bukamata.id – Di tepi Jalan Raya Cicalengka–Majalaya, tepatnya di Desa Bojong, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, berdiri sebuah masjid bercat merah yang kini dikenal warga sebagai masjid makan-makan.
Namanya Masjid Pemuda Al-Hamra. Masjid yang juga akrab disebut Masjid Merah ini baru berusia satu tahun.
Operasional masjid, Bagus Sulaiman (47), mengatakan pembangunannya tepat satu tahun lalu, menjelang Ramadan.
“Alhamdulillah, masjid ini dibangun satu tahun. Dari Ramadan kemarin sampai Ramadan hari ini tepat satu tahun,” ujar Bagus saat ditemui, Rabu (25/2/2026).
Di usianya yang masih muda, masjid ini justru sudah ramai oleh aktivitas sosial. Salah satu program yang paling dikenal adalah makan gratis untuk jemaah dan warga sekitar.
Bahkan, pihak masjid dengan percaya diri memberi branding sebagai Masjid Makan-Makan.
“Alhamdulillah salah satunya program yang sudah ramai di masjid ini yaitu program makan-makan. Karena insyaallah dari program makan ini kita ingin menarik masyarakat ataupun siapa pun yang kebetulan lewat di depan masjid untuk mampir,” kata Bagus.
Harapannya bukan sekadar mengenyangkan perut. Lebih dari itu, makan gratis menjadi pintu masuk untuk mendekatkan masyarakat ke masjid.
“Setelah mereka mampir, insyaallah mereka lebih fokus ibadahnya di masjid,” tambahnya.
Dari Zuhur ke Magrib
Program makan gratis ini ternyata sudah berjalan sebelum Ramadan. Hingga hari ini, tercatat sudah 125 hari kegiatan berbagi makanan dilakukan tanpa jeda.
“Kalau Allah izinkan, hari ini hari ke-125 kita mengadakan program makan-makan,” ungkap Bagus.
Awalnya, makanan dibagikan selepas salat zuhur. Namun selama Ramadan, waktu pembagian dialihkan ke setelah salat magrib agar jemaah bisa berbuka bersama dan bertahan hingga salat isya serta tarawih.
Dalam hari biasa, masjid menyediakan sekitar 45 hingga 50 porsi makanan per hari dengan anggaran kurang lebih Rp500 ribu. Khusus hari Jumat, jumlahnya melonjak drastis.
“Kalau hari Jumat kita sediakan 270 porsi, karena jemaahnya lebih banyak,” jelasnya.
Ada perbedaan konsep antara hari biasa dan Ramadan. Jika di luar Ramadan makanan dibagikan dalam boks, saat Ramadan penyajian dibuat prasmanan.
“Kenapa dibikin prasmanan? Karena untuk jemaah bisa stay di masjid. Selain ikut salat magrib dan makan, kita juga berharap sampai salat isya dan tarawih di sini,” tutur Bagus.
Dapur Sendiri dan Donatur
Menariknya, seluruh makanan dimasak sendiri oleh tim dapur masjid. Masjid Pemuda Al-Hamra memiliki dapur internal yang setiap hari mengepul demi melayani jemaah.
“Alhamdulillah kita punya dapur sendiri. Jadi ada tim yang setiap hari masak untuk jemaah,” kata Bagus.
Pembiayaan program ini berasal dari donatur, baik offline maupun online. Aktivitas masjid yang rutin dibagikan melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok menarik perhatian banyak orang.
“Alhamdulillah banyak donatur yang offline dan juga dari online. Banyak orang yang kepo nanyain program kami apa saja, dan alhamdulillah banyak orang baik yang men-support kegiatan kami,” ujarnya.
Selain makan gratis, masjid juga sempat membagikan sembako menjelang Ramadan dan memiliki program pembiayaan santri yatim yang belajar mengaji di Qolbi Quran.
Di usia yang baru setahun, Masjid Pemuda Al-Hamra membuktikan bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang berbagi dan menguatkan kepedulian sosial. Dari sepiring nasi, tumbuh harapan agar langkah masyarakat semakin dekat ke sajadah.
“Dengan program makan gratis ini, alhamdulillah banyak masyarakat yang awalnya mungkin kesusahan untuk makan, dengan program ini mereka bisa makan di masjid kami,” tutur Bagus.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










