bukamata.id – Suasana di kawasan Cicadas, Kota Bandung, mendadak tegang pada Senin (18/5/2026) sekitar pukul 15.00 WIB. Lapak-lapak Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berada di bahu jalan mulai ditertibkan oleh petugas gabungan. Penertiban ini merupakan bagian dari dampak pembangunan fisik proyek Bus Rapid Transit (BRT) Jawa Barat yang tengah dikebut.
Namun, proses eksekusi di lapangan berlangsung alot dan diwarnai penolakan keras. Ketegangan memuncak karena pembongkaran dilakukan tepat setelah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melakukan kunjungan kerja dan berdialog di kawasan tersebut.
Dalam rekaman video yang diunggah oleh akun Instagram @patriaadiyasa, para pedagang—terutama kaum ibu—terlihat histeris dan emosional saat mempertahankan tempat mata pencaharian mereka. Mereka menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai terburu-buru melakukan pembongkaran tanpa memberikan kepastian.
“Pembongkaran Jongko PKL Cicadas ini sama sekali tidak ada pemberitahuan sebelumnya, bahkan solusi tempat bagi kami pun tidak ada!” teriak salah seorang pedagang wanita di lokasi dengan suara bergetar menahan tangis.
Para pedagang menilai, kedatangan Gubernur Dedi Mulyadi ke Cicadas siang itu seharusnya membawa angin segar dan titik temu, bukan justru menjadi penanda dimulainya penggusuran tanpa arah yang jelas.
“Kami ini masih aktif berjualan di sini, Pak! Jangan main bongkar begitu saja. Izin Gubernur Dedi Mulyadi, mungkin ada hal-hal penting yang terlewatkan tadi saat diskusi dengan kami para PKL yang masih mencari nafkah di sini,” ujar perwakilan pedagang lainnya sambil menunjukkan berkas kepada petugas di lapangan.
Ia menambahkan bahwa para pedagang tidak berniat menghalangi pembangunan fasilitas publik seperti BRT, namun mereka menuntut hak hidup yang berkeadilan. “Kami hanya butuh solusi relokasi yang jelas. Kalau dibongkar sekarang tanpa kejelasan, besok anak-istri kami mau makan apa?” pungkasnya lirih.
Kritik tajam pun mengalir dari warga dan netizen yang menyaksikan kejadian tersebut. Kebijakan eksekusi lapangan ini dinilai kontradiktif dengan citra “humanis” dan pendekatan berbasis dialog yang selama ini melekat pada sosok Dedi Mulyadi. Kehadiran pemimpin di tengah konflik ruang publik dinilai gagal meredam keresahan jika setelah kepulangannya, jeritan rakyat kecil akibat kehilangan lapak tetap tidak terhindarkan.
Hingga Senin malam, situasi di kawasan Cicadas berangsur kondusif meski menyisakan puing-puing lapak yang hancur. Para pedagang mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pihak pengembang proyek BRT untuk segera menggelar dialog terbuka guna memberikan solusi relokasi yang konkret dan manusiawi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










