bukamata.id – Empat koma enam lima detik. Sesingkat itulah waktu yang dibutuhkan Antasyafi Robby Al Hilmi untuk melesat menuju sejarah baru panjat tebing Indonesia.
Pemuda asal Gresik tersebut menjadi yang tercepat pada final nomor speed putra World Climbing Series 2026 di Guiyang, China. Dengan catatan waktu 4,65 detik, Robby berhasil mengamankan medali emas sekaligus mencetak personal best atau rekor terbaik dalam kariernya.
Namun, di balik angka 4,65 detik itu terdapat proses panjang yang tidak selesai dalam satu pertandingan. Ada latihan berulang, kekalahan, evaluasi, dukungan keluarga, hingga persaingan ketat dengan para pemanjat cepat Indonesia yang juga berada di level dunia.
Bahkan, Robby menggambarkan atmosfer persaingan di internal tim speed climbing Indonesia seperti sebuah “mini Olimpiade”.
Gambaran tersebut menjadi salah satu kunci untuk memahami bagaimana seorang atlet muda dari Gresik mampu berkembang begitu cepat hingga akhirnya berdiri di podium tertinggi World Climbing Series.
Dari Dinding Panjat Gresik Menuju Panggung Dunia
Perjalanan Robby tidak dimulai dari arena internasional. Jauh sebelum mencatat waktu 4,65 detik di Guiyang, ia lebih dulu mengenal panjat tebing di Rock Hobbies Center, Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.
Tempat latihan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Robby mengenal teknik panjat tebing, membangun kemampuan fisik, dan menumbuhkan mental kompetitif.
Kini Robby memang berdomisili di Jakarta dan menjadi bagian dari atlet nasional Indonesia. Namun, Gresik tetap memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan kariernya.
Pada Desember 2025, hanya beberapa hari setelah membawa pulang medali emas SEA Games Thailand, Robby kembali ke Rock Hobbies Center bersama sesama atlet panjat tebing asal Gresik, Alma Ariella Tsany.
Kepulangannya menjadi semacam perjalanan kembali ke titik awal. Ia datang bukan lagi sebagai atlet muda yang sedang mengejar prestasi, tetapi sebagai peraih emas SEA Games yang telah membawa nama Indonesia ke panggung internasional.
Di sana, Robby bertemu komunitas panjat tebing serta para atlet muda yang sedang berlatih. Ia juga berbagi pengalaman, kiat, dan motivasi kepada generasi yang sedang mengikuti jejaknya.
Dari sebuah pusat latihan di daerah, perjalanan Robby kemudian berkembang hingga menjadi salah satu cerita tentang atlet muda Indonesia yang mampu menembus persaingan panjat tebing dunia.
Perjalanan Robby Naik Kelas dari Asia ke Dunia
Perkembangan karier internasional Robby berlangsung cukup cepat.
Profil resmi World Climbing mencatat Robby mulai aktif dalam kompetisi internasional sejak 2024. Ia mengawali perjalanan melalui kompetisi panjat tebing usia muda tingkat Asia sebelum kemudian masuk ke level senior dan berhadapan dengan para pemanjat terbaik dunia.
Pada 2025, namanya semakin sering muncul dalam berbagai kompetisi internasional. Robby tampil di sejumlah seri World Cup dan kejuaraan Asia.
Salah satu pencapaian pentingnya datang ketika ia meraih medali perunggu pada Youth Asian Championship di Guiyang. Kompetisi tersebut menjadi pengalaman penting bagi Robby untuk menghadapi atmosfer pertandingan tingkat tinggi.
Lompatan besar kemudian terjadi pada penghujung 2025.
Di SEA Games Thailand, Robby merebut medali emas nomor speed klasik putra. Dalam pertandingan final, ia mencatat waktu 4,83 detik dan mengalahkan rekan senegaranya, Alfian Muhammad Fajri, yang finis dengan waktu 5,08 detik.
Emas SEA Games tersebut menjadi salah satu momentum yang membuat nama Robby semakin dikenal publik Indonesia.
“Mini Olimpiade” di Pelatnas Indonesia
Menjadi bagian dari tim speed climbing Indonesia ternyata bukan berarti Robby hanya berlatih untuk menghadapi atlet dari negara lain.
Justru, persaingan paling ketat juga terjadi setiap hari di dalam negeri.
Indonesia memiliki banyak atlet speed climbing yang berada di level elite dunia. Karena itu, setiap sesi latihan di pelatnas menghadirkan kompetisi tersendiri.
Robby menggambarkan suasana tersebut seperti sebuah “mini Olimpiade”.
Setiap atlet harus terus meningkatkan kemampuan karena lawan terdekat mereka bukan hanya pemanjat dari negara lain ketika pertandingan berlangsung. Di tempat latihan sendiri, mereka sudah berhadapan dengan rekan-rekan yang memiliki kemampuan dan kecepatan kelas dunia.
Atmosfer tersebut membuat tidak ada ruang untuk terlalu lama merasa puas.
Dalam speed climbing, perbedaan antara kemenangan dan kekalahan dapat ditentukan hanya oleh sepersekian detik. Kekuatan fisik saja tidak cukup. Atlet harus menggabungkan teknik, koordinasi tubuh, refleks, ritme gerakan, dan konsentrasi dalam satu lintasan.
Satu gerakan yang kurang tepat bisa membuat waktu terbuang. Sedikit kehilangan ritme pun dapat mengubah hasil pertandingan.
Karena itu, setiap peningkatan catatan waktu menjadi bagian penting dari proses seorang atlet speed climbing.
Robby pun merasakan sendiri kerasnya proses tersebut.
Sebelum akhirnya meraih emas di Guiyang, ia sempat mendapatkan sejumlah hasil yang belum sesuai harapan dalam rangkaian World Climbing Series. Namun, hasil tersebut tidak menghentikan langkahnya.
Federasi Panjat Tebing Indonesia atau FPTI mencatat pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi bagi Robby untuk memperbaiki teknik dan meningkatkan kecepatannya.
Hasil evaluasi tersebut kemudian menemukan jawabannya di Guiyang.
4,65 Detik dan Emas Pertama Robby
Di final World Climbing Series 2026 Guiyang, Robby menghadapi tiga pemanjat lainnya, yakni Yongzhi Ling dan Shouhong Chu dari China serta Ryo Omasa dari Jepang.
Empat atlet melaju bersamaan di dinding panjat.
Dalam pertandingan yang hanya berlangsung dalam hitungan detik tersebut, Robby mampu mencapai garis finis paling cepat.
Waktu 4,65 detik mengantarkannya ke posisi pertama. Yongzhi Ling menyusul dengan 4,75 detik, disusul Shouhong Chu dengan 4,80 detik dan Ryo Omasa dengan 4,99 detik.
Bagi Robby, hasil tersebut memiliki arti lebih dari sekadar podium.
Medali emas di Guiyang merupakan emas pertamanya di World Climbing Series. Catatan 4,65 detik juga menjadi personal best yang menunjukkan perkembangan performanya.
Kemenangan tersebut juga melanjutkan tren positif yang sebelumnya sudah terlihat.
Pada World Climbing Series 2026, Robby telah dua kali meraih medali perak, masing-masing di Madrid dan Chamonix.
Di Chamonix, ia bahkan harus menghadapi sesama atlet Indonesia, Veddriq Leonardo, pada partai puncak. Veddriq akhirnya keluar sebagai juara.
Rangkaian hasil tersebut memperlihatkan proses Robby dalam mendekati puncak sebelum akhirnya mendapatkan emas pertamanya di Guiyang.
“Ibu, Akhirnya Aku Emas!”
Di balik pencapaian Robby sebagai atlet nasional, ada keluarga yang selalu memiliki posisi penting.
Dalam berbagai kesempatan, termasuk saat berbicara kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga, Robby menyebut ayah dan ibunya sebagai sosok yang tidak tergantikan dalam perjalanan prestasinya.
Hal tersebut kembali terlihat setelah kemenangan di Guiyang.
Usai memastikan medali emas, Robby menyampaikan ungkapan sederhana yang memperlihatkan sisi personal dari pencapaiannya.
“Ibu, akhirnya aku emas!”
Kalimat tersebut menjadi gambaran bahwa di balik persaingan, latihan, dan angka-angka di papan skor, terdapat dukungan keluarga yang ikut mengiringi perjalanan panjangnya.
Sebelumnya, ketika mendapatkan bonus Rp1 miliar sebagai peraih emas SEA Games, Robby mengatakan akan memprioritaskan penggunaannya untuk keluarga sekaligus investasi masa depan.
Ambisinya sebagai atlet berjalan beriringan dengan keinginannya membahagiakan orang-orang yang selama ini mendukung perjalanan kariernya.
Belum Puas meski Sudah Jadi Juara
Medali emas World Climbing Series belum membuat Robby menganggap perjalanan kariernya selesai.
Ia masih melihat sejumlah aspek teknik yang perlu diperbaiki untuk mendapatkan catatan waktu yang lebih baik.
Sikap tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan seorang atlet yang sedang berkembang. Kemenangan tidak dianggap sebagai garis akhir, melainkan pijakan untuk memperbaiki performa berikutnya.
Perjalanan Robby sendiri berlangsung relatif cepat.
Ia baru mulai aktif dalam kompetisi internasional pada 2024. Dalam sekitar dua tahun, ia kemudian merasakan podium kejuaraan Asia, emas SEA Games, dua medali perak World Climbing Series, dan akhirnya emas di Guiyang.
Juara Dunia yang Masih Menjadi Mahasiswa
Di luar dinding panjat, Robby juga menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
Data Universitas Negeri Surabaya atau Unesa mencatat dirinya sebagai mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional.
Artinya, agenda Robby tidak hanya diisi latihan dan kompetisi. Ia juga harus menjalani pendidikan di tengah jadwal sebagai atlet nasional yang mengikuti pertandingan di berbagai negara.
Kehidupannya sebagai atlet juga terekam melalui media sosial.
Melalui akun Instagram pribadinya, Robby membagikan berbagai aktivitas seperti latihan, kompetisi, perjalanan bersama tim, hingga momen kehidupan di luar arena.
Jejak digital tersebut memperlihatkan sisi lain perjalanan Robby sebagai atlet muda yang sedang berkembang di panggung internasional.
Dari Gresik, Menatap Puncak yang Lebih Tinggi
Jarak dari Rock Hobbies Center di Gresik menuju podium World Climbing Series di Guiyang tidak ditempuh hanya dengan kecepatan.
Di dalamnya terdapat latihan, kekalahan, evaluasi, persaingan dengan rekan setim, dukungan keluarga, pendidikan, serta keberanian untuk terus mencoba ketika hasil belum sesuai harapan.
Semua proses tersebut akhirnya bermuara pada satu angka: 4,65 detik.
Empat koma enam lima detik mungkin terasa sangat singkat jika berdiri sendiri. Namun bagi Robby, angka tersebut merupakan hasil dari perjalanan yang jauh lebih panjang.
Dari dinding panjat di Gresik hingga podium dunia, Robby menunjukkan bahwa kecepatan hanyalah hasil akhir dari proses yang dibangun bertahun-tahun.
Kini, setelah meraih emas World Climbing Series, perjalanan Robby memasuki babak berikutnya.
Ia juga kokoh berada di peringkat pertama dunia speed perorangan putra seri 2026 dengan skor 2.864.
Pelatih kepala Galar Pandu Asmoro pun menyambut pencapaian tersebut dengan bangga. Ia berharap keberhasilan Robby di nomor speed perorangan dapat berlanjut pada nomor speed relay.
“Kami berharap akan ada medali lagi yang didapat dari nomor relay,” ujar Galar.
Bagi Robby, satu emas telah didapat. Namun, pekerjaan rumah masih ada.
“Sungguh menjadi Minggu yang luar biasa bagi Tim Indonesia, dan terutama bagi saya secara pribadi. Saya berhasil memecahkan rekor pribadi dan, untuk pertama kalinya dalam karier saya, meraih medali emas di level tertinggi kompetisi panjat tebing dunia,” ujar Robby.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang terus mendukung perjalanannya.
“Terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia yang telah memberikan dukungan dan menyemangati kami, khususnya Kemenpora dan FPTI yang selalu bekerja sama dan mendukung kami dalam perjalanan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kami di panggung dunia,” pungkasnya.
Dari Gresik, tempat perjalanan itu pernah dimulai, Robby kini terus memanjat. Bukan hanya untuk mencapai puncak dinding, tetapi untuk terus mengukur seberapa jauh batas kecepatannya bisa ditembus.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









