bukamata.id – Suasana Kota Kembang berubah menjadi panggung kebudayaan terbuka yang luar biasa semarak pada Sabtu (16/5/2026) malam. Ribuan pasang mata menyemut di kawasan ikonis Gedung Sate hingga sepanjang Jalan Diponegoro demi menyaksikan langsung pergelaran akbar Kirab Milangkala Tatar Sunda yang kaya akan nilai tradisi.
Gelombang masyarakat bahkan sudah mulai membanjiri lokasi sejak sore hari. Mereka rela datang lebih awal demi mengamankan posisi terbaik di pinggir jalan agar bisa melihat dari dekat arak-arakan seni khas yang dibawa oleh perwakilan dari 27 kabupaten dan kota se-Jawa Barat.
Panggung Budaya Berjalan Sepanjang 3,5 Kilometer
Parade kebudayaan ini mengambil titik mula dari Kiara Artha Park, kemudian bergerak menyusuri Jalan Jakarta dan Jalan Supratman, hingga akhirnya mencapai garis finis di pelataran Gedung Sate. Jarak rute sejauh 3,5 kilometer tersebut sukses disulap menjadi lautan seni lewat gemuruh musik daerah, pertunjukan tari tradisional, hingga alunan merdu suara para sinden.
Daya tarik utama ini terbukti ampuh menyedot perhatian warga lintas generasi yang ingin merasakan kembali kehangatan warisan leluhur Sunda di tengah modernisasi kota.
Saking tingginya magnet acara ini, Melly Susilawati (40), seorang warga asal Antapani, mengaku memboyong seluruh keluarganya untuk bersiap di lokasi sejak siang menjelang sore.
“Sengaja datang dari jam setengah tiga sore. Pengen lihat langsung Kang Dedi sama kereta kencana,” kata Melly.
Bagi Melly, festival tahunan seperti ini bukan sekadar hiburan pelepas penat di akhir pekan, melainkan media edukasi yang sangat efektif untuk memperkenalkan akar budaya Sunda kepada anak-cucu. Meski sangat menikmati jalannya acara, ia menyelipkan sedikit evaluasi terkait manajemen kerumunan demi kenyamanan bersama ke depan.
“Tahun depan semoga ada lagi tapi lebih tertata supaya warga lebih nyaman,” ujarnya.
Bandung yang Jauh Lebih Hidup
Kesan mendalam juga dirasakan oleh Andri Aji (29). Pria asal Buahbatu ini memilih area sekitar Taman Lansia bersama anak dan istrinya untuk menikmati jalannya parade. Ia mengaku sangat terpukau dengan konsep arak-arakan yang melintas di hadapan ribuan penonton.
“Paling menarik lihat sinden dan arak-arakan budayanya. Bandung jadi terasa lebih hidup malam ini,” ujarnya.
Pada akhirnya, Kirab Milangkala Tatar Sunda 2026 bukan sekadar agenda seremonial belaka. Event ini sukses menjelma menjadi ruang komunal yang mempertemukan masyarakat Jawa Barat dalam satu harmoni: menjaga, merawat, dan merayakan identitas tradisi mereka agar tetap lestari tak lekang oleh waktu.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










