bukamata.id – Seluruh kecamatan di Jawa Barat hari ini, Sabtu (30/8/2025), menyalurkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Perum Bulog melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM).
Asisten Daerah Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Jawa Barat, Sumasna, menyebutkan bahwa setiap kecamatan di Jabar mendapat jatah 7 ton beras SPHP per hari.
“Sampai tadi malam hingga hari ini sudah ada stok sebanyak 1.658 ton yang disalurkan ke 559 kecamatan. Kecamatan yang belum akan segera menyusul karena program ini terus berjalan hingga harga beras kembali stabil atau hingga Desember 2025,” kata Sumasna saat menghadiri GPM di Lapangan Basket KPAD Gegerkalong, Kota Bandung.
Jumlah kecamatan di Jawa Barat tercatat 627 kecamatan yang tersebar di 27 kabupaten/kota.
Harga Beras SPHP di Jawa Barat
Dalam program ini, beras SPHP dijual Rp60.000 per kemasan isi 5 kilogram atau sekitar Rp12.000 per kg. Harga ini jauh lebih murah dibanding di pasaran yang sudah mencapai Rp15.000 per kg.
Selain beras, GPM juga menyediakan kebutuhan pokok lain seperti minyak goreng dan gula pasir sesuai kebutuhan masyarakat.
Ayu Lintang, warga Gegerkalong, mengaku terbantu dengan adanya program GPM.
“Harganya beda jauh, di warung Rp15.000 per kilogram. Tadi saya beli dua bungkus jadi hemat Rp30.000. Harapannya program ini rutin dilakukan,” ucapnya.
GPM Serentak Nasional
Program GPM hari ini juga digelar secara serentak di seluruh Indonesia. Peluncuran nasional dilakukan di Jakarta oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan Menteri Perdagangan Budi Santoso.
Dirut Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyebutkan bahwa 43.665 ton beras sudah disalurkan di 4.302 kecamatan, 413 titik kantor kepolisian, 449 titik TNI, dan 419 titik lainnya.
“Operasi pasar dilakukan terus-menerus untuk menjaga ketersediaan beras dan menstabilkan harga di masyarakat,” jelasnya.
Mendagri Tito Karnavian menegaskan bahwa pemerintah menyiapkan 1,3 juta ton cadangan beras hingga akhir 2025.
“Stok cadangan mencapai 4 juta ton. Inflasi pangan mulai menurun, dari 233 kabupaten/kota menjadi 200. Ini artinya langkah kita mulai menunjukkan hasil,” katanya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











