bukamata.id – Di balik mimpi setiap pasangan yang ingin merayakan pernikahan dengan hangat dan sempurna, terselip kisah kelam yang kini menyeret nama Ayu Puspita, pemilik sebuah wedding organizer (WO) yang diduga menipu ratusan calon pengantin di Jakarta. Kasus ini bukan sekadar persoalan pelayanan yang mangkrak, melainkan rangkaian praktik bisnis yang berujung pada kerugian besar serta trauma mendalam bagi para korban—banyak di antara mereka yang telah menabung bertahun-tahun demi hari bahagia yang hanya terjadi sekali seumur hidup.
Rumah mewah, liburan luar negeri, dan skema yang runtuh
Dalam pengakuannya yang beredar di media sosial, Ayu Puspita mengungkap bahwa manajemen keuangan perusahaannya berantakan. Ia menggunakan dana dari klien baru serta pemasukan dari pameran pernikahan untuk menutupi tanggungan acara sebelumnya. Skema yang dijalankannya disebut-sebut mirip pola ponzi, sebuah sistem yang selalu menunggu korban baru untuk membayar kewajiban lama.
“Saya menggunakan sebagian dana untuk membayar uang muka rumah, tapi sedang berusaha menjual rumah tersebut untuk mengembalikan uang klien,” ujar Ayu.
Pengakuan itu membuat publik terkejut, terlebih karena dana para klien disebut digunakan untuk kepentingan pribadi seperti membeli rumah mewah dan berlibur ke luar negeri. Bagi banyak korban, pernyataan tersebut menjadi bukti bahwa kasus ini bukan sekadar kelalaian, melainkan penyalahgunaan kepercayaan yang sangat serius.
Harapan yang berubah menjadi luka
Ratusan pasangan yang terdampak menuturkan bagaimana acara pernikahan mereka berubah menjadi pengalaman traumatis. Beberapa bahkan telah menyiapkan tabungan sejak bertahun-tahun, hanya untuk mendapati hari bahagia mereka runtuh di hadapan para tamu.
Salah satunya adalah cerita Samuel, korban yang menikah pada 6 Desember 2025 di Gedung Pelindo, Jakarta Utara. Ia telah membayar lunas biaya sebesar Rp 82 juta. Namun, di hari pernikahannya, katering tak kunjung muncul.
“Meskipun sudah membayar lunas Rp 82 juta, katering tidak hadir dan tamu pulang lebih awal,” ujarnya. Keluarganya bahkan harus memesan makanan melalui GoFood demi menyelamatkan acara.
“Kami sudah booking villa di Bali untuk bulan madu, tapi sekarang harus fokus ke kasus penipuan ini,” tambah Samuel.
Sepupunya, Nana, yang ikut menyaksikan kekacauan di resepsi itu, menggambarkan suasana penuh kepanikan. “Acara sudah mulai, tapi katering sama sekali tidak ada. Keluarga harus inisiatif pesan makanan dadakan,” ungkapnya.
Menurut Nana, kedua mempelai menangis di pelaminan, sementara orang tua mereka terlihat syok. Situasi yang seharusnya penuh sukacita berubah menjadi momen memilukan yang tidak akan terlupakan.
Geruduk rumah mewah Ayu Puspita
Ketika kasus ini meledak di media sosial, banyak korban bergerak mendatangi rumah Ayu Puspita untuk menuntut pertanggungjawaban. Namun, kedatangan mereka justru mengungkap fakta baru: rumah mewah tersebut bahkan tidak diketahui oleh RT/RW setempat.
Salah satu pengguna media sosial menuliskan, “Tadi sudah ke rumah Ayu Puspita WO penipu, ternyata ini rumah baru ditempatin beberapa bulan. Bahkan RT RW nggak tahu dia tinggal di situ karena baru. Jangan-jangan duit gue dan ratusan korban lain dipakai buat beli rumah sama dia, rumahnya gede banget coy.”
Kehadiran para korban di rumah itu memicu banyak reaksi dari publik. Sebagian pengguna media sosial mengecam keras tindakan Ayu, sementara yang lain menyampaikan pandangan bernada getir mengenai konsekuensi moral dari tindakan seperti ini.
“Karma, kalau nggak turun di dia, akan turun ke anak cucunya…” tulis pengguna lain.
Ada pula komentar yang pesimistis terhadap peluang uang korban kembali, mengingat banyak kasus serupa berakhir tanpa penggantian dana.
Puncak kekacauan: pesta tanpa makanan
Kejadian paling mencolok yang menyeruak ke publik adalah resepsi yang berlangsung tanpa katering—sebuah kegagalan fatal dalam industri wedding organizer. Peristiwa pada 6 Desember 2025 itu memunculkan banyak keluhan serupa dari pasangan lain yang menikah pada tanggal yang sama.
Sementara itu, sebuah video penangkapan Ayu Puspita viral di Instagram. Dalam rekaman yang diunggah @jabodetabek24info, Ayu terlihat digerubungi masyarakat saat hendak masuk ke Polda Metro Jaya.
“Di sini ada delapan orang yang kena tipu!” teriak salah satu korban dalam video tersebut.
Ayu, yang tampak mengenakan kerudung hitam dan kemeja garis biru-putih, berusaha memberikan penjelasan. Ia menyebut tidak menggunakan vendor dan hanya membayar pekerja karena sebagian besar dekorasi adalah miliknya.
“Karena saya punya barang sendiri seperti untuk dekor saya jadi tidak pakai vendor, saya hanya bayar pekerjanya saja,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai nasib uang klien, Ayu menjawab, “Untuk mengumpulkan dananya lagi ke depannya saya melakukan penjualan-penjualan… jadi saya tidak pakai vendor mas, jadi seperti itu.”
Polisi turun tangan, publik menuntut keadilan
Kasus penipuan WO Ayu Puspita kini ditangani pihak kepolisian. Samuel menyebut bahwa Ayu sempat dilaporkan ke Polda Metro Jaya, namun kala itu dipulangkan sementara karena pelapor harus pergi berbulan madu. Namun tak lama kemudian, korban lainnya menggerebek Ayu dan suaminya di rumah kontrakan mereka di Jakarta Timur.
“Sekarang dibawa ke Polres Jakarta Utara,” kata Samuel.
Nana, yang sepupunya menjadi korban, menceritakan bagaimana katering tak memberikan kepastian saat dihubungi. “Bilangnya sudah dekat tapi minta sherlok nggak dikasih,” tuturnya.
Akhirnya keluarga mempelai harus memesan makanan dadakan dari berbagai aplikasi. “Datang makanan kebab, pizza begitu. Tapi nggak cukup, tamunya banyak,” katanya.
Suasana resepsi pun berubah menjadi kepanikan dan kesedihan. Orang tua kedua mempelai sampai turun panggung sebelum acara selesai karena shock berat.
Pelajaran pahit bagi calon pengantin
Kasus Ayu Puspita menjadi peringatan keras bagi pasangan yang sedang merencanakan pernikahan. Kredibilitas WO, kontrak kerja sama, dan reputasi vendor harus benar-benar diteliti sebelum melakukan pembayaran, terlebih sebelum melunasi biaya dalam jumlah besar.
Ratusan pasangan berharap uang mereka dapat kembali. Namun harapan itu kini bergantung pada proses hukum yang sedang berjalan.
Meski Ayu Puspita mengaku berusaha menjual rumah mewahnya demi mengganti kerugian, sebagian korban masih ragu akan kejelasan masa depan mereka. Yang pasti, kisah ini telah meninggalkan luka yang tak mudah sembuh, sekaligus membuka mata banyak orang tentang pentingnya kehati-hatian dalam memilih penyedia jasa di momen sepenting pernikahan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











