bukamata.id – Menjelang Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, pemandangan unik menghiasi sejumlah sudut kota. Tak hanya bendera merah putih yang berkibar gagah, bendera bajak laut dari serial anime One Piece pun ikut meramaikan suasana.
Dari rumah warga, bagian belakang mobil pribadi, hingga truk bermuatan besar, bendera kelompok Topi Jerami simbol dari karakter Luffy terlihat berkibar berdampingan dengan sang Saka Merah Putih. Fenomena ini pun menjadi perbincangan hangat di media sosial, menimbulkan berbagai tanggapan dari warganet hingga aparat.
Namun di balik viralnya bendera anime ini, menua berbagai reaksi dari para pedagang bendera musiman. Andri (30), salah satu penjual bendera di Jalan Ahmad Yani, Bandung, mengaku enggan menjual bendera One Piece meskipun banyak peminat.
“Yang nanyain bendera One Piece itu banyak, lebih dari 10 orang. Tapi saya gak jual. Bukan gak mau, cuma takut. Saya dagang di pinggir jalan, takut sama aparat juga,” ujarnya, Rabu (7/8/2025).
Andri yang telah tujuh tahun berjualan bendera setiap menjelang 17 Agustus, menyebut pendapatannya justru menurun dari tahun ke tahun. Persaingan harga dan kehadiran toko online disebut menjadi salah satu penyebab.
“Sekarang pembeli makin sepi. Harga saya mulai dari 35 ribu sampai 70 ribu, tapi tetap aja susah. Harapan saya sih biar makin baik ke depannya, bukan malah makin turun. Kalau bisa, yang di atas juga perhatiin kami yang di bawah,” ucapnya.
Sementara itu, Ferri (35), penjual bendera lainnya yang mulai berjualan sejak akhir Juli lalu, menyebut penjualan bendera One Piece justru lebih laku dibanding bendera merah putih atau bendera lain seperti bendera Palestina dan Persib.
“Yang banyak beli itu sopir truk, anak-anak SMP, SMA. Kalau bendera One Piece malah lebih laku. Bendera Palestina cuma satu dua yang ambil,” tuturnya.
Menurut Ari, meskipun penjualan sepi, ia tak bisa menolak rezeki dari mana pun datangnya. Ia juga mengaku tak takut menjual bendera One Piece meski banyak isu soal penertiban.
“Kalau orang takut dagang, yang ngeprint juga harusnya takut. Tapi justru yang ngeprint malah ramai order. Saya sih harapannya cuma satu, bisa pulang bawa uang. Keluar rumah kan tujuannya cari nafkah,” katanya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










