bukamata.id – Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung, yang lebih dikenal dengan nama Whoosh, merupakan layanan kereta api penumpang berkecepatan tinggi pertama di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Layanan ini menghubungkan Jakarta dan Bandung dalam waktu sekitar 33 menit, dengan kecepatan maksimal mencapai 350 km/jam. Whoosh menghadirkan pengalaman perjalanan modern dan efisien dengan fasilitas terintegrasi, mulai dari beberapa kelas layanan hingga gerbong makan.
Layanan ini dioperasikan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), di mana 60 persen saham dimiliki oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan sisanya oleh China Railway International Co. Ltd. melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd. Jalur ini merupakan fase pertama dari rencana jaringan kereta cepat di Pulau Jawa.
Sejarah Nama dan Logo Whoosh
Nama Whoosh terinspirasi dari onomatope bahasa Inggris untuk suara benda melaju kencang, yang sekaligus merupakan singkatan dari “Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat”.
Logo Whoosh lahir dari sayembara yang diikuti berbagai perusahaan desain grafis. Dari sepuluh peserta, tersaring tiga finalis, dan logo pemenang diumumkan bersamaan dengan peresmian layanan pada 2 Oktober 2023. Logo tersebut, karya studio Visious, menampilkan logogram berbentuk huruf W yang menggambarkan lesatan kereta cepat, disertai tulisan “Whoosh” dengan desain huruf kokoh.
Selain logo dan warna, KCIC juga meluncurkan jenama audio, berupa jargon yang diucapkan di dalam kereta:
“Whoosh, whoosh, whoosh, yes!”
Whoosh dirancang untuk memberikan solusi transportasi cepat, meningkatkan kenyamanan, dan memangkas waktu perjalanan antara Jakarta dan Bandung. Saat ini, frekuensi operasionalnya mencapai 62 perjalanan pulang-pergi per hari (31 arah Bandung dan 31 arah Jakarta). Layanan ini juga menawarkan First Class, Business Class, dan Premium Economy yang lengkap dengan fasilitas modern.
Utang Membengkak dan Tekanan ke KAI
Meski menjadi ikon kecepatan, proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh menghadapi tekanan finansial serius. Utang proyek kini mencapai Rp 116 triliun (sekitar 7,2 miliar USD), menimbulkan beban bagi PT KAI dan konsorsium BUMN yang terlibat. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyatakan:
“Kami akan koordinasi dengan Danantara untuk masalah KCIC ini, terutama kami dalami juga. Ini bom waktu,” saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Dalam laporan keuangan PT KAI per 30 Juni 2025 (unaudited), anak usaha KAI, PSBI, mencatat kerugian Rp 4,195 triliun pada 2024, dan Rp 1,625 triliun pada semester I 2025. Sebagai pemegang saham mayoritas KCIC, PSBI menanggung langsung beban utang proyek, sehingga empat BUMN pemegang saham PSBI ikut menanggung kerugian besar ini.
Komposisi saham PSBI terdiri dari:
- KAI: 58,53%
- PT Wijaya Karya (Persero) Tbk: 33,36%
- PT Jasa Marga (Persero) Tbk: 7,08%
- PTPN VIII: 1,03%
Sementara pihak China melalui konsorsium China Railway, yang terdiri dari lima perusahaan, memegang 40 persen saham KCIC.
Sorotan DPR
Ketua Komisi VI DPR RI, Anggia Emarini, menilai: “Kereta Api sebenarnya tinggi, bisa laba, tapi karena punya Whoosh jadinya defisit.”
Senada, anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto, menambahkan: “Itu kalau dihitung 2025, itu bisa beban keuangan dan dari kerugian KCIC bisa capai Rp 4 triliun lebih. Dari beban KCIC sendiri sudah Rp 950 miliar, dikalikan dua sudah Rp 4 triliun lebih.”
Darmadi memperingatkan, jika utang KAI tidak segera diatasi, angka tersebut bisa menembus Rp 6 triliun pada 2026.
Sementara itu, anggota Komisi VI DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, menyebut bahwa KAI telah menyuntikkan modal besar ke PSBI sejak awal 2025.
“Termasuk dalam proyek strategis nasional, menghabiskan investasi sebesar 7,2 miliar dollar AS atau setara Rp 116 triliun. Kerugian semester I-2025 mencatat Rp 1,65 triliun dari investasi di PSBI. Tahun 2024, kerugiannya Rp 4,195 triliun.”
Sebagian besar pembiayaan proyek kereta cepat ini berasal dari pinjaman China Development Bank, ditambah penyertaan modal pemerintah dan kontribusi konsorsium BUMN Indonesia serta perusahaan China.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










