Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Bisa Dapat Rp2,7 Juta! Ini Rincian Bansos PKH Tahap 4 2026 untuk 8 Kategori Penerima

Jumat, 30 Oktober 2026 11:45 WIB

Kualitas Udara Bandung Memburuk, Indeks AQI Sempat Capai Angka 167

Jumat, 30 Oktober 2026 11:23 WIB

Kemarau Belum Usai, Jawa Barat Justru Diintai Hujan Lebat dan Angin Kencang

Jumat, 30 Oktober 2026 11:12 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bisa Dapat Rp2,7 Juta! Ini Rincian Bansos PKH Tahap 4 2026 untuk 8 Kategori Penerima
  • Kualitas Udara Bandung Memburuk, Indeks AQI Sempat Capai Angka 167
  • Kemarau Belum Usai, Jawa Barat Justru Diintai Hujan Lebat dan Angin Kencang
  • Pengamat Nilai Transjabodetabek Blok M-Bandung Tak Efektif, Ini Alasannya
  • Jadwal Persib vs Isen Mulang Kalteng FC di Super League, Cek Harga Tiketnya
  • Wacana Transjabodetabek Blok M-Bandung, Dishub: Perlu Koordinasi Lintas Provinsi
  • Harga Emas Antam Anjlok Lagi! Hari Ini Dibanderol Rp 2.546.000 per Gram
  • Bansos Digital Meluncur 10 November? Luhut Targetkan 100 Juta Warga Terdaftar
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 30 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Dulu Mulyono Kini Mulyadi, Rocky Gerung Sindir Gaya Politik Dangkal dan Minim Visi

By SusanaKamis, 22 Mei 2025 17:15 WIB2 Mins Read
Jokowi
Rocky Gerung. Foto: tangkapan layar.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pengamat politik Rocky Gerung kembali melontarkan kritik tajam terhadap gaya komunikasi dan preferensi publik dalam dunia politik Indonesia.

Dalam acara Indonesia Lawyers Club yang bertajuk “Dulu Mulyono, Kini Mulyadi”, Rocky Gerung menyoroti fenomena politikus yang lebih menonjolkan visualisasi dan penampilan ketimbang visi dan gagasan, dengan menyinggung nama Dedi Mulyadi sebagai contoh aktual.

“Saya tidak ingin bicara soal watak, strategi, atau kemampuan membangun opini publik dari Kang Dedi, karena pada akhirnya pembandingnya cuma Mulyono. Jadi samar-samar saya mulai melihat bahwa yang berbahaya sebetulnya bukan Dedi Mulyadi ataupun Junto Mulyono, tetapi penontonnya. Penonton yang lebih mengutamakan penampilan, bukan visi,” ujar Rocky, dikutip dari YouTube Indonesia Lawyers Club, Kamis (22/5/2025).

Rocky menjelaskan, dalam teori komunikasi, ada istilah terkait masyarakat yang gemar mengonsumsi tontonan dangkal. Teori itu, menurutnya, berasal dari kajian kritis yang dipengaruhi oleh pemikiran Marxisme, di mana ucapan dan visualisasi menjadi komoditas yang dijual ke publik.

Baca Juga:  KDM Komitmen Hadirkan Akses Listrik untuk Seluruh Warga Tahun Depan

“Visualisasi Jokowi sampai sekarang semua orang tau, orong-gorong, kesederhanaan, tapi visinya orang gak ingat, Dedi Mulyadi juga dimulai dengan problem yang sama, tadi yang mendukung bilang visualisasinya untuk memotong anggaran, tapi kalau orang politik mengukur visualisasi itu demi apa?”lanjutnya.

Baca Juga:  KDM Sentil Wali Kota Bandung soal Teras Cihampelas: Berani Bereskan?

Lebih lanjut, Rocky mengkritisi aksi Dedi Mulyadi yang mengirim anak-anak ke barak militer sebagai bentuk disiplin. Ia menyebut metode itu dangkal karena justru mengabaikan esensi pendidikan, yakni mendorong anak untuk berpikir kritis dan kreatif.

“Barak militer itu untuk mendisiplinkan tubuh, bukan pikiran. Anak itu nakal karena kreativitasnya tumbuh. Yang dibutuhkan adalah pedagogi, bukan demagogi. Pikiran tidak bisa didisiplinkan,” tegas Rocky.

Ia juga menyindir masyarakat yang dengan mudah terkesima oleh gimmick politik dan metode pendidikan yang dangkal. Menurutnya, publik hari ini lebih banyak menonton permukaan daripada menggali substansi.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Buka Pendidikan Karakter Gapura Panca Waluya Angkatan Keenam

“Kita ini sedang menonton kedangkalan, dan itu terjadi setiap hari. Coba renungkan, yang kita lihat sehari-hari bukan leader, tapi dealer. Orang yang tidak mampu mengucapkan sesuatu yang layak untuk dibantah. Padahal, seorang pemimpin sejati adalah mereka yang siap argumennya dibantah. Tapi sekarang, ketika dibantah malah dikira buzzer,” tutup Rocky.

Pernyataan Rocky Gerung ini kembali mengajak publik untuk lebih kritis dalam melihat kontestasi politik, tidak hanya terpaku pada pencitraan, tetapi menelaah lebih jauh visi, gagasan, dan komitmen nyata dari para pemimpin.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi HL Rocky Gerung
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Bisa Dapat Rp2,7 Juta! Ini Rincian Bansos PKH Tahap 4 2026 untuk 8 Kategori Penerima

Kualitas Udara Bandung Memburuk, Indeks AQI Sempat Capai Angka 167

Kemarau Belum Usai, Jawa Barat Justru Diintai Hujan Lebat dan Angin Kencang

Pengamat Nilai Transjabodetabek Blok M-Bandung Tak Efektif, Ini Alasannya

Wacana Transjabodetabek Blok M-Bandung, Dishub: Perlu Koordinasi Lintas Provinsi

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Bansos Digital Meluncur 10 November? Luhut Targetkan 100 Juta Warga Terdaftar

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.