Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Geruduk Balai Kota, HMI Bandung Tagih Janji Farhan-Erwin Selesaikan 10 Masalah Daerah

Kamis, 27 Agustus 2026 17:34 WIB

Muktamar ke-35 NU Dimulai, Ini 8 Tokoh yang Berebut Kursi Ketum PBNU

Kamis, 27 Agustus 2026 16:33 WIB

Uang Rp3 Miliar Dikuras Karyawan Sendiri, Vilmei Alami Trauma Berat dan Krisis Kepercayaan

Kamis, 27 Agustus 2026 16:27 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Geruduk Balai Kota, HMI Bandung Tagih Janji Farhan-Erwin Selesaikan 10 Masalah Daerah
  • Muktamar ke-35 NU Dimulai, Ini 8 Tokoh yang Berebut Kursi Ketum PBNU
  • Uang Rp3 Miliar Dikuras Karyawan Sendiri, Vilmei Alami Trauma Berat dan Krisis Kepercayaan
  • Ramon Tanque Dipinjamkan Persib, Persita Tangerang Jadi Kandidat Terkuat?
  • Bosan ke Tempat Nongkrong? 3 Wisata Sejarah Bandung Ini Bikin Liburan Makin Berisi
  • Peluang Emas Lulusan SMA/SMK! BUMN Buka Lowongan Kerja Terbaru Agustus 2026, Cek Posisinya
  • Skandal Video Syur Oknum Guru di Sukabumi: Berstatus PPPK, Terancam Dipecat
  • Pencarian Berakhir Pilu! Tiga Wisatawan Hilang di Pantai Santolo Ditemukan Meninggal
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 27 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Jejak Kontroversi ‘Ratu Sound Horeg’ Mala Agatha & Icha Chellow: Dari Panggung Lokal hingga Diancam Anisa Bahar

By Aga GustianaJumat, 10 Juli 2026 10:56 WIB7 Mins Read
Mala Agatha & Icha Chellow. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Dunia hiburan tanah air kembali diguncang oleh polemik yang melibatkan batas tipis antara kreativitas dengan eksploitasi. Belakangan ini, nama penyanyi dangdut Mala Agatha dan Icha Chellow menjadi sorotan tajam setelah aksi mereka meng-cover lagu milik Anisa Bahar berjudul “Gapapa” dengan mengubah liriknya menjadi kalimat yang dinilai vulgar dan tidak senonoh.

Kejadian ini seolah menjadi puncak dari gunung es perilaku sebagian pelaku konten yang dituding menghalalkan segala cara demi popularitas instan di media sosial. Fenomena ini pun memicu kemarahan publik, termasuk tokoh publik dan anggota DPR RI, Atalia Praratya, yang melihat pola perendahan terhadap harkat dan martabat perempuan yang kian mengkhawatirkan. Lantas, siapakah sebenarnya sosok di balik fenomena ini dan mengapa polanya selalu berulang?

Profil dan Rekam Jejak Mala Agatha dan Icha Chellow

Untuk memahami mengapa aksi mereka begitu memicu kegaduhan, penting untuk melihat latar belakang kedua sosok ini. Keduanya bukanlah pendatang baru di dunia hiburan digital Indonesia, melainkan figur yang telah memiliki basis massa sendiri di jagat media sosial.

Icha Chellow, yang belakangan lebih banyak beraktivitas di dunia musik elektronik sebagai DJ, membangun popularitasnya melalui platform TikTok sejak tahun 2024. Ia dikenal publik dengan gaya energik dan gerakan khas yang disebut “DJ Usruk-Usruk”—sebuah gerakan menendangkan kaki ke arah tanah yang menjadi ciri khas panggungnya. Icha cukup sering tampil meramaikan acara-acara sound horeg di Jawa Timur, sebuah fenomena komunitas sound system raksasa yang kerap mengundang kerumunan massa besar. Melalui akun Instagramnya, @ichachellow_real, ia aktif membagikan dokumentasi saat dirinya beraksi di balik turntable maupun di panggung karnaval. Namanya sering kali dikaitkan dengan konten-konten yang mengandalkan sensasi visual dan musik koplo yang dipadukan dengan gaya electronic dance music (EDM).

Sementara itu, Mala Agatha memiliki jalur karier yang bersinggungan erat dengan Icha, terutama dalam proyek-proyek kolaborasi musik yang kontroversial. Mala dikenal sebagai penyanyi yang sering membawakan lagu-lagu dangdut koplo dengan gaya panggung yang atraktif. Mala memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai tren yang sedang hangat di media sosial. Kombinasi antara Mala dan Icha sering kali menjadi magnet bagi audiens netizen yang menyukai konten-konten musik yang tengah tren di daerah. Namun, kemitraan keduanya kerap kali membawa mereka ke dalam pusaran masalah etika, di mana ambisi untuk tetap relevan di mata audiens media sosial sering kali berbenturan dengan nilai-nilai kesopanan dan norma sosial yang berlaku di masyarakat. Mereka tampak selalu mencari “celah” untuk menunggangi tren agar tetap menjadi pusat pembicaraan, meskipun cara yang ditempuh sering kali kontroversial.

Baca Juga:  Efek Podcast Sahara, Denny Sumargo Kena Hujat Netizen: Bawa Anak Bini Gue Lagi

Suara Netizen: Antara Keheranan dan Keprihatinan

Viralnya kasus cover lagu “Gapapa” ini memicu gelombang reaksi keras dari masyarakat luas. Di berbagai platform media sosial, netizen tampak tidak habis pikir dengan pola perilaku kedua penyanyi tersebut yang seolah tidak pernah kapok meski telah berulang kali terjerat masalah.

Banyak netizen yang heran melihat dukungan yang masih mengalir kepada keduanya. “Anehnya banyak banget yang ngefans sama Icha Chellow,” ujar seorang netizen yang merasa bingung dengan fenomena popularitas tersebut. Kekesalan publik semakin memuncak saat melihat bagaimana pembelaan diberikan oleh pendukung fanatik mereka. “Mereka dibela sama fans-fans horeg, katanya mereka hanya talenta yang mengikuti manajemen. Duh, miris banget asli. Bacanya di aplikasi sebelah,” ungkap netizen lain yang menyoroti betapa sulitnya meluruskan etika jika para pendukung justru menormalisasi perilaku tersebut. Tidak sedikit pula netizen yang baru mengetahui rekam jejak mereka dan merasa terkejut. “Baru dengar ini… Astagfirullah. Pahit, pahit, paitttt!” tulis netizen lainnya, menyiratkan rasa muak terhadap konten-konten yang dianggap merusak moral tersebut.

Kontroversi yang Berulang: Dari Makam hingga Suku Dayak

Rekam jejak kedua penyanyi ini memang dipenuhi dengan catatan kontroversial. Pada tahun 2025, mereka pernah menuai kecaman hebat akibat lagu berjudul “Iclik Cinta”. Bukan hanya karena liriknya yang dianggap bermasalah, namun lokasi pengambilan gambar video klip tersebut dilakukan di area makam sang proklamator, Bung Karno, di Blitar, Jawa Timur. Publik menilai aksi berjoget di area makam pahlawan nasional merupakan tindakan yang tidak beretika dan melukai kehormatan sosok proklamator.

Sadar bahwa aksinya memicu kemarahan luas, Mala Agatha sempat memberikan permohonan maaf dan menghapus video tersebut. “Saya, Mala Agatha, atas nama pribadi dan perwakilan manajemen, memohon maaf sebesar-besarnya, khususnya kepada Perpustakaan Bung Karno dan juga warga masyarakat Kota Blitar,” ungkapnya kala itu. Namun, permohonan maaf tersebut tampaknya tidak menjadi pelajaran berharga bagi mereka untuk berhenti mengejar sensasi negatif.

Baca Juga:  Bisa Tidur Nyenyak, Ini Alasan Pak Bas Singkap Baju Erick Thohir saat Upacara HUT RI

Jauh sebelumnya, pada tahun 2023, Mala Agatha juga sempat terseret dalam polemik serupa saat membawakan lagu “Tagal haranan duit dan jabatan”. Ia mengenakan atribut khas suku Dayak sembari menirukan sosok Ida Dayak yang kala itu sedang viral. Aksi tersebut memicu amarah dari masyarakat adat karena dianggap sebagai bentuk ejekan terhadap budaya tertentu. Saat itu, Mala berdalih hanya mengikuti tren viral, sebuah alasan yang tetap tidak dapat diterima oleh banyak pihak yang merasa budaya dan sosok tertentu telah dieksploitasi untuk kepentingan komersial pribadi.

Teguran Keras Anisa Bahar hingga Jalur Hukum

Puncak keresahan terhadap perilaku kedua penyanyi ini terjadi saat mereka mengunggah video cover lagu “Gapapa” milik Anisa Bahar. Dalam video tersebut, lirik asli diubah menjadi kata-kata yang menjurus pada pornografi dan konten tidak senonoh. Anisa Bahar, yang merasa nama baiknya dan karya ciptanya dirusak, memberikan teguran keras di media sosial.

Anisa Bahar dengan tegas menolak cara-cara “kreatif” yang tidak edukatif. “Mau viral cara loe gak gini. Ini enggak pantas dan tidak mendidik kata-katanya,” tulis Anisa melalui akun Instagram pribadinya. Ia memberikan tenggat waktu 3×24 jam untuk itikad baik dari pihak terkait. Namun, karena tidak adanya respon yang memuaskan, langkah hukum pun diambil.

Pada 8 Juli 2026, melalui Aliansi Madura Indonesia, Anisa Bahar secara resmi mengadukan Icha Chellow dan Mala Agatha ke pihak kepolisian. Laporan ini didasari pada dugaan pelanggaran penggunaan bahasa yang tidak sopan serta unsur pornografi. Anisa menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk memberikan efek jera agar tidak ada lagi karya anak bangsa yang dipelintir menjadi sarana merusak moral generasi muda. “Mami akan segera proses masalah ini supaya ada efek jera buat mereka. Karena lagu ini sudah sangat merusak sekali, bukan cuma mami tapi juga anak-anak bangsa Indonesia,” tambahnya dengan tegas.

Refleksi: Mengapa Etika Harus Diutamakan?

Kegelisahan atas fenomena ini juga dirasakan oleh anggota DPR RI, Atalia Praratya. Baginya, perilaku Mala dan Icha merupakan cerminan dari merosotnya standar etika dalam berkarya. “Demi viral, perempuan mencomot lagu milik orang lain lalu dirubah liriknya dengan kata-kata tidak senonoh… Tidak habis pikir, ada perempuan-perempuan yang merendahkan diri mereka sendiri seperti ini,” tegas Atalia melalui akun Instagramnya.

Baca Juga:  Viral! Video Pengendara Motor di Bandung Diduga Acungkan Senjata Api

Atalia menekankan bahwa tindakan semacam ini bukan hanya merusak moral, tetapi juga secara tidak langsung merendahkan kaum perempuan itu sendiri. Ia mengajak masyarakat untuk berhenti memberikan “panggung” atau perhatian kepada pihak-pihak yang gemar membuat konten negatif. “Jangan beri panggung, jangan beri ruang, jangan beri popularitas bagi mereka dan perempuan-perempuan perusak moral lainnya!” serunya.

Di sisi lain, perdebatan mengenai batasan etika dalam berkarya ini juga menyentuh ranah pejabat publik. Sebagai pengingat, masyarakat sempat menyoroti lagu berjudul “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” ciptaan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau Om Zein. Lagu tersebut dikritik tajam oleh berbagai pihak, termasuk Atalia, karena liriknya dinilai merendahkan martabat perempuan dengan membandingkan beban biologis perempuan sebagai bahan lelucon. Baik dalam kasus para kreator konten seperti Mala dan Icha, maupun kasus pejabat daerah, narasi yang merendahkan martabat perempuan adalah cerminan dari budaya patriarki yang perlu dilawan.

Rentetan kejadian ini membawa kita pada pertanyaan besar: ke mana arah industri kreatif kita ketika “viral” menjadi satu-satunya mata uang yang berharga? Kasus Mala Agatha dan Icha Chellow, serta diskursus mengenai karya Om Zein, menunjukkan adanya krisis empati dan literasi etika yang serius. Ketika sebuah konten sengaja diciptakan untuk mengeksploitasi simbol-simbol sensitif demi keuntungan pribadi, maka yang terjadi adalah degradasi moral kolektif.

Pada akhirnya, tanggung jawab tidak hanya terletak pada penegak hukum, tetapi juga pada audiens. Viralitas adalah kekuatan yang diberikan oleh penonton. Dengan berhenti memberikan perhatian bagi konten-konten yang merendahkan, masyarakat dapat menjadi filter pertama dalam menjaga ruang digital yang lebih sehat dan beradab. Sebab, martabat tidak bisa ditukar dengan jumlah penonton, dan etika adalah harga mati yang tidak bisa dikompromikan oleh tren apa pun. Masyarakat kini dituntut lebih bijak dalam menentukan apa yang layak dikonsumsi, agar ruang publik tidak terus-menerus terpolusi oleh konten yang merusak tatanan nilai bangsa.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

viral
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bosan ke Tempat Nongkrong? 3 Wisata Sejarah Bandung Ini Bikin Liburan Makin Berisi

Peluang Emas Lulusan SMA/SMK! BUMN Buka Lowongan Kerja Terbaru Agustus 2026, Cek Posisinya

Siap-siap Aturan Baru Beli LPG 3 Kg: Pakai Data Desil, Ini Daftar Tingkatannya

Kode Redeem FF

Jangan Sampai Telat! Kode Redeem Free Fire Terbaru, Hadiah M1887 Menanti

Harga Emas Antam Hari Ini 27 Agustus 2026 Anjlok, 1 Gram Turun Rp18 Ribu

Demo Jakarta

Senayan Berpotensi Macet Total! Pantau Titik Demo DPR Hari Ini Lewat Link CCTV Berikut

Terpopuler
  • Janji Penguatan UMKM Dipertanyakan di Tengah Masifnya Penertiban PKL Kota Bandung
  • Mengenang 50 Tahun Kebersamaan, Alumni ITB 76 Unjuk Budaya Lokal Lewat Karnaval Sisingaan di Bandung
  • Garena Free Fire
    Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
  • Lepas Saat Dijemur, Pitbull Ngamuk Serang Anak 9 Tahun di Arjasari Bandung
  • Loyalis Fanatik Mulai Tergerus, Warga Makin Berani Kritik Dedi Mulyadi!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.