bukamata.id – Nama Muhammad Burhanuddin mendadak menjadi sorotan publik usai videonya viral di media sosial saat mengikuti aksi demonstrasi di depan Mapolresta Pati, Jawa Tengah, pada 13 Mei 2026 lalu.
Pria berambut gondrong itu menjadi pusat perhatian setelah tampil mengenakan kaos bertuliskan “Darah Polisi Itu Segar”, kalimat yang langsung memantik kontroversi di tengah situasi aksi massa yang memanas.
Bukan hanya soal tulisan provokatif di kaosnya, Burhanuddin juga terekam melakukan aksi vandalisme dengan mencoret jalan saat demonstrasi berlangsung. Potongan video dan foto dirinya kemudian menyebar luas di TikTok, Instagram, hingga X.
Namun yang membuat publik semakin heboh bukan sekadar aksi demo tersebut, melainkan munculnya foto Burhanuddin di kantor Intel Kodim 0718/Pati. Dari sinilah berbagai spekulasi bermunculan. Banyak netizen menduga pria tersebut sebenarnya adalah “intel” yang menyusup ke dalam aksi massa.
Klarifikasi resmi yang kemudian disampaikan Burhanuddin justru memunculkan gelombang kecurigaan baru di media sosial.
Awal Mula Viral: Kaos Provokatif dan Vandalisme di Depan Mapolresta Pati
Demo di depan Mapolresta Pati awalnya berjalan seperti aksi massa pada umumnya. Massa datang membawa tuntutan dan melakukan orasi secara bergantian.
Namun suasana berubah ketika muncul sosok pria gondrong memakai kaos hitam bertuliskan “Darah Polisi Itu Segar”. Tulisan di kaos tersebut langsung menarik perhatian peserta aksi maupun aparat keamanan.
Video yang beredar memperlihatkan Burhanuddin berada di tengah kerumunan sambil melakukan aksi coret-coret di jalan. Dalam hitungan jam, wajah dan pakaiannya menjadi viral di berbagai platform media sosial.
Warganet mulai mempertanyakan siapa sosok pria tersebut. Sebagian menilai aksinya terlalu provokatif, sementara lainnya menduga ia sengaja “dimainkan” untuk memancing kericuhan di lapangan.
Situasi semakin liar ketika muncul foto Burhanuddin berdiri di depan logo Tim Sus 07 Kodim Pati. Foto itu langsung memicu dugaan bahwa dirinya adalah bagian dari aparat intelijen.
Dibawa ke Kantor Intel Kodim karena Dianggap Provokatif
Pihak TNI kemudian memberikan penjelasan terkait beredarnya foto tersebut.
Menurut keterangan yang beredar, Burhanuddin sempat diamankan oleh Intel Kodim 0718/Pati setelah dinilai melakukan vandalisme dan mengenakan atribut bernada provokatif saat aksi demonstrasi berlangsung.
Ia kemudian dibawa ke kantor Intel Kodim untuk dimintai keterangan dan diberi peringatan agar aksi berlangsung tertib.
Namun setelah proses pemeriksaan selesai, Burhanuddin disebut meminta izin untuk berfoto di depan logo Tim Sus 07 Kodim Pati. Foto tersebut kemudian diunggah ke status WhatsApp pribadinya.
Tak disangka, unggahan itu justru diambil dan disebarkan oleh pihak lain hingga akhirnya viral di media sosial dengan narasi bahwa dirinya adalah anggota intel.
“Story WA saya diambil orang tidak bertanggung jawab dengan tujuan mengadu domba institusi Kepolisian dan TNI di Pati,” ujar Muhammad Burhanuddin dalam klarifikasinya, Sabtu (17/5/2026).
Klarifikasi Muhammad Burhanuddin: “Saya Sipil, Bukan Intel”
Setelah videonya semakin viral, Burhanuddin akhirnya dipanggil kembali oleh pihak TNI dan kepolisian untuk memberikan klarifikasi terbuka.
Dalam video klarifikasi tersebut, ia menegaskan bahwa dirinya merupakan warga sipil dan bukan anggota Intel Kodim 0718/Pati seperti yang ramai dituduhkan netizen.
“Saya masyarakat sipil, bukan anggota unit Intel Kodim 0718/Pati. Mohon maaf terkait beredarnya video di media sosial yang terdapat foto saya di kantor Intel Kodim 0718/Pati,” ujar Burhanuddin.
Ia juga menjelaskan bahwa keikutsertaannya dalam aksi demo murni atas inisiatif pribadi dan tidak ada pihak yang menyuruh.
“Kemudian saya mengikuti demo pada 13 Mei 2026 di depan Mapolresta Pati murni atas inisiatif saya sendiri dan tidak ada yang menyuruh saya,” tambahnya.
Burhanuddin juga menegaskan hubungan TNI dan Polri di Pati tetap harmonis dan meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh narasi liar di media sosial.
Klarifikasi Justru Memantik Gelombang Kecurigaan Baru
Alih-alih meredam spekulasi, video klarifikasi Burhanuddin justru membuat netizen semakin curiga.
Di berbagai kolom komentar media sosial, banyak pengguna mempertanyakan gaya bicara Burhanuddin yang dianggap terlalu tenang dan terstruktur untuk ukuran warga sipil biasa.
Sebagian lainnya menyoroti penggunaan masker dalam video klarifikasi tersebut.
“Cukup lancar untuk seorang sipil,” tulis akun @yud***.
“Kok ditutupin masker hahaha,” komentar akun @zul***.
“Makin meyakinkan kalau dia intel,” tulis akun lainnya.
Ada pula netizen yang menilai klarifikasi tersebut justru membuka ruang spekulasi lebih besar karena dianggap terlalu formal dan defensif.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana publik kini semakin sulit mempercayai narasi resmi, terutama ketika sebuah peristiwa sudah terlanjur viral dan dibentuk oleh opini media sosial.
Jejak Panjang Kecurigaan terhadap “Intel” di Tengah Aksi Massa
Kasus Muhammad Burhanuddin sebenarnya bukan pertama kali memunculkan dugaan keberadaan “intel” dalam aksi demonstrasi.
Di Indonesia, istilah “intel” sudah lama hidup dalam imajinasi publik sebagai sosok misterius yang hadir di tengah kerumunan massa tanpa identitas jelas.
Dalam berbagai aksi demonstrasi, selalu muncul seruan klasik: “Awas intel!”
Bagi aktivis jalanan, kalimat tersebut bukan sekadar candaan. Ia menjadi semacam alarm agar massa tetap waspada terhadap kemungkinan penyusup atau provokator.
Kecurigaan ini lahir dari pengalaman panjang demonstrasi di Indonesia yang kerap berubah ricuh secara tiba-tiba.
Saat Demo Damai Berubah Rusuh
Ingatan publik masih segar pada gelombang aksi besar akhir Agustus 2025 di Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya.
Saat itu ribuan mahasiswa, buruh, dan pengemudi ojek online turun ke jalan memprotes berbagai kebijakan pemerintah, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok hingga kebijakan ketenagakerjaan.
Awalnya aksi berlangsung damai. Massa berorasi tertib sambil membawa spanduk tuntutan.
Namun menjelang sore, suasana berubah panas. Sekelompok orang tak dikenal disebut mulai melempar benda keras, merusak fasilitas umum, hingga membakar atribut di sekitar lokasi aksi.
Kericuhan pun pecah. Polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan massa.
Peristiwa itu menimbulkan korban luka hingga korban jiwa. Sejumlah pihak kemudian menyebut adanya “penumpang gelap” atau penyusup yang diduga memancing kerusuhan.
Narasi tentang provokator dan intel kembali mencuat sejak saat itu.
“Intel” dan Krisis Kepercayaan Publik
Secara formal, aparat intelijen memiliki tugas memantau situasi sosial dan mengantisipasi potensi konflik. Namun di mata publik, istilah “intel” sering kali memiliki makna berbeda.
Ia dianggap sebagai sosok abu-abu yang hadir diam-diam di tengah massa, mengamati, bahkan kadang dicurigai memprovokasi situasi.
Benar atau tidak, persepsi itu sudah terlanjur melekat kuat dalam budaya demonstrasi di Indonesia.
Kasus Muhammad Burhanuddin menjadi contoh bagaimana satu foto, satu kaos, dan satu video klarifikasi dapat memicu gelombang spekulasi besar di era media sosial.
Di tengah derasnya arus informasi digital, publik kini tidak hanya memperdebatkan fakta, tetapi juga membangun teori dan kecurigaan sendiri.
Dan selama kepercayaan publik terhadap institusi masih rapuh, teriakan “awas intel” tampaknya akan terus hidup di setiap aksi jalanan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










