bukamata.id – Jagat media sosial X (Twitter) kembali memanas setelah sebuah video penampilan Orkes Semi Dangdut (OSD) dari Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebar luas. Penampilan yang membawakan lagu berjudul “Erika” tersebut memicu gelombang protes lantaran liriknya dianggap sangat vulgar dan merendahkan martabat perempuan.
Aksi panggung yang melibatkan puluhan mahasiswa ini menjadi sorotan tajam karena dianggap mencerminkan budaya internal himpunan di kampus teknik ternama yang dinilai bermasalah.
Lirik Eksplisit di Atas Panggung
Dalam potongan video yang viral, terlihat keriuhan di atas panggung dengan lirik lagu yang diproyeksikan secara jelas pada layar besar. Kalimat-kalimat seperti “Erika buka celana… sambil bawa botol Fanta… siapa mau boleh coba” hingga deskripsi fisik yang menjurus pada objektifikasi seksual terhadap sosok “janda muda” bernama Erika, dinyanyikan bersama dengan penuh antusias oleh para penonton.
Unggahan dari akun @iPoopBased pada Senin (13/4/2026) menjadi pematik diskusi publik. Akun tersebut secara gamblang melontarkan kritik keras: “Ini anak HMT ITB isinya cabul sama mesum semua apa gimana ya?” cuitnya, sembari membandingkan budaya organisasi kampus tersebut dengan universitas besar lainnya.
Tradisi Usang yang Dikritik Tajam
Lagu “Erika” sendiri sebenarnya bukan barang baru. Kabarnya, lagu ini sudah menjadi semacam “tradisi” di lingkungan tersebut sejak tahun 2013-2020 dan bahkan tersedia di platform musik digital. Isinya diklaim berangkat dari kisah nyata seorang mahasiswa saat menjalani kuliah lapangan.
Namun, di tengah kesadaran akan isu kekerasan seksual yang kian meningkat, “guyonan internal” ini tak lagi bisa diterima publik. Netizen mengecam alasan tradisi sebagai tameng untuk menormalisasi pelecehan.
“Kalau ada yang ngebela ini kultur dari senior turun temurun berarti tolol sih, masa engga bisa mutus rantai kultur yg ngelecehin perempuan kayak gini,” tulis @iPoopBased dalam kolom komentar.
Kritik juga menyasar kehadiran mahasiswi yang turut serta dalam keriuhan tersebut, yang dianggap memperburuk citra pergerakan mahasiswa dalam memperjuangkan kesetaraan gender.
Terseret Isu Kekerasan Seksual Kampus
Kontroversi lagu ini pecah di waktu yang sangat sensitif. Pasalnya, beberapa hari sebelumnya, platform menfess kampus ITB tengah ramai membahas dugaan kasus pemerkosaan yang menyeret oknum mahasiswa tambang angkatan 2022.
Hubungan antara lirik lagu yang merendahkan perempuan dengan dugaan kasus kekerasan di lapangan membuat publik mendesak adanya langkah nyata dari pihak kampus. Komitmen Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) ITB pun kini dipertanyakan.
Hingga saat ini, baik pihak HMT ITB, KM ITB, maupun pihak rektorat belum memberikan pernyataan resmi terkait video yang sudah ditonton lebih dari 1,2 juta kali tersebut. Kasus ini menjadi peringatan keras bagi setiap organisasi kemahasiswaan bahwa era digital tidak memberikan ruang bagi tradisi yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










