Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bangkit di Babak Kedua, Persib Paksa Dewa United Berbagi Poin

Minggu, 11 Oktober 2026 21:12 WIB

Buntut Bullying Mahasiswa Baru, Telkom University Tetapkan Sanksi Akademik

Minggu, 11 Oktober 2026 20:57 WIB

Viral! Dana Donasi Pak Santoso Tercatat Rp14,3 Juta, Disebut Hanya Terima Rp600 Ribu

Minggu, 11 Oktober 2026 20:34 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bangkit di Babak Kedua, Persib Paksa Dewa United Berbagi Poin
  • Buntut Bullying Mahasiswa Baru, Telkom University Tetapkan Sanksi Akademik
  • Viral! Dana Donasi Pak Santoso Tercatat Rp14,3 Juta, Disebut Hanya Terima Rp600 Ribu
  • Dua Kali Kebobolan! Persib Tertinggal 0-2 dari Dewa United di Si Jalak Harupat
  • Bikin Geger! Penampilan Susan Dell di Gedung Putih Picu Teori Konspirasi, Dituding Reptil
  • Persib vs Dewa United Malam Ini: Jadwal Kick-off dan Link Live Streaming
  • Kecelakaan Motor di Buahbatu Bandung, Polisi Duga Pengendara Kurang Konsentrasi
  • Ustaz Riza Muhammad Pamer Aktivitas Renang, Soal Aurat Langsung Disorot!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 11 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Program Sekolah Maung Picu Polemik Pendidikan, Pengamat Ungkap Risiko Ketimpangan Baru

By SusanaSenin, 18 Mei 2026 09:00 WIB6 Mins Read
Ilustrasi polemik Sekolah Maung. (Foto: bukamata.id/AI)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam meluncurkan program pendidikan bertajuk “Sekolah Maung” menjadi salah satu isu pendidikan yang paling banyak menyita perhatian publik dalam beberapa waktu terakhir.

Program ini digadang-gadang sebagai langkah strategis untuk mencetak generasi muda unggul di bidang akademik maupun non-akademik. Namun di sisi lain, kebijakan tersebut juga memicu perdebatan terkait potensi munculnya kembali dikotomi sekolah favorit dan non-favorit di dunia pendidikan Indonesia.

Konsep Sekolah Maung: Sekolah Unggulan Berbasis “Manusia Unggul”

Program Sekolah Maung diperkenalkan sebagai bagian dari pengembangan konsep Sekolah Garuda Transformatif. Kata “Maung” sendiri merupakan akronim dari Manusia Unggul, yang ditujukan untuk memfasilitasi peserta didik dengan potensi kecerdasan di atas rata-rata, khususnya pada bidang sains, teknologi, serta pengembangan karakter.

Berdasarkan penjelasan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, program ini tidak dimaksudkan untuk membangun sekolah baru, melainkan mengoptimalkan sekolah yang sudah ada dan selama ini dikenal sebagai sekolah unggulan di masing-masing daerah.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan adalah penguatan sekolah yang sudah memiliki reputasi baik.

“Tidak dibangun, kami meng-update sekolah-sekolah yang dulu menjadi unggulan. Misalnya SMAN 3 Bandung, SMAN 1 Subang, itu yang akan diisi oleh anak-anak berprestasi,” ujarnya.

Dalam implementasinya, sejumlah SMA dan SMK yang selama ini berstatus favorit akan masuk dalam skema Sekolah Maung. Bahkan, beberapa sekolah unggulan di Kota Bandung seperti SMAN 3 dan SMAN 5 disebut menjadi bagian dari program ini.

Kekhawatiran Publik: Munculnya Kembali Sekolah Favorit

Meski diklaim sebagai program peningkatan kualitas, kebijakan ini justru memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat pendidikan. Salah satu kritik utama adalah potensi lahirnya kembali stratifikasi sekolah, di mana akan ada label sekolah unggulan dan sekolah non-unggulan secara resmi.

Padahal, selama beberapa tahun terakhir, sistem zonasi pendidikan di Indonesia justru berupaya menghapus kesenjangan tersebut demi pemerataan kualitas pendidikan.

Baca Juga:  Imbas Penyekapan Wanita di Cileunyi, Dedi Mulyadi Warning Pengusaha Kos-kosan soal Identitas Tamu

Dengan adanya Sekolah Maung, publik menilai bahwa secara tidak langsung sistem ini dapat menghidupkan kembali stigma “sekolah elite” yang sebelumnya coba dihilangkan.

SMAN 3 Bandung & SMAN 5 Bandung, Sekolah Legendaris dalam Pusaran Program Sekolah Maung

Dua sekolah yang paling banyak disorot dalam program ini adalah SMAN 3 Bandung dan SMAN 5 Bandung. Keduanya merupakan sekolah bersejarah yang telah lama dikenal sebagai institusi pendidikan unggulan di Jawa Barat.

SMAN 3 Bandung dikenal sebagai salah satu sekolah terbaik di Indonesia dengan sejarah panjang sejak era kolonial. Berlokasi di kompleks bangunan bersejarah peninggalan Belanda, sekolah ini telah melahirkan banyak tokoh nasional dari berbagai bidang seperti teknologi, politik, hingga seni.

Reputasi akademik yang kuat membuat SMAN 3 kerap menjadi incaran siswa berprestasi dari berbagai daerah. Tak heran jika sekolah ini sering disebut sebagai “sekolah favorit” di Bandung.

Sementara itu, SMAN 5 Bandung juga memiliki reputasi yang tidak kalah kuat. Sekolah ini dikenal dengan tradisi akademik yang stabil serta prestasi siswa di berbagai ajang kompetisi nasional maupun internasional.

Keberadaan SMAN 5 dalam program Sekolah Maung menjadi sorotan karena statusnya sebagai sekolah yang sudah lama memiliki identitas kuat di masyarakat.

Perubahan Status dan Polemik Identitas Sekolah

Rencana perubahan status menjadi bagian dari Sekolah Maung sempat memicu reaksi dari siswa dan alumni. Mereka menilai bahwa perubahan tersebut berpotensi menghilangkan identitas historis sekolah yang sudah dibangun selama puluhan tahun.

Namun pemerintah kemudian menegaskan bahwa tidak akan ada perubahan nama sekolah secara administratif.

Program ini tidak hanya menjadi perbincangan di tingkat pemerintah dan akademisi, tetapi juga di kalangan siswa yang merasakan langsung dampaknya.

Salah satu siswa SMAN 5 Bandung, Dafa, mengaku kurang sepakat jika identitas sekolah berubah terlalu jauh.

“Kalau diubah jadi Sekolah Maung kurang sependapat, karena dari dulu sudah ikonik sebagai SMAN 5 Bandung,” ujarnya, dikutip dari tayangan yang dibagikan Dedi Mulyadi di Instagram pribadinya @dedimulyadi71.

Baca Juga:  Dukung Industri Kreatif, Dedi Mulyadi Janji Kembangkan Sekolah Berbasis Bambu di Jabar

Senada dengan itu, siswa lain bernama Azam juga menyampaikan kekhawatiran terkait perubahan identitas sekolah.

“Kalau tiba-tiba jadi Sekolah Maung itu rasanya agak gimana gitu. Nama SMAN 5 itu sudah punya sejarah,” katanya.

Meski demikian, sebagian siswa lainnya tetap berharap program ini tidak menghilangkan nilai historis sekolah yang sudah lama dibangun.

Menanggapi polemik yang berkembang, Gubernur Jawa Barat menegaskan bahwa tidak ada perubahan nama sekolah dalam program ini.

“Sekolah tetap SMAN 3 Bandung, SMAN 5 Bandung. Maung itu hanya istilah, bukan penggantian nama,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa istilah Maung digunakan sebagai akronim dari Manusia Unggul, yang menandai sistem seleksi berbasis prestasi akademik dan non-akademik.

Sekolah Maung Dianggap Tabrak Sistem Zonasi, Pengamat Ingatkan Bahaya Politisasi Pendidikan

Di tengah pro dan kontra yang berkembang, sejumlah kalangan akademisi turut memberikan pandangan kritis terhadap konsep pendidikan unggulan tersebut.

Salah satunya datang dari Pengamat Pendidikan sekaligus Dosen Universitas Islam Bandung (Unisba), Fadhli Muttaqien, yang menilai bahwa secara konsep, Sekolah Maung memiliki dasar yang cukup baik dalam pengembangan sistem pendidikan di Indonesia.

Menurut Fadhli, konsep sekolah unggulan sebenarnya sudah lama dikenal dalam sistem pendidikan nasional, khususnya di Jawa Barat, di mana sejumlah sekolah memang secara sosial telah diakui sebagai sekolah favorit.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan sekolah unggulan selama ini terbentuk dari kesepakatan sosial masyarakat terhadap kualitas pendidikan di sekolah tersebut.

“Sekolah unggulan itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Masyarakat sendiri yang menilai sekolah mana yang dianggap bagus dalam bidang tertentu,” ujarnya.

Namun, ia menilai bahwa konsep ini kembali menjadi sorotan karena sistem zonasi yang selama ini diterapkan dalam penerimaan peserta didik baru.

Fadhli menilai bahwa salah satu kelebihan dari konsep Sekolah Maung adalah adanya upaya untuk menilai siswa tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga non-akademik seperti seni, budaya, dan potensi lainnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut sebenarnya lebih komprehensif dalam melihat kemampuan siswa secara menyeluruh.

Baca Juga:  Pangkas Anggaran Media Massa, Dedi Mulyadi Andalkan Kekuatan Emak-Emak TikTok

“Penilaian siswa tidak boleh berhenti pada akademik saja, tetapi juga harus mencakup seni, budaya, dan kemampuan lain yang lebih luas,” jelasnya.

Meski menilai konsepnya positif, Fadhli mengingatkan adanya potensi konflik dalam implementasi di lapangan, terutama dengan sistem pendidikan nasional yang masih menggunakan mekanisme zonasi.

Ia menilai perbedaan sistem seleksi antara akademik dan non-akademik dapat menimbulkan ketidaksinkronan dalam administrasi pendidikan.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam pelaksanaan kebijakan agar tidak menimbulkan kesan bahwa program ini hanya bersifat seremonial atau pencitraan.

“Jangan sampai konsep yang baik ini justru tidak matang dalam eksekusi dan hanya menjadi kebijakan yang reaksioner,” tegasnya.

Lebih jauh, Fadhli juga menyoroti kondisi umum pendidikan di Indonesia yang menurutnya belum menempatkan pendidikan sebagai investasi utama pembangunan sumber daya manusia.

Ia menilai bahwa lemahnya fokus pemerintah terhadap pendidikan berdampak pada kualitas kurikulum, rekrutmen guru, hingga proses pembelajaran yang belum optimal.

Akibatnya, pendidikan karakter yang seharusnya menjadi fondasi utama justru belum berkembang secara maksimal.

Fadhli juga menilai bahwa secara prinsip, tidak terdapat perbedaan mendasar antara Sekolah Maung dengan sekolah umum maupun sekolah berasrama.

Menurutnya, semua sistem pendidikan pada dasarnya sudah mencakup aspek akademik dan non-akademik, hanya saja implementasinya yang perlu diperkuat.

Ia menegaskan bahwa yang menjadi tantangan bukan pada konsep, melainkan pada konsistensi pelaksanaan di lapangan.

Kesimpulan: Antara Inovasi dan Tantangan Implementasi

Program Sekolah Maung pada dasarnya membawa semangat peningkatan kualitas pendidikan di Jawa Barat. Namun, di balik niat tersebut, terdapat tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara peningkatan mutu dan pemerataan akses pendidikan.

Ke depan, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah mampu memastikan bahwa setiap sekolah tetap memiliki kesempatan yang setara tanpa menciptakan kembali jurang antara sekolah unggulan dan non-unggulan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi HL pendidikan Jawa Barat
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Buntut Bullying Mahasiswa Baru, Telkom University Tetapkan Sanksi Akademik

Viral! Dana Donasi Pak Santoso Tercatat Rp14,3 Juta, Disebut Hanya Terima Rp600 Ribu

Bikin Geger! Penampilan Susan Dell di Gedung Putih Picu Teori Konspirasi, Dituding Reptil

Kecelakaan Motor di Buahbatu Bandung, Polisi Duga Pengendara Kurang Konsentrasi

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Jangan Panik! Ini Alasan Bansos Oktober 2026 Belum Cair dan Cara Mengatasinya

Video Dugaan Bullying di Tel-U Viral, Satgas PPKPT Mulai Turun Tangan

Terpopuler
  • Jadwal dan Link Live Streaming Indonesia vs Thailand: Momentum Garuda Rebut Trofi di Rumah Sendiri
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Megaproyek Pusat Data AI di Jatiluhur Purwakarta Ditahan BRIN, Ada Apa?
  • SEJARAH! Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Puasa Gelar 35 Tahun Berakhir
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.