bukamata.id – Suasana di dalam ruangan itu tampak begitu hening. Kontras dengan riuh rendahnya musik jedag-jedug khas TikTok yang biasa mengiringi unggahan-unggahannya, kali ini hanya ada suara deru napas yang berat dan sayup-sayup bising jalanan dari luar. Di depan kamera ponselnya, seorang remaja perempuan berhijab hitam dengan sweter biru muda duduk tegak. Tatapannya lurus menatap lensa, namun sorot matanya tak lagi memancarkan energi jenaka yang biasanya memanen jutaan tanda suka.
Ia adalah Violetta Andrea, atau yang lebih dikenal di jagat maya dengan nama panggung Xander (@violettaaxandrea).
Dalam video unggahan terbarunya, ia membuka suara dengan nada yang berat.
“Hallo semuanya, izinkan aku untuk membuat klarifikasi ulang ya,” ucapnya membuka video dengan nada suara yang bergetar. “Aku memohon maaf atas sikap aku yang tidak bijak dalam pembuatan konten, sehingga banyak menyinggung pihak-pihak disabilitas dan anak-anak berkebutuhan khusus.”
Kalimat itu mengalir datar namun penuh tekanan. Bagi Xander dan jutaan kreator konten seusianya, dunia digital adalah taman bermain tanpa batas tempat popularitas bisa diraih hanya dalam hitungan detik. Namun, bagi komunitas disabilitas dan para orang tua yang membesarkan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), video-video lama Xander bukanlah sekadar hiburan—melainkan sebuah tamparan keras yang membuka kembali luka lama tentang stigma dan perundungan.
Anatomi Konten ‘Plenger’ dan Jerat Algoritma
Gugatan publik bermula dari sebuah tren yang dilabeli dengan istilah “Plenger”. Dalam kamus bahasa gaul digital, istilah ini sering kali diasosiasikan dengan ekspresi wajah yang kosong, mata yang berputar ke atas, lidah yang menjulur, atau gerakan tubuh yang tidak sinkron—sering kali dipicu setelah mengonsumsi sesuatu yang sangat nikmat, atau sekadar akting konyol untuk memancing tawa.
Dalam file video yang viral, Xander terlihat sedang mempromosikan sebuah produk lipstik cair berwarna merah menyala. Dengan riang, ia mengoleskan produk tersebut ke bibirnya. Namun, di sela-sela ulasan produk tersebut, ia secara repetitif mengubah mimik wajahnya: menyipitkan mata, menarik sudut birbunya secara asimetris, dan menjulurkan lidahnya ke samping dengan ekspresi yang dilebih-lebihkan.
Bagi pengguna kasual yang berselancar di For Your Page (FYP) TikTok, gerakan tersebut mungkin sekadar dianggap “ngereog”—istilah lokal untuk mengekspresikan kegilaan komedi yang absurd. Namun bagi mereka yang hidup dengan kondisi neurologis tertentu, apa yang dilakukan Xander adalah imitasi tanpa empati.
Gerakan-gerakan motorik involunter (tidak disengaja) tersebut sangat mirip dengan manifestasi klinis dari beberapa kondisi medis nyata, seperti Tic Disorder atau Sindrom Tourette, Cerebral Palsy, serta manifestasi fisik pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Ketika gerakan-gerakan ini dijadikan komoditas komedi demi meraup engagement tinggi, batas antara kreativitas dan dehumanisasi seketika runtuh.
Gelombang Perlawanan dari Komunitas dan Riuh Suara Netizen
Reaksi keras tidak butuh waktu lama untuk meledak. Jagat media sosial bergolak, dipimpin oleh para aktivis kemanusiaan, orang tua ABK, dan sesama kreator konten yang merasa tanggung jawab moral digital telah dikangkangi.
Salah satu suara paling lantang datang dari Sadam Permana, seorang kreator konten yang juga merupakan seorang pejuang tic disorder. Melalui unggahan videonya, Sadam tidak mampu menyembunyikan rasa kecewa dan tersinggungnya yang mendalam.
“Ini nggak lucu sama sekali dan bukan bahan candaan. Sebagai pemilik tic disorder, jujur ini sangat menyinggung aku pribadi,” tegas Sadam dalam videonya yang kemudian viral dan dikutip luas pada Rabu (3/6).
Gelombang kecaman ini segera diikuti oleh ribuan netizen yang membanjiri berbagai platform media sosial. Ruang komentar seketika berubah menjadi mimbar penghakiman sekaligus refleksi moral. Banyak yang menyayangkan bagaimana seorang kreator muda bisa kehilangan sensitivitas kemanusiaannya demi sebuah konten.
“Duh miris banget dek tingkahmu!,” ujar seorang netizen yang tak habis pikir dengan konsep komedi yang diusung Xander.
Tak sedikit pula netizen yang memberikan peringatan keras secara spiritual dan sosial, mengingatkan bahwa rasa sakit hati yang dirasakan oleh kelompok marginal bukanlah hal yang bisa disepelekan.
“Hati2 dek banyak yg doain,” tulis netizen lainnya, mengisyaratkan bahwa doa-doa dari mereka yang tersakiti bisa menjadi bumerang bagi masa depan sang kreator.
Di sisi lain, pusaran kasus ini juga melahirkan edukasi baru di kalangan pengguna internet mengenai cara menyikapi konten-konten bermasalah. Seorang netizen mengingatkan agar publik tidak terjebak dalam membesarkan nama kreator lewat hujatan yang justru menaikkan statistik algoritma mereka.
“Budayakan kalo ada kontem aneh itu di report jgn dihujat, bad engagement still engagement,” cetus netizen tersebut memberikan analisis cerdas tentang cara mematikan panggung bagi konten nir-empati.
Paradoks Kontrak Brand dan Dilema Take Down
Satu hal yang menarik sekaligus menjadi sorotan tajam dari video klarifikasi Xander adalah pengakuannya mengenai alasan mengapa beberapa video bermasalah tersebut tidak bisa langsung dihapus dari akunnya.
Di tengah-tengah permintaan maafnya, dengan suara lirih ia menjelaskan hambatan yang dihadapinya:
“Mohon maaf jika beberapa VT (Video TikTok) yang masih ada dikarenakan kontrak kerja sama dengan brand yang tidak bisa aku hapus sepihak,” aku Xander sembari menunduk.
Pernyataan ini membuka tabir realitas industri influencer marketing modern. Konten digital bukan lagi sekadar ekspresi pribadi, melainkan sebuah komoditas ekonomi yang diikat oleh hukum korporasi. Ketika sebuah merek kosmetik atau produk kecantikan mengontrak seorang kreator, setiap unggahan memiliki nilai moneter dan target impresi tertentu yang wajib dipertahankan dalam periode waktu yang telah disepakati dalam kontrak kerja (Scope of Work).
Hal ini memicu diskusi baru di kalangan netizen mengenai tanggung jawab sosial korporasi (CSR) dari brand-brand yang bekerja sama dengan para kreator. Banyak pihak menilai bahwa brand seharusnya memiliki sistem penyaringan (vetting) yang lebih ketat, serta klausul darurat yang memungkinkan—bahkan mewajibkan—penghapusan konten jika konten tersebut terbukti melanggar etika kemanusiaan.
Janji untuk Berbenah Diri
Menyadari posisi sudutnya yang semakin terjepit oleh sanksi sosial digital, Xander memilih jalur yang paling krusial: mengakui kesalahan tanpa pembelaan diri yang mementingkan ego. Dalam pernyataan tertulis dan video klarifikasinya, ia menegaskan tidak pernah ada niat jahat di lubuk hatinya untuk menyakiti siapa pun.
“Konten ini tidak dibuat dengan tujuan merendahkan, mengejek, atau mendiskriminasi anak berkebutuhan khusus maupun penyandang disabilitas dalam bentuk apa pun. Jika terdapat bagian yang menimbulkan kesalahpahaman atau ketidaknyamanan, sekali lagi aku menyampaikan permintaan maaf,” tulisnya dalam keterangan resmi.
Ia menambahkan bahwa semua kontennya murni dibuat untuk tujuan hiburan. Namun, ia menyadari bahwa hiburan yang mengabaikan rasa sakit orang lain adalah hiburan yang cacat moral.
Di akhir video berdurasi singkat tersebut, Xander menutupnya dengan sebuah janji dan permohonan kesempatan kedua dari publik yang telah membesarkan namanya.
“Aku memohon maaf dan aku sangat menyesal atas semua yang telah aku lakukan, dan aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Izinkan aku untuk membenahi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” pungkasnya seraya menutup video dengan tatapan penyesalan yang mendalam.
Pelajaran Mahal bagi Dunia Kreator Konten
Kasus yang menimpa Xander bukanlah yang pertama, dan kemungkinan besar bukan yang terakhir di panggung industri kreatif Indonesia. Ini adalah potret dari fenomena “generasi algoritma”, di mana demi mengejar metrik berupa angka views, likes, dan shares, para kreator muda kerap kali kehilangan kompas moral dan kepekaan sosial mereka.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi seluruh pembuat konten di tanah air. Komedi memang subyektif, dan batas-batas kelucuan akan selalu bergeser seiring perkembangan zaman. Namun, ada satu garis merah tebal yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun, atas nama apa pun: penderitaan, kondisi medis, dan martabat manusia tidak akan pernah menjadi bahan lelucon.
Kini, bola panas ada di tangan Xander untuk membuktikan kata-katanya. Proses membenahi diri tidak akan selesai hanya dengan mengunggah video klarifikasi berdurasi satu menit. Publik, terutama komunitas disabilitas, akan terus mengawasi apakah ruang digitalnya ke depan benar-benar akan bertransformasi menjadi ruang yang inklusif, atau justru kembali terjebak dalam pragmatisme angka-angka demi cuan digital semata.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









