bukamata.id – Jagad media sosial di Karawang baru-baru ini dihebohkan oleh video memilukan tentang bayi bernama Zea yang dinarasikan hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan. Namun, di balik riuhnya komentar netizen, tersimpan realitas sosial yang lebih kompleks: sebuah potret tentang pendidikan yang terputus, trauma keluarga, dan sulitnya menembus dinding birokrasi.
Rosid, Ketua RT sekaligus saksi kunci di Dusun Krajan, Kelurahan Palumbonsari, angkat bicara untuk meluruskan persepsi publik yang terlanjur liar.
“Iya, untuk soal kasus viral itu, setahu saya terjadi hari Sabtu (7/2), tapi ceritanya juga tidak seperti itu. Yang menyuapi bayi itu juga bukan keluarganya, dia tetangganya, sama seperti saya, dan saya tahu persis apa yang terjadi,” ungkap Rosid saat ditemui, Selasa (10/2/2026).
Adit: Sang Ayah yang Tergilas Kerasnya Jalanan
Pusat dari badai ini adalah Adit (23), ayah kandung Zea. Adit adalah gambaran nyata dari anak muda yang kehilangan arah akibat perceraian orang tua sejak ia duduk di bangku kelas 2 SD. Tanpa ijazah dan bimbingan, ia tumbuh menjadi anak punk yang menggantungkan hidup di lampu merah Pasar Johar sebagai pengamen dan juru parkir liar.
“Ayah bayi itu namanya Adit, dia semacam anak punk, yang biasa di jalanan, beberapa kali dulu saya juga sempat mengurus dia karena terjaring razia Satpol PP di Pasar Johar,” papar Rosid.
Kisah cinta Adit pun berakhir getir. Menikah siri di jalanan, sang istri pergi meninggalkan Zea yang saat itu baru berusia tiga bulan untuk menikah lagi. Kini, bayi mungil itu diasuh Adit dan neneknya di sebuah rumah sederhana yang juga dihuni oleh lima cucu lainnya.
Birokrasi yang Terbentur Gaya Hidup Jalanan
Bukan tanpa upaya, pihak lingkungan telah berkali-kali mencoba menarik Adit masuk ke dalam sistem bantuan resmi pemerintah. Namun, trauma masa lalu dan kebiasaan hidup bebas membuatnya sulit diajak mengurus administrasi kependudukan.
“Saat tahu Adit punya anak, saya sempat mengajak Adit untuk buat KTP, dan KK sendiri… Tapi Adit sampai sekarang susah untuk diminta membuat KTP dan KK,” ujar Rosid dengan nada prihatin.
Padahal, kelurahan sudah menyiapkan rencana besar untuk mengubah nasib Adit, termasuk menawarkan pekerjaan sebagai tenaga kebersihan agar ia memiliki penghasilan tetap.
Klarifikasi Kondisi Kesehatan Zea
Mengenai narasi video yang menyebut Zea sakit, Rosid dengan tegas membantahnya. Ia menjelaskan bahwa bayi tersebut tetap dalam pantauan bidan desa meskipun status kependudukannya belum jelas. Video yang diunggah oleh tetangga bernama Tiara diakui Rosid muncul karena rasa iba, namun sayangnya melahirkan narasi yang kurang akurat.
“Nggak seperti yang diceritakan di video, Zea itu sejak usia 3 bulan awal ke sini, sampai sekarang masih dalam pengawasan bidan desa. Meskipun sebenarnya Zea tanpa identitas,” tambahnya.
Memutus Rantai Trauma
Bagi lingkungan setempat, bantuan instan yang datang karena viral bukanlah solusi jangka panjang. Fokus utama saat ini adalah memastikan Zea tidak menjadi korban kedua dari rantai broken home yang dialami ayahnya.
“Kesimpulan saya sebenarnya ini, Adit lah yang jadi korban broken home pertama… dan anaknya Adit kemudian jadi korban Adit dan mantan istrinya,” tutur Rosid.
Pihak RT dan Kelurahan berkomitmen untuk tetap mengupayakan kemandirian Adit melalui pekerjaan layak dan perbaikan hunian (Rutilahu).
“Buat kita yang penting kelangsungan hidup kelurganya, bayi nya, pendidikannya, bukan mengambil azas manfaat sementara dari viral… Yang kita upayakan justru ke depannya keluarga Adit harus seperti apa,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











