bukamata.id – Tradisi lama yang dinilai toksik kembali memicu kontroversi di dunia pendidikan tinggi. Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung (HMT-ITB) kini tengah menjadi pusat perhatian publik setelah lagu berjudul “Erika” viral di media sosial. Lagu yang selama puluhan tahun dianggap sebagai “mars tidak resmi” mahasiswa tambang ini dikecam karena liriknya yang bermuatan pelecehan seksual terhadap perempuan.
Ironisnya, lagu ciptaan unit Orkes Semi Dangdut (OSD) HMT-ITB ini telah merambah platform musik arus utama seperti Spotify, Apple Music, hingga YouTube sejak Maret 2020, sebelum akhirnya meledak menjadi polemik besar pada April 2026.
Jejak Digital Sejak Era 80-an
Penelusuran internal menunjukkan bahwa “Erika” bukanlah karya baru. Lagu ini lahir pada dekade 1980-an di lingkungan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB. Namun, lirik eksplisit seperti “Erika buka celana, diam – diam main gila” memicu kemarahan netizen karena dianggap merendahkan martabat wanita dan tidak pantas dibawakan oleh kaum intelektual.
Menanggapi gelombang kritik tersebut, HMT-ITB merilis pernyataan resmi pada Rabu (15/4/2026). Mereka mengakui adanya disonansi antara tradisi lama organisasi dengan standar etika masyarakat modern.
“Kami menyadari bahwa ini merupakan suatu kelalaian untuk tetap menampilkan lagu tersebut dengan perkembangan norma sosial dan kesusilaan di masyarakat dewasa ini,” tulis pernyataan resmi HMT-ITB.
Daftar Fakta Kontroversi Lagu “Erika”
Berdasarkan data yang dihimpun, berikut adalah fakta-fakta penting di balik viralnya lagu tersebut:
- Efek Domino Kasus Kampus Lain: Lagu ini kembali mencuat ke permukaan tak lama setelah isu pelecehan seksual di FH UI menjadi sorotan nasional.
- Eksistensi di Platform Digital: Meski berstatus lagu internal, “Erika” telah diunggah secara publik ke layanan streaming sejak empat tahun lalu, yang memperluas jangkauan akses publik terhadap lirik kontroversial tersebut.
- Pengakuan Kelalaian: Organisasi mengakui bahwa membiarkan lagu ini tetap eksis merupakan kesalahan manajerial yang tidak peka terhadap sensitivitas isu gender.
- Komitmen Penghapusan: HMT-ITB mengklaim tengah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menurunkan (take down) semua konten audio dan video dari kanal resmi maupun akun individu.
- Nilai Akademik: Mereka menegaskan bahwa konten tersebut sama sekali tidak merepresentasikan visi dan misi akademis ITB.
Janji “Take Down” vs Realitas di Lapangan
Meski janji penghapusan telah dinyatakan, pantauan hingga Rabu (15/4/2026) pukul 14.00 WIB menunjukkan bahwa lagu “Erika” masih bisa diakses di beberapa kanal resmi OSD HMT ITB di platform musik digital. Hal ini memicu desakan dari warganet agar pihak kampus lebih cekatan dalam melakukan moderasi konten.
Sebagai langkah jangka panjang, HMT-ITB berjanji akan merombak pedoman kegiatan mereka.
“Kami melakukan evaluasi internal secara komprehensif terhadap konten, pelaksanaan, serta pengawasan kegiatan atas lagu terkait dan lagu yang mengandung unsur serupa, serta meninjau kembali standar dan pedoman kegiatan organisasi agar selaras dengan nilai-nilai etika yang berkembang,” pungkas rilis tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi organisasi kemahasiswaan lainnya untuk segera melakukan “bersih-bersih” terhadap warisan tradisi yang tidak lagi sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kesusilaan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










