
“Kami akan membatasi kehadirannya sebisa mungkin, bahkan mungkin menghapuskan sepenuhnya,” ujar Rocha.
Ia juga mengumumkan bahwa MUO telah mengirimkan tim eksekutif dan ahli diplomatik ke Thailand untuk mengambil alih jalannya kompetisi.
“Kami mempercayakan Miss Grand International untuk menangani acara ini, tapi kepercayaan itu telah hilang,” katanya tegas.
Langkah cepat ini dipuji banyak pihak karena dianggap menunjukkan keberpihakan organisasi pada nilai-nilai penghormatan dan profesionalisme.
Dukungan dari Sesama Finalis
Sementara itu, Miss Universe Singapura 2025, Annika Sager, turut menyuarakan dukungannya lewat Instagram. Dalam unggahannya, ia menulis,
“Dalam dunia ketika perempuan masih harus terus berjuang untuk meraih kesetaraan dan pengakuan, kita harus menegaskan pentingnya lingkungan yang dibangun atas dasar saling menghormati, yakni ketika suara kita sama berharganya dengan kehadiran kita.”
Ia menambahkan pesan kuat,
“Kita pantas untuk diangkat, bukan direndahkan. Kita pantas memiliki kebebasan untuk menyuarakan keyakinan kita dengan integritas dan empati.”
Pesan itu viral, menjadi semacam manifesto baru bagi para kontestan yang ingin menegakkan nilai-nilai keberanian dan harga diri di tengah industri yang sering kali glamor di luar, tapi keras di dalam.
Permintaan Maaf dan Klarifikasi yang Terlambat
Di tengah badai kritik, Nawat akhirnya muncul di acara penyambutan peserta Miss Universe 2025 pada Rabu malam. Di hadapan publik, ia menyampaikan permintaan maaf terbuka:
“Aku harap kalian bisa memahami bahwa tekanannya sangat besar. Aku juga manusia. Kadang aku tidak bisa mengendalikan diri.”
Ia melanjutkan dengan nada menyesal,
“Aku sama sekali tidak berniat menyakiti siapa pun karena aku menghormati kalian semua… Aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi.”
Sebagai bentuk penyesalan, Nawat menundukkan badan di depan para finalis. Namun, bagi sebagian pihak, maaf itu datang terlambat. Banyak yang menilai langkahnya hanya sekadar untuk menyelamatkan citra.
Dalam konferensi pers terpisah, Nawat mencoba mengklarifikasi ucapannya yang viral. Ia membantah pernah mengatakan “dumb head” kepada Bosch, dan menjelaskan bahwa yang sebenarnya ia ucapkan adalah “damage.”
“Aku tidak pernah bilang ‘dumb head’, bahkan satu detik pun… Aku bilang ‘damage’. Kalau dia percaya dan mengikuti perintah direktur nasionalnya, itu artinya ‘merugikan’,” ujarnya.
Namun, publik tampaknya tak begitu mudah diyakinkan. Keesokan harinya, Kamis (6/11), ia kembali menyinggung kontroversi tersebut lewat Instagram:
“Kebebasan berbicara memang penting, tapi kalau yang diucapkan adalah kebohongan, itu tidak bisa disebut kebebasan berbicara.”
Citra Miss Universe di Ujung Tanduk
Miss Universe 2025 sejatinya dijadwalkan berlangsung pada 21 November 2025 di Bangkok. Namun sebelum malam penobatan dimulai, dunia sudah lebih dulu menyaksikan drama yang menyaingi film Hollywood — lengkap dengan konflik, keberanian, dan air mata.
Insiden ini telah membuka perbincangan besar tentang bagaimana organisasi sebesar Miss Universe menangani krisis, memperlakukan peserta, dan menegakkan nilai-nilai perempuan berdaya yang selama ini mereka gembar-gemborkan.
Publik kini menunggu: apakah Miss Universe 2025 akan bangkit dengan elegan, atau tenggelam dalam bayang-bayang skandal yang mereka ciptakan sendiri?
Dengan drama sebesar ini bahkan sebelum mahkota diletakkan di kepala sang ratu sejati, Miss Universe 2025 telah membuktikan satu hal: keindahan sejati bukan hanya soal paras, tapi keberanian untuk berdiri ketika martabat dipertaruhkan
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











