bukamata.id – Ketegangan di level tertinggi tata kelola sepak bola dunia belum menemui titik reda. Otoritas tertinggi sepak bola Benua Biru (UEFA) secara tegas menyatakan bahwa mereka tetap pada pendiriannya untuk memboikot berbagai turnamen yang diselenggarakan oleh FIFA, termasuk turnamen akbar Piala Dunia.
Langkah konfrontatif ini diambil menyusul krisis kepercayaan yang mendalam terhadap kepemimpinan Presiden FIFA, Gianni Infantino. Pihak UEFA menilai bahwa iktikad baik yang dituntut untuk memulihkan hubungan institusional hingga kini sama sekali belum dipenuhi oleh pihak induk organisasi sepak bola global tersebut.
Ketegasan sikap ini tertuang secara tersurat dalam rilis resmi yang dilansir melalui Sky Sports. Organisasi pimpinan Aleksander Ceferin itu membeberkan dua poin krusial mutlak yang harus direalisasikan oleh FIFA jika ingin mencabut status boikot.
“Asosiasi-asosiasi anggota UEFA telah sangat jelas mengenai syarat-syarat yang melekat pada keputusan untuk tidak berpartisipasi dalam kompetisi FIFA,” tulis UEFA, melansir Sky Sports.
“Pertama, usulan untuk menjual kompetisi-kompetisi utama harus ditarik kembali, dan kedua, harus ada jaminan upaya-upaya semacam itu untuk merusak citra sepak bola dengan cara ini tidak akan pernah dilakukan lagi.”
Lebih lanjut, UEFA menegaskan bahwa gelombang mosi tidak percaya terhadap figur nomor satu di tubuh FIFA tersebut tidak akan surut begitu saja hanya karena adanya dukungan internal yang baru-baru ini diklaim oleh sang presiden.
“Syarat-syarat tersebut belum dipenuhi. Selain itu, UEFA telah menegaskan dengan jelas dalam pernyataan hari Sabtu bahwa mereka telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino. Posisi tersebut tetap berlaku. Pengumuman kemarin, bahwa beberapa orang yang bekerja di bawah Presiden FIFA setuju dengannya, tidak mengubah apa pun,” tegas UEFA.
Polemik Penjualan Saham Turnamen dan Konsolidasi di Maroko
Badai kritik yang menerpa Gianni Infantino bermula dari kontroversi ide bisnis sang presiden yang berniat melego hak komersial serta saham turnamen Piala Dunia kepada para investor swasta. Wacana komersialisasi masif ini sontak memicu kemarahan luas dari berbagai asosiasi anggota karena dinilai mencederai nilai sakral olahraga.
Tekanan politik yang masif membuat Infantino sempat berada di ujung tanduk, terlebih di tengah ambisinya yang membidik masa jabatan keempat sebagai orang nomor satu di FIFA pada pemilihan tahun depan. Guna meredam gejolak, pria berusia 56 tahun itu langsung menggelar rapat darurat tertutup di Rabat, Maroko, pada Rabu (5/8) waktu setempat.
Dalam pertemuan darurat tersebut, Infantino dikabarkan secara terbuka mengakui kekeliruan terkait kontroversi rencana penjualan aset turnamen global tersebut. Walau sempat kehilangan dukungan signifikan dari sejumlah aliansi regional, kubu internal mengeklaim bahwa Infantino kembali mendapat lampu hijau dari para pejabat senior yang hadir di Rabat untuk mempertahankan kursinya.
Kendati demikian, klaim dukungan internal di Maroko tersebut nyatanya sama sekali tidak membuat UEFA melunak. Konflik terbuka antara otoritas sepak bola Eropa dan kepemimpinan pusat FIFA ini diprediksi bakal terus menggelinding dan menjadi sorotan tajam dunia internasional jelang agenda kongres mendatang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









