Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Misteri di Balik Musda Golkar Jabar XI: ‘Operasi Senyap’ Tingkat Pusat Saat Bahlil di Jepang?

Kamis, 2 April 2026 17:07 WIB

Musda Golkar Jabar XI ‘Bara di Balik Beringin’: Digempur Demo Massa, Disentil Isu Rekayasa Kursi Ketua!

Kamis, 2 April 2026 17:01 WIB

Link ‘Part 2’ Ibu Tiri vs Anak Tiri Muncul, Fakta Aslinya Mengejutkan

Kamis, 2 April 2026 17:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Misteri di Balik Musda Golkar Jabar XI: ‘Operasi Senyap’ Tingkat Pusat Saat Bahlil di Jepang?
  • Musda Golkar Jabar XI ‘Bara di Balik Beringin’: Digempur Demo Massa, Disentil Isu Rekayasa Kursi Ketua!
  • Link ‘Part 2’ Ibu Tiri vs Anak Tiri Muncul, Fakta Aslinya Mengejutkan
  • Tuntas! 120 Anggota DPRD Jabar Sudah Lapor LHKPN Periode 2025
  • Heboh Liga Belanda! Pemain Naturalisasi ‘Diparkir’ Akibat Masalah Paspor, Timnas Indonesia Terdampak
  • KPK Sebut Ono Surono Terima Uang dari Sarjan Diduga Terkait Kasus Suap Bekasi
  • Momen Emosional Putros, Persib Punya Wakil di Piala Dunia 2026
  • Waspada! BMKG Prediksi Gempa Susulan di Sulut dan Maluku Utara Masih Berlanjut Hingga Pekan Depan
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 2 April 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Mengintip Kisah Raja Anusyarwan, Pemimpin Adil yang Batal Menaikkan Pajak

By Putra JuangSabtu, 28 Desember 2024 19:30 WIB4 Mins Read
Raja Anusyarwan. (Foto: Ilustrasi/Bianca Van Dijk dari Pixabay)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Perilaku dan kebijakan seorang pemimpin tidak hanya berdampak pada kesejahteraan rakyatnya, tetapi juga dapat memengaruhi terhadap lingkungan dan hasil alam di wilayah yang dipimpinnya.

Hal ini tergambar dalam kisah Raja Anusyarwan, seorang pemimpin yang dikenal adil, namun pernah berniat menaikkan pajak.

Imam Ghazali dalam kitab Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk, (Beirut, Darul Kutubil Ilmiyah, 1409 H: 67-68) mengisahkan, suatu hari Raja Anusyarwan keluar istana untuk berburu. Saat masuk hutan dan mulai mengejar binatang buruan, ia terpisah dari para pengawalnya.

Beberapa saat kemudian ia merasa kehausan, pada saat yang sama, ia juga melihat desa kecil yang jaraknya tidak terlalu jauh. Tanpa berpikir panjang, dia pun segera menuju desa tersebut untuk meminta air minum kepada penduduk setempat.

Sampailah raja pada salah satu rumah penduduk. Mengetahui ada seseorang di luar rumahnya, seorang gadis pun keluar dan langsung mengenali bahwa orang tersebut adalah Raja Anusyarwan.

Setelah melihat raja, ia kembali ke rumah lalu memotong sebatang tebu, memeras airnya yang manis, mencampurnya dengan air, menuangkannya ke dalam sebuah gelas, lalu memberikannya kepada raja.

Baca Juga:  Penerimaan Pajak Indonesia Tembus Rp1.109 Triliun hingga Juli 2023

Saat akan meneguk minuman, raja melihat ada sedikit lumpur yang bercampur dalam air tebu itu. Ia pun meminumnya dengan perlahan sampai habis. Usai dahaganya hilang, raja berkata pada gadis tersebut.

“Air yang nikmat, andai saja tidak ada lumpurnya yang mengganggu,” ucap sang raja.

Gadis itu kemudian mengatakan bahwa ia sengaja menambahkan lumpur pada minuman tersebut. Raja pun terkejut mendengar ucapan gadis itu dan menanyakan alasannya.

“Aku melihat engkau sangat kehausan. Jika air ini bersih tanpa lumpur, engkau pasti akan meminumnya dalam satu tegukan, itu bisa membahayakanmu,” jawab gadis itu yang membuat Raja Anusyarwan kagum dengan kecerdasannya.

Raja mulai penasaran dengan racikan air tebu tersebut, dia pun menanyakan jumlah tebu yang diperas untuk menghasilkan minuman segar itu.

“Berapa batang tebu yang kamu peras untuk menghasilkan minuman segar ini?” tanya raja.

“Hanya sebatang tebu,” jawab gadis singkat.

Raja pun terkejut sekaligus senang karena hal ini menandakan tanah yang subur sehingga bisa menumbuhkan tebu yang berkualitas. Kondisi ini membuat hati raja tergerak untuk merencanakan kenaikan pajak di wilayah tersebut.

Baca Juga:  Heboh Tunggakan Pajak Mobil Mewah Dedi Mulyadi, Pakar: Pemimpin Harus Jadi Contoh

Setelah dahaganya hilang dan badannya kembali segar, Raja Anusyarwan kembali pulang ke istana untuk membahas soal kenaikan pajak di daerah yang baru saja ia kunjungi.

Beberapa waktu kemudian, Raja Anusyarwan kembali mengunjungi desa tersebut. Ia mendatangi rumah yang sama untuk meminta air minum sebagaimana dilakukan sebelumnya.

Melihat kedatangan raja, gadis itu keluar menyambutnya dengan ramah lalu masuk ke rumah untuk menyiapkan minuman. Namun, kali ini gadis itu berada di dalam rumah cukup lama, tidak secepat seperti sebelumnya.

“Kenapa kamu begitu lama di dalam?” tanya raja yang cukup lama menunggu gadis itu keluar.

Gadis itu menjawab bahwa saat ini kualitas tebu menurun, sehingga ia membutuhkan beberapa batang tebu untuk menghasilkan minuman itu.

“Aku telah memeras tiga batang tebu, tetapi jumlah air yang dihasilkan tidak sebanyak dulu,” jawab gadis itu sambil menyerahkan segelas minuman tebu.

“Kira-kira apa penyebabnya bisa sampai demikian?” tanya raja penasaran.

Gadis itu kemudian menjawab, hal ini terjadi karena pengaruh dari niat penguasa yang memengaruhi terhadap alam di wilayah kekuasaannya.

“Penyebabnya adalah karena perubahan niat sang raja. Biasanya, jika niat seorang penguasa berubah terhadap rakyatnya, maka keberkahan alam akan hilang dan hasilnya pun bisa berkurang,” jawab gadis itu.

Baca Juga:  Pamor Priangan 2024, Bapenda Jabar Hadirkan Berbagai Promo dan Diskon Menarik

Raja Anusyarwan tersenyum mendengar penjelasan gadis itu karena rencananya sudah diketahui dan dirasakan oleh rakyatnya. Ia pun akhirnya membatalkan niatnya untuk menaikkan pajak.

Tidak hanya itu, Raja Anusyarwan pun menikahi gadis tersebut karena merasa terkesan dengan kecerdasannya dan kefasihan bicaranya.

Kisah yang disampaikan oleh Imam Ghazali ini mengingatkan para penguasa agar bersikap hati-hati dan peka terhadap kehidupan rakyatnya. Seorang pemimpin yang adil dan bijaksana akan membawa keberkahan bagi rakyat dan wilayah yang dipimpinnya.

Sebaliknya, niat yang tidak baik, misalnya dengan menaikkan pajak, dapat menghilangkan keberkahan dan merusak harmoni alam, sebagaimana tergambar dalam kisah ini.

Demikian pula dengan jeritan dan kesedihan masyarakat akibat kebijakan penguasa yang memberatkan, hal ini bisa membawa energi negatif yang berdampak pada lingkungan.

Dalam dimensi spiritual, hal ini dapat mengurangi keberkahan dan kesuburan alam. Jika sudah demikian tentu hal ini akan memengaruhi terhadap siklus perekonomian negara. Wallahu a’lam.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

adil pajak pemimpin Raja Anusyarwan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Link ‘Part 2’ Ibu Tiri vs Anak Tiri Muncul, Fakta Aslinya Mengejutkan

Link Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri Disebut Punya Versi Lengkap Tanpa Sensor

Dunia Akui Kreativitas Indonesia! Alat Sederhana Ini Jadi Incaran Warga Asing

KIP Kuliah

Kuliah Gratis 2026! Begini Cara Daftar KIP Kuliah agar Bebas Biaya UTBK-SNBT

Viral video part 2 ibu tiri vs anak tiri.

Ramai Dicari di TikTok, Video ‘Part 2’ Ini Ternyata Picu Risiko Serius

Cuma Pakai Pulpen, Remaja 14 Tahun Asal Pekalongan Ini Lukis Wajah Mirip Foto 100 Persen!

Terpopuler
  • Mumpung Masih Aktif! Sikat Kode Redeem FF 28 Maret 2026: Peluang Dapat M1887 SG Ungu dan Bundle Sultan Gratis
  • Heboh! Link Telegram Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ di Kebun Sawit Ramai Diburu, Ini Fakta Sebenarnya
  • Viral Misterius! Potongan Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Kebun Sawit Bikin Heboh, Fakta Aslinya Mengejutkan
  • Di Balik Viral Video ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ di Kebun Sawit, Ada Ancaman Phishing Mengintai
  • Video Viral ‘Ibu Tiri vs Anak Tiri’ Heboh, Fakta Sebenarnya Bikin Kaget
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.