Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Thailand Kena Mental? Vietnam Curi Kemenangan 2-0 di Rajamangala, Comeback Jadi Misi Mustahil

Minggu, 23 Agustus 2026 12:38 WIB

Persib Mulai Panaskan Mesin! Igor Tolic Bongkar Kondisi Skuad Jelang Play-off ACL Two

Minggu, 23 Agustus 2026 12:22 WIB
Bansos

Cek Bansos 2026 Lewat HP Pakai NIK KTP, Begini Cara Lihat Status dan Desil DTSEN

Minggu, 23 Agustus 2026 11:35 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Thailand Kena Mental? Vietnam Curi Kemenangan 2-0 di Rajamangala, Comeback Jadi Misi Mustahil
  • Persib Mulai Panaskan Mesin! Igor Tolic Bongkar Kondisi Skuad Jelang Play-off ACL Two
  • Cek Bansos 2026 Lewat HP Pakai NIK KTP, Begini Cara Lihat Status dan Desil DTSEN
  • Auto Cuan Hadiah! Kode Redeem Free Fire 23 Agustus 2026, Ada 50 Evolution Stone Menanti
  • Persib Mulai Serius! Klok Kirim Sinyal Bahaya untuk Manila Digger di ACL Two
  • Man City vs Bournemouth Malam Ini: Haaland Siap Menggila, City Diprediksi Menang Dramatis
  • Dari Buruh Sawit ke Crazy Rich 100 Triliun: Alasan Haji Isam Ditunjuk Pimpin Pemadaman Karhutla Kalsel!
  • Naik Lagi! Ini Daftar Harga Emas Pegadaian dan Galeri24 Hari Ini, Minggu 23 Agustus 2026
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 23 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Gebrakan Sapoe Sarebu Dinilai Mulia tapi Berisiko, Warga Jabar Keluhkan Beban Ekonomi hingga Korupsi

By SusanaSenin, 6 Oktober 2025 14:22 WIB3 Mins Read
Dedi Mulyadi saat memberikan sambutan.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Foto: bukamata.id/M Rafki)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali membuat gebrakan lewat kebijakan anyar bernama Gerakan Poe Ibu.

Program ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 149/PMD.03.04/KESRA tentang Gerakan Rereongan Sapoe Sarebu (Poe Ibu) yang diteken secara elektronik pada 1 Oktober 2025.

Melalui gerakan tersebut, Dedi mengajak seluruh ASN, pelajar, dan masyarakat untuk menyisihkan uang Rp1.000 setiap hari sebagai bentuk solidaritas sosial berbasis gotong royong.

Kebijakan ini merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial dan disebut mengusung semangat silih asah, silih asih, silih asuh, nilai kearifan lokal khas Sunda.

Namun, belum sepekan diluncurkan, Gerakan Poe Ibu menuai reaksi beragam dari masyarakat Jawa Barat.

Sebagian mengapresiasi niat baik di balik gerakan tersebut, tetapi tak sedikit yang menilai kebijakan itu justru bisa menjadi beban baru di tengah kondisi ekonomi warga yang sulit, bahkan dinilai berpotensi disalahgunakan jika tak diawasi dengan ketat.

Baca Juga:  Soroti Pengelolaan Anggaran, Dedi Mulyadi: Pegang Triliun Tapi Rakyat Masih Sengsara?

Kebijakan Poe Ibu Disorot karena Waktu dan Pola Implementasi

Surat edaran itu ditujukan kepada seluruh bupati dan wali kota se-Jawa Barat, serta kepada kepala perangkat daerah dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Jabar. Artinya, program ini diharapkan bisa dijalankan secara serentak di seluruh wilayah provinsi.

Secara konsep, gerakan ini ingin menghidupkan kembali semangat gotong royong dan kepedulian sosial. Namun, publik menilai kebijakan tersebut muncul di waktu yang kurang tepat.

Banyak masyarakat menilai kebijakan ini seperti “pajak sosial baru” yang dibebankan kepada warga, padahal daya beli masyarakat sedang tertekan akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan inflasi daerah.

Warganet: “Beban Baru di Tengah Sulitnya Ekonomi”

Reaksi publik pun ramai muncul di media sosial, terutama di kolom komentar akun Instagram resmi @dedimulyadi71, Senin (6/10/2025).

“Maaf pak, saya kali ini nggak setuju. Nggak semua orang mampu sehari seribu, belum lagi iuran di rumah juga sudah banyak. Apalagi kalau nanti dibebankan ke siswa. Takutnya yang nggak ikut malah dikucilkan,” tulis akun @they***.

Baca Juga:  Serba-serbi Kebijakan Dedi Mulyadi: Remaja Dibatasi, Orang Tua Dibebani

“Atuh mun sabulan 30 ribu, sataun 360 ribu. Leuwih mahal ti pajak PBB gening pak. Mending nulungan dulur nu teu boga duit langsung weh,” komentar akun @mar*.

“Kalau satu keluarga ada lima orang, berarti setahun 1,8 juta. Mending dibebankan ke pejabat yang gajinya besar, jangan rakyat kecil terus,” tulis akun @lany*.

“ASN makin ditekan, nanti malah menekan masyarakat dengan dalih donasi. Jangan-jangan ujungnya dikorupsi. Percaya amanah?” tulis @haf*.

Beragam komentar tersebut mencerminkan kekhawatiran publik bahwa gerakan Poe Ibu, meski diklaim bersifat sukarela, berpotensi menjadi kewajiban tidak langsung di lapangan.

Kondisi Ekonomi Jabar Belum Stabil, Warga Minta Kebijakan Lebih Realistis

Secara makro, Jawa Barat masih menghadapi tantangan ekonomi daerah. Inflasi bahan pangan masih di atas rata-rata nasional, sementara upah riil masyarakat belum meningkat signifikan.

Baca Juga:  Terobosan Baru! Gubernur Jabar Libatkan Mahasiswa Awasi Proyek Infrastruktur

Kebijakan yang menambah iuran rutin, sekecil apa pun nominalnya, berpotensi memperburuk daya beli masyarakat kecil, terutama di daerah rural dan perkotaan padat penduduk.

Dengan jumlah penduduk Jawa Barat mencapai lebih dari 50 juta jiwa, potensi dana yang terkumpul dari Rp1.000 per hari bisa mencapai ratusan miliar rupiah per tahun. Nilai besar itu tentu menuntut transparansi dan sistem pengelolaan profesional, bukan sekadar niat baik.

Selain itu, jika partisipasi ini diarahkan ke ASN dan pelajar, timbul kekhawatiran bahwa kebijakan tersebut bisa berubah menjadi tekanan administratif di lingkungan kerja dan sekolah.

Gerakan Poe Ibu menjadi kebijakan anyar Dedi Mulyadi yang kembali memancing perdebatan publik.

Di satu sisi, semangat sosial dan nilai lokal yang diusung patut diapresiasi. Namun di sisi lain, tantangan ekonomi warga Jabar dan potensi penyalahgunaan dana membuat masyarakat menilai kebijakan ini perlu pengawasan ekstra dan transparansi penuh.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

ASN Dedi Mulyadi ekonomi Jabar korupsi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bansos

Cek Bansos 2026 Lewat HP Pakai NIK KTP, Begini Cara Lihat Status dan Desil DTSEN

Dari Buruh Sawit ke Crazy Rich 100 Triliun: Alasan Haji Isam Ditunjuk Pimpin Pemadaman Karhutla Kalsel!

Turun Langsung ke Lokasi Karhutla Kalbar, Presiden Prabowo Perintahkan Mobilisasi 1.500 Pasukan dan Helikopter Boom

Mengenang 50 Tahun Kebersamaan, Alumni ITB 76 Unjuk Budaya Lokal Lewat Karnaval Sisingaan di Bandung

Viral Pengakuan Wisatawan Talaga Bodas Garut, Kena Pungli Berdalih Uang Ojek ‘Saredona’

Ke Luar Negeri Gercep, Bencana NTT Malah ‘Direncanakan’? Beda Gaya Prabowo vs SBY Bikin Netizen Amuk!

Terpopuler
  • Deretan Kode Redeem FF 19 Agustus 2026: Amankan Evolution Stone dan Skin Spesial Kemerdekaan!
  • Mengenang 50 Tahun Kebersamaan, Alumni ITB 76 Unjuk Budaya Lokal Lewat Karnaval Sisingaan di Bandung
  • Garena Free Fire
    Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
  • Menembus Angka 75,90: Menguji Rekor IPM Jawa Barat di Tengah Bayang Ketimpangan
  • Jabar Masih Dibelit Masalah, Kehadiran Dedi Mulyadi di NTT Dinilai Tak Urgent
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.