bukamata.id – Di usianya yang masih sangat muda, Nurul (16 tahun) harus memikul tanggung jawab yang berat. Kedua orang tuanya telah tiada, meninggalkan ia dan empat adiknya yang masih kecil, dua di antaranya mengalami keterbatasan penglihatan.
Sejak itu, kehidupan Nurul berubah drastis; sekolah bukan lagi satu-satunya fokus, melainkan perjuangan untuk menjaga dan menghidupi adik-adiknya.
Pagi yang Penuh Kecemasan dan Perut Kosong
Setiap pagi, Nurul mengenakan seragam sekolah yang mulai pudar warnanya, berangkat dengan perut kosong dan hati penuh kecemasan. Ia tahu, pendidikan adalah satu-satunya harapan agar kehidupan mereka kelak bisa berubah.
Namun, setiap bel berbunyi, pikirannya tetap tertinggal di rumah, apakah adik-adiknya sudah makan, atau masih menahan lapar?
Sepulang Sekolah, Perjuangan Belum Usai
Tanpa sempat menarik napas panjang, Nurul mengganti tas sekolahnya dengan kerupuk dagangan. Ia berjalan berkeliling di bawah terik matahari, berharap ada yang membeli. Jika ramai, ia bisa membawa pulang dua lembar uang sepuluh ribu rupiah; jika sepi, lima ribu pun terasa seperti rezeki besar.
Uang sekecil itu harus cukup untuk makan, kebutuhan rumah, dan keperluan sekolah adik-adiknya.
Malam hari menjadi waktu paling berat. Saat nasi hanya cukup dicampur singkong rebus, Nurul menunduk menahan air mata.
Adik-adiknya makan sambil tersenyum, berkata mereka sudah kenyang. Senyum kecil itu justru membuat hati Nurul hancur. Banyak maaf ingin ia ucapkan karena belum mampu memberi lebih, namun semua tangis ia simpan sendiri.
Doa yang Tak Pernah Putus
Di balik wajah yang selalu tegar, Nurul menyimpan doa yang tak pernah putus. Ia ingin sekolah setinggi mungkin, agar suatu hari dapat memberi adik-adiknya makanan layak, pakaian pantas, dan masa depan yang lebih cerah.
Seringkali ia membisikkan doa dalam sunyi, menahan sesak di dada, berharap ada jalan keluar dari kerasnya hidup.
“Nurul capek, tapi Nurul tidak boleh menyerah. Adik-adik cuma punya Nurul,” ucapnya dengan suara bergetar saat mendatangi makam ibunya, tempat ia mencari ketenangan dan kekuatan.
Kisah Nurul Menyita Perhatian Publik
Kisah perjuangan Nurul menjadi potret nyata anak-anak yang harus bertahan di tengah keterbatasan ekonomi dan kehilangan orang tua. Ia berdiri sendiri, bermimpi demi lima adiknya, berjuang demi kehidupan yang lebih baik.
Perjuangan ini juga menyita perhatian warganet. Dalam kolom komentar akun Instagram @rumpi_gosip, Selasa (10/2/2026), banyak yang terharu dan mengekspresikan simpati:
- “Ya Allah tolong bantu adik cantik ini, bukakan seluas-luasnya jalan rejeki untuknya, kirimkan orang baik di hidupnya agar mempermudah hidupnya, aamiin,” tulis akun @ram*.
- “Ya Allah… Tolong mudahkan kakak beradik ini. Mereka hanya punya Engkau dalam kerasnya hidup ini,” tulis akun @ndw*.
- “Dia berjuang seorang diri, maafkan hamba ya Allah, yang sering mengeluh,” tulis akun @owi*.
- “Ya Allah… aku gak ingin menyalahkan takdir. Tapi tiap orang tua, tolonglah pikirkan anak-anak sebelum meninggalkan mereka. Kasian anak-anaknya, terutama yang pertama… jangan berharap,” tulis akun @nur*.
Harapan dan Ajakan untuk Peduli
Kisah Nurul diharapkan mengetuk hati publik agar membuka tangan membantu remaja tangguh ini dan keluarganya. Bantuan sekecil apa pun, mulai dari makanan, perlengkapan sekolah, hingga perhatian, dapat membuat perbedaan besar bagi hidup Nurul dan empat adiknya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











