bukamata.id – Di tengah lebatnya pepohonan dan bisikan angin yang membawa cerita mistis, Bukit Ki Brewoh selama ini hanya dikenal sebagai kawasan yang jarang dijamah warga. Namun pada awal Desember 2025, bukit yang kerap dianggap “wingit” itu tiba-tiba mencuri perhatian publik. Bukan karena munculnya penampakan atau suara gaib yang melegenda, melainkan karena terungkapnya kisah seorang pria muda yang memilih menjadikan tempat itu sebagai rumahnya selama satu tahun penuh.
Namanya Anzahyar Laadjim, akrab disapa Anca, berusia 26 tahun, berasal dari Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Warga Dusun Madasari, Desa Madasari, Kecamatan Cimerak—yang terbiasa hidup berdampingan dengan ombak pantai selatan dan kisah-kisah mistik Ki Brewoh—tak pernah menyangka bahwa ada seseorang yang benar-benar tinggal sendirian di rimbunnya hutan angker itu. Keberadaan Anca hanya terbongkar setelah serangkaian kehilangan bahan makanan yang membingungkan warga akhirnya terjawab lewat rekaman CCTV milik sebuah warung kecil.
Pada Minggu dini hari, 7 Desember 2025, sosok kurus dengan pakaian compang-camping terekam sedang mengambil makanan. Tidak ada kekerasan, tidak ada perusakan, hanya mengambil seperlunya—nasi, telur, sedikit beras—lalu menghilang kembali ke gelapnya bukit. Rekaman itu menyebar cepat di antara warga yang selama ini resah karena persediaan bahan dapur kerap raib tanpa jejak. Meski awalnya dicurigai sebagai pencurian kecil, misteri itu justru membuka pintu pada kisah pengasingan diri yang begitu manusiawi.
Pelarian dari Tekanan
Ketika warga berhasil mengamankan Anca tanpa perlawanan, teka-teki mulai terkuak. Ia tidak datang untuk mencuri, melainkan untuk bertahan hidup. Di tengah tatapan heran warga, Anca mengaku melarikan diri dari Bandung, setelah merasa tidak sanggup menghadapi desakan keluarga untuk melanjutkan kuliah.
Beban itu rupanya berat—cukup berat hingga membuat pemuda tersebut memilih menghilang tanpa kabar. Warga yang mencoba menelusuri asal-usulnya mendapati fakta mengejutkan: keluarga Anca di Tasikmalaya sudah kehilangan kontak selama tiga tahun. Tidak ada telepon, tidak ada pesan, tidak ada jejak ke mana ia pergi.
Saat ditemukan, kondisinya sangat memprihatinkan. Ia hanya mengenakan dua lapis pakaian yang lusuh, lengkap dengan celana yang robek di beberapa bagian. Tempat persembunyiannya di sebuah celah hutan meninggalkan tanda-tanda kehidupan minimalis—sebuah wajan bekas, sisa-sisa makanan sederhana, jejak api yang pernah menyala untuk sekadar menghangatkan badan.
Di hadapan warga, Kepala Dusun Madasari Kusmawan menggambarkan betapa sulitnya Anca bertahan dalam kesunyian hutan.
“Jika sangat lapar, barulah ia mengambil sedikit makanan dari warung warga yang tidak dikunci,” jelas Kusmawan, dikutip Kamis (25/12/2025).
Anca bercerita bahwa ketika perut benar-benar tidak tahan, ia terpaksa mencari makanan dari warung warga—bukan karena niat jahat, tetapi sebagai jalan terakhir untuk bisa bertahan. Di hari lain, ia menahan lapar dengan rebusan daun singkong atau ikan yang terdampar di tepi sungai kecil.
Antara Mistik, Kesepian, dan Daya Tahan
Bukit Ki Brewoh bukan sekadar hamparan pepohonan; ia menyimpan legenda dan kisah-kisah masa lalu yang membuat banyak warga enggan masuk terlalu dalam. Di sana, Anca menghabiskan malam-malam panjang ditemani suara serangga, dinginnya angin laut, dan kenangan tentang rumah yang jauh.
Tak hanya raga, pikirannya pun diuji. Kepada warga yang menemuinya, ia sempat menyebutkan pengalaman yang terdengar seperti potongan cerita horor.
Ia mengaku melihat sosok besar berwarna hitam—entah makhluk halus, entah bayangan yang dibentuk oleh ketakutan. Kadang, ia mendengar suara yang seakan memanggil dari balik semak. Cerita yang ia sampaikan membuat sebagian warga hanya mengangguk pelan, karena mereka tahu Bukit Ki Brewoh sejak lama menyimpan kisah mistis serupa.
Namun, lebih dari sekadar ketakutan gaib, kesunyian yang paling menggigit justru datang dari rasa terasing. Tidak ada sinyal, tidak ada suara manusia, dan tidak ada kepastian tentang hari esok. Dalam kondisi seperti itu, bertahan satu bulan saja terasa berat; tetapi Anca telah menjalaninya selama setahun penuh.
Kemanusiaan yang Menautkan Kembali
Begitu kabar itu menyebar, warga Madasari tidak memilih jalan kekerasan. Ada rasa terkejut, namun mereka memutuskan menahan amarah. Mereka melihat luka psikologis yang jauh lebih dalam daripada sekadar hilangnya telur, beras, atau ayam.
Keluarga Anca dari Tasikmalaya, yang segera datang setelah dihubungi, bahkan menawarkan ganti rugi atas makanan yang hilang. Namun warga menolak, menimbang beratnya kondisi yang dialami pemuda itu.
“Alhamdulillah warga tidak main hakim sendiri. Semua memahami kondisi psikologis Anca,” kata Kusmawan.
Keputusan itu menjadi penanda kuat bahwa kemanusiaan masih punya ruang besar bahkan di tengah kesibukan dan masalah sehari-hari. Alih-alih menghakimi, warga memilih merangkul.
Pihak kepolisian pun memberi respons serupa. Kapolsek Cimerak, Iptu Sova Maulana, memastikan bahwa kasus ini tidak dibawa ke ranah hukum.
Ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada masyarakat yang menahan diri.
Akhir Sebuah Pelarian, Awal Sebuah Harapan
Pada hari yang sama setelah ia ditemukan, keluarga dari Cipatujah datang menjemput Anca. Tangis haru menyambut perjalanan pulang itu—akhir dari kisah pelarian panjang yang nyaris menelan masa mudanya.
Kasus ini, seperti disampaikan Kapolsek, tidak perlu hukuman, tetapi butuh pemulihan.
Warga Madasari mengantar kepergian Anca dengan doa. Mereka berharap ia menemukan kembali arah hidupnya, dan menyembuhkan apa pun yang membuatnya hilang selama bertahun-tahun.
Bukit Ki Brewoh yang sunyi kini kembali seperti sedia kala—hening, penuh kisah, dan menjadi saksi dari satu kehidupan muda yang sempat tersesat antara tuntutan dan tekanan. Namun bagi warga Madasari, tempat itu tidak lagi sekadar hutan angker; ia kini menyimpan kisah tentang daya tahan, kesepian, dan kemanusiaan yang tak pernah padam.
Dan bagi Anca, perjalanan itu mungkin menjadi titik balik. Satu tahun di dalam sunyi adalah sebuah pelajaran yang tak diberikan oleh kampus mana pun.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











